Kualitas Diaspora Indonesia Tertinggal Jauh dari Negara Lain

Oleh: Dhita Seftiawan
25 July, 2018 – 16:43

Ilustrasi/CANVA

JAKARTA, (PR).- Ketua Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4) Deden Rukmana mengatakan, kualitas dan kuantitas diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai ilmuwan masih jauh dibandingkan dengan ilmuwan diaspora Cina, India atau pun Korea Selatan. Kendati demikian, hal tersebut tak akan menjadi sebuah hambatan besar dalam upaya meningkatkan kolaborasi riset antara diaspora dan ilmuwan dalam negeri.

Deden Rukmana mengatakan, pemerintah hanya perlu mengeluarkan kebijakan strategis dan berkelanjutan yang bisa menjembatani kepentingan diaspora dan ilmuwan dalam negeri. Jika jembatan tersebut sudah kokoh dibangun, budaya riset nasional akan lebih berkualitas.

“Pengamatan kami, selama ini menunjukkan bahwa ilmuwan diaspora Indonesia akan dengan senang hati berbuat untuk kemajuan Tanah Air sejauh ada media bagi mereka untuk berkiprah. Saya melihat potensi besar yang dapat diperankan ilmuwan diaspora untuk kemajuan iptek dan sumber daya manusia Indonesia,” kata Deden dalam siaran pers di Jakarta, Rabu 25 Juli 2018.

Deden juga menilai, rencana menyelenggarakan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) pada Agustus nanti cukup baik. Menurut dia, SCKD bagian dari langkah strategis pemerintah dalam membangun pendidikan tinggi dan inovasi didalam negeri. I-4 mendukung penuh kegiatan tersebut.

“Bagi diaspora, kegiatan SCKD ini merupakan wadah berkontribusi dan berbagi, sekaligus berpartisipasi pada pembangunan Indonesia. Acara tersebut selain sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada segenap anak bangsa, pada sisi lain seperti open market, di mana konsultasi, transaksi, dan negosiasi gagasan akademis dibincangkan,” ujar diaspora yang berkiprah di Amerika Serikat ini.

Tersebar

Ia menuturkan, diaspora Indonesia tersebar di seluruh dunia, seperti di Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa, Jepang dan Australia. Menurut dia, di AS saja, tercatat 89 ilmuwan diaspora telah bergelar Ph.D. yang mengajar dan bekerja universitas maupun lembaga riset di sana.

“Angka ilmuwan diaspora ini pasti akan terus bertambah seiring dengan intensitas kami dalam mendata mereka. Kami akan mengajak mereka untuk bersinergi dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri. Ini adalah salah satu misi I-4. Yakni memanfaatkan sebesar-besarnya potensi diaspora bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan SDM Indonesia, khususnya di perguruan tinggi,” ucapnya.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, program SCKD dapat menjadi jembatan bagi ilmuwan diaspora untuk kembali mengenal dunia keilmuan di negara mereka sendiri. Juga menjembatani ilmuwan dalam negeri untuk mengenal dunia keilmuan di luar negeri.

“Ilmuwan diaspora merupakan jembatan yang akan membawa ilmuwan dalam negeri menuju gerbang pengetahuan dunia. Keberadaan mereka juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat bertanya. Sekaligus berlindung oleh anak bangsa yang pergi menuntut ilmu ke negeri tempat mereka tinggal,” ujar Ali.

Ia mengakui, peran dan fungsi ilmuwan diaspora Indonesia selama ini kerap luput dari pandangan pemerintah. “Padahal inovasi dan publikasi mereka dalam peta ilmu pengetahuan dunia tak bisa diabaikan. Bukan sekadar dikutip atau dijadikan inspirasi, karya-karya atau publikasi mereka sudah banyak dipatenkan menjadi produk bernilai tinggi. Hanya saja kami yang terlambat menyadari keberadaan mereka sebagai garda depan bagi pembangunan bangsa,” katanya.***

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.