SUMPAH POCONG, Haruskah?


Prof Dr Suteki, SH, M.Hum     

#justkidding

by John Suteki

Kegiatan Besok Pagi:

Hari/tgl : Kamis/ 31 Mei 2018
Pukul : 10.00 WIB
Tempat : Ruang Senat Gedung SA-MWA Lantai 3 Kampus Undip Tembalang.
Acara : Klarifikasi dengan Dewan Kehormatan Kode Etik (DKKE) Senat Akademik Undip.

Terima kasih Pak Rektor dan Ketua Senat Akademik Undip yang telah memberikan panggung kepada saya untuk mengklarifikasi dugaan adanya pelanggaran KODE ETIK ASN oleh saya. Dugaan pelanggaran itu lebih ke arah indikasi antiPancasila dan antiNKRI lantaran tulisan-tulisan saya di FB dan kehadiran saya menjadi AHLI di PTUN dlm kasus gugatan pencabutan BADAN HUKUM HTI.

Akan saya klarifikasi bahwa:

(1) Saya bukan AntiPancasila (Riilnya 24 tahun saya mengajar Pancasila dan Filsafatnya);

(2) Saya juga bukan AntiNKRI (Riilnya saya tidak pernah makar, merongrong kedaulatan negara dgn gerakan atau mengangkat senjata, mengajarkan bagaimana rela berkorban dan membela kebenaran dan keadilan di bumi pertiwi Indonesia);

(3) Saya juga bukan anggota HTI dan belum pernah menjadi anggota HTI (Riilnya syarat untuk menjadi anggota HTI sangat ketat dan berat).

(4) Khilfah tetap saya yakini sbg bagian dari ajaran Islam (Riilnya baik sejarah maupun materi ajarnya tersebar dlm fikih syiyasah). Soal sistem pemerintahan ini tdk kompatibel dengan keadaan Indonesia sekarang, itu persoalan lain. Karena kita menyepakati memilih sistem pemerintahan demokrasi. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak apalagi gerakan radikalisme.

Meski saya hadir dalam sidang MK dan PTUN Jakarta, terlalu prematur untuk men-judge bahwa saya adalah anggota HTI. Bukan. Kehadiran saya lebih dimaknai sebagai seorang ahli yg peduli terhadap penerapan Ilmu Hukum dan Masyarakat dan PANCASILA sebagai Ilmu Pengetahuan. Sebagai Ahli tentu tidak bisa diartikan sebagai pihak yang membela mati-matian melainkan bersikap adil juga kepada pihak lainnya. Ketika saya menjadi ahli, semua pihak secara fair boleh bertanya kepada ahli.

Pertanyaan yg muncul:

Apakah seorang advokat yg mendampingi proses hukum kasus korupsi itu berarti ia setuju dengan korupsi ataukah kita juga nyebut advokat itu seorang korupsi? Tidak bukan?

Nah, apalagi seorang profesor seperti saya ini yang menjadi ahli karena kepeduliannya atas penerapan ilmunya sendiri dlm kasus gugatan HTI lalu secara pematur di-judge sbg anggota HTI?

Oh, my God…!

My friendz, kira-kira hal itulah yang hendak saya terangkan ke khalayak ramai tentang WHO AM I?

Namun, akankah hal ini akan terjadi:

Kepada pecinta, cukup satu dalil atau dalih sudah mampu meyakinkannya, sedang…

Kepada pembenci, seribu dalil dan atau dalih tampaknya tidak cukup mampu meyakinkannya.

Haruskah aku sumpah pocong untuk meyakinkan orang? Lalu, siapa yg mau disumpah pocong?

Semoga tidak begitu adanya. Semoga Alloh memudahkan dan memberkahi ibadah dan muamalah kita. Aamiin.

Quote:

Honeste vivere (Jujur dalam hidupmu)
Alterum non laedere. (Tdk merugikan orang lain)
Suum cuique tribuere (Berbuat adil).
(Thomas Aquinas).

Sumber : https://www.facebook.com/princee.suteki/posts/372147973295837

Baca juga : 

Yusril: Menristekdikti Radikal

Ribuan Orang Teken Petisi Tolak Penonaktifan Prof Suteki ‘Sang Guru Besar Pancasila’

PROF SUTEKI dan PERAN KENABIAN

Suteki, Pancasilais Sejati yang Terzalimi

Profesor Suteki Bantah Persepsi Dirinya adalah Anggota HTI

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.