Kemenristekdikti Sudah Menghilangkan Aturan yang Menghambat Perkembangan Politeknik

indorama
Kabar KitaPURWAKARTA – Agar pendidikan vokasi semakin dihargai oleh masyarakat dan kalangan industri nasional, Kemenristekdikti sudah menghilangkan peraturan-peraturan yang menghambat perkembangan pendidikan tinggi tersebut.Salah satu upaya yang dilakukan adalah dimana Kemenristekdikti sudah membuat potret atau instrumen akreditasi yang sesuai untuk tujuan politeknik sebenarnya, yaitu untuk menyediakan lulusan yang siap diserap oleh industri.  Dalam hal ini, Kemenristekdikti bekerjasama dengan BAN-PT.Sekarang ini untuk melakukan akreditasi politeknik sudah menggunakan instrumen politeknik itu sendiri, sedangkan sebelumnya masih menggunakan instrumen univesitas.

Demikian poin penting yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo pada saat menyampaikan sambutannya di acara Wisuda Diploma 3 Angkatan III Politeknik Enjinering Indorama (PEI) di Purwakarta, Sabtu, 3 November 2018.

Karena dulu masih menggunakan instrumen universitas, maka sangat sulit bagi politeknik untuk mendapatkan akreditasi A. “Akibatnya,  dari 206 politeknik baru ada 3 politeknik terakreditasi institusi A, yaitu Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Bandung, dan Politeknik Negeri Semarang,” katanya lagi.

Patdono juga mengakui bahwa Pemerintah telah lama mengabaikan politeknik, sehingga masyarakat dan industri lebih menghargai pendidikan akademik dan gelar-gelar sarjana ketimbang pendidikan vokasi.

“Ke depan kita punya PR yang besar, bagaimana mengubah mindset masyarakat kita untuk lebih menghargai politeknik, terutama di industrinya. Kalau industrinya tidak memberikan penghargaan lebih untuk politeknik, politeknik tidak berkembang,” ujar Patdono.

Multi Entry Multi Exit (MEME)

Namun tidak hanya dalam akreditasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan industri. Melalui program multi entry multi exit (MEME), mahasiswa politeknik juga bisa mendapatkan fleksibilitas yang lebih besar untuk bekerja di industri, bahkan sebelum mahasiswa tersebut lulus.

Melalui program ini, mahasiswa juga dapat langsung bekerja setelah paling tidak dua tahun berkuliah dan apabila setelah itu mahasiswa tersebut punya waktu maka dia dapat melanjutkan kuliahnya lagi.

“Keluarnya boleh untuk akhir tahun kedua, ketiga, atau keempat. Kalau mahasiswanya itu keluar, pamit, saya tidak melanjutkan ke D3, D4. Saya D2 saja cukup, maka politeknik tanpa diminta wajib memberikan ijazah D2,” kata Patdono.

Mahasiswa yang sudah memiliki ijazah D2 misalnya nanti dapat melanjutkan sekolah lagi, apabila dia dapat membagi waktu untuk kuliah dengan waktu bekerja. “Setelah kurikulumnya diselesaikan dia bisa lanjutkan ke D3. Setelah D3 dia dapat pekerjaan, dia bisa keluar, maka politeknik harus berikan ijazah D3,” lanjut Patdono.

PEI menggelar Wisuda angkatan III bagi 92 mahasiswanya tahun Akademik 2018/2019. Dari 92 mahasiswa yang mengikuti wisuda tersebut berasal dari 3 Program Studi, yaitu Teknik Mesin 29 orang, Teknik Mekatronika 30 orang dan Teknik Elektro sebanyak 33 orang.

tom/rs

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.