Akan Ada 120 Program Studi Baru pada 2019

0leh: Dhita Seftiawan
28 Oktober, 2018 – 14:39

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 120 program studi baru yang relevan dengan perkembangan zaman siap dibuka. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memastikan akan mempercepat proses pemberian izinnya sehingga bisa dimanfaatkan pada penerimaan mahasiswa baru 2019.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan, pengajuan perizinan untuk nama program studi bisa selesai dalam waktu seminggu.

Menurut dia, program studi yang akan dibuka disesuaikan dengan tujuan pembangunan jangka panjang terutama yang masuk dalam bidang science, technology, enggineering, matemathics (STEM).

“Senin (29 Oktober 2018) kami akan mengumpulkan serta menginstruksikan semua staf di Kemenristedikti terkait perubahan dan percepatan dalam pemberian izin program studi baru. Sehingga, 120 program studi yang kini tengah diproses pun bisa segera rampung. Jadi, izin-izin nama program studi itu bisa satu minggu selesai,” kata Patdono di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Jumat 26 Oktober 2018.

Dia mengimbau kepada semua perguruan tinggi yang hendak mengajukan program studi baru agar memastikan semua persyaratan terkumpul.

Ia menegaskan, kendati mengutamakan bidang STEM, kampus yang ingin membuka program studi bidang ilmu sosial humaniora juga akan dipertimbangkan.

“Banyak juga yang mengajukan program studi soshum itu tidak apa-apa,” ujarnya. Ia menjelaskan, dalam menghadapi era revolusi digital, semua kampus dituntut responsif dan inovatif. Perubahan yang cepat termasuk merevitalisasi program studi. Ia mengajak semua kampus untuk berani membuka program studi yang sebelumnya tak pernah diperkirakan.

“Seperti Universitas Indonesia membuka program studi Teknik Biomedik dan Akturia, Universitas Padjajaran membuka prodi Akturia dan Bisnis Digital,” katanya.

Visioner

Menristekdikti Mohamad Nasir menegaskan, program studi baru harus visioner dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, program studi baru harus sejalan dengan tantangan yang akan dihadapi para lulusan pendidikan tinggi di era revolusi industri 4.0.

Menurut dia, dalam empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, tak kurang 100 program studi baru sudah dibuka.

Program studi ini merupakan bagian dari upaya Kemenristekdikti menyiapkan sumber daya manusia berdaya saing global.“Presiden selalu mengingatkan agar mengembangkan program studi yang mengikuti perkembangan zaman.  Tidak lagi program studi seperti masa dulu yang konvensional,” ucap Mohamad Nasir.

Ia mencontohkan, ada beberapa perguruan tinggi yang memiliki program studi Animasi dan Komunikasi Visual. Dua program studi tersebut akan sangat berfungsi bagi generasi masa depan. “program studi ini kaitannya dari sistem informasi, diubah menjadi konsentrasi atau peregangan multimedia, kartun atau animasi. Ini sudah dilakukan,” katanya.

Selain itu, ada program studi Rekayasa Transportasi Laut, Bisnis Musik, maupun Manajemen Inovasi. program studi baru selanjutnya seperti Pengolahan Kopi yang dirintis Universitas Gajah Putih (UGP) Aceh. Prodi Film yang diusung oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN), dan Prodi Teknologi dan Kertas yang didirikan oleh Universitas Riau.

“Dulu kalau orang sekolah di seni musik, itu pasti mereka hanya keterampilan seni musiknya saja, tapi bagaimana seni dijadikan bisnis, ini kita sudah lakukan juga. Untuk program studi yang sedang dikembangkan Kemenristekdikti saat ini, di antaranya Sains Perkopian, Ekonomi Perkopian, dan Pendidikan Barista, dan Meme,” ujarnya.***

Sumber: Pikiran Rakyat