Daya Saing Inovasi Rendah, Indonesia Peringkat ke-87 dari 137


Menristekdikti Mohamad Nasir

Oleh Dhita Seftiawan
5 July, 2018 – 15:21

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi merilis, daya saing inovasi Indonesia masih rendah. Dari 137 negara yang disurvei Global Competitiveness Report, Indonesia menduduki peringkat ke-87. Tingkat Kesiapan Teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) mayoritas produk inovasi dari Indonesia berada pada skala 1-3. Kondisi tersebut membuat daya saing Indonesia di tingkat ASEAN juga masih kalah dari Singapura dan Malaysia.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, rendahnya daya saing inovasi membuat produk teknologi dari Indonesia sulit diserap oleh dunia usaha dan industri. Menurut dia, jika tak mampu meningkatkan daya saing, maka bonus demografi pada 2030 tak akan mendatangkan manfaat bagi kondisi ekonomi nasional.

Bonus demografi 2030 jangan sampai menimbulkan petaka. Makanya harus dipersiapkan dari sekarang. Mengubah pola pikir menjadi tahap awal menuju peningkatan daya saing tersebut. Misalnya, para pejabat di kementerian dan lembaga jangan lagi minta dilayani, tetapi melayani. Jika pola pikir sudah berubah, perilaku akan berubah. Ini yang diinginkan Nawacita presiden, revolusi mental,” kata Nasir setelah menghadiri seminar Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia, Making Indonesia 4.0, di Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018.

Revolusi industri 4.0

Ia mengatakan, daya saing semua negara akan semakin ketat dengan datangnya revolusi industri 4.0. Disrupsi inovasi teknologi akan memengaruhi tatanan ekonomi, sosial dan politik semua negara. Ia menegaskan, jika sumber daya manusia Indonesia tak siap menghadapi perubahan, prediksi Indonesia akan jadi negara ke-4 dengan perekonomian terkuat di dunia hanya menjadi angan-angan.

“Walaupun sekarang era digital, tetap manusia yang mengontrolnya. Menggabungkan digital basic dan manusia perlu dilakukan kepada seluruh elemen, dimulai dari pejabat. Namun ada beberapa hal yang lebih penting. Ternyata untuk mengubah perilaku dalam merespon perubahan digital ini, tidak semua orang merespon dengan baik,” ujarnya.

Ia menyatakan, Cina menjadi satu dari puluhan negara yang paling baik dalam merespons datangnya revolusi industri 4.0. Melalui program Made In China 2025, negara berpenduduk lebih dari 2 miliar jiwa tersebut sangat fokus pada perkembangan riset dan pemanfaatan inovasi teknologi. “Kita baru mulai dipersiapkan tahun ini, melalui Making Indonesia 4.0. Semua kementerian dan lembaga harus bersinergi, diawali dengan mengubah mindset,” ucapnya.

Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional Agus Widjojo menegaskan, jika program Making Indonesia 4.0 gagal diimplementasikan dengan baik, ketahanan nasional akan rapuh. Pertumbuhan ekonomi bisa menurun karena daya saing sumber daya manusianya rendah. “Kepemimpinan menjadi kunci, dalam konteks sistem. Harus ditekankan kepada kerja sama, bukan lagi kerja individu,” ujar Agus.

Agus menyatakan, kesadaran individu terhadap perubahan zaman memicu revolusi teknologi semakin bergerak cepat. Menurut dia, tidak ada piliha lain, manusia harus mulai beradaptasi dengan teknologi. “Kalau tak mengubah pola pikir, perilaku tak akan berubah juga dan akhirnya tak sesuai dengan kebutuhan masa depan. Daya saing akan terus rendah, akibatnya ketahanan kita akan meleset karena solusinya (menghadapi revolusi industri 4.0) pun tidak mengena. Jadi tidak akan efektif dalam menyelesaikan setiap masalah,” ucapnya.***

Sumber : Pikiran Rakyat

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.