Materi Ajar Harus Mendalam, Jika Pengurangan SKS Akan Diterapkan

Oleh: Dhita Seftiawan 9 Desember, 2018 – 21:15

Ilustrasi/CANVA.COM

JAKARTA, (PR).- Pengurangan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dosen dan materi ajar yang mendalam. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi juga harus meredefinisi kurikulum mata kuliah dasar umum (MKDU) selain terus melakukan perbaikan infrastruktur pendukung kegiatan perkuliahan.

Mantan Dosen Univeritas Padjadjaran yang sekarang mengajar di Northwestern University Amerika Serikat Luthfi Adam menyatakan, pengurangan SKS jangan mengurangi kualitas meteri perkuliahan. Menurut dia, kualitas akan terpenuhi jika mutu keilmuan dosen juga meningkat.

Pengurangan SKS harus ditindaklanjuti hingga memodifikasi materi ajar yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

“Emang harus dikurangi, tapi materi mata kuliah harus matang. Waktu di Unpad, saya ditunjuk jadi koordinator lokakarya kurikulum, tapi dosen-dosennya kebanyakan tidak mau merombak mata kuliah sampai ke level materi ajar. Kalau ini terjadi, mahasiswa yang akan dirugikan,” ucap Luthfi kepada “PR” dihubungi dari Jakarta, Minggu, 9 Desember 2018.

Ia menuturkan, kendala lain yang harus dihadapi untuk mengurangi SKS adalah sikap ego dosen. Menurut dia, pengurangan SKS berkorelasi dengan pendapatan dosen. Pemerintah harus bisa memastikan, pengurangan SKS tak berdampak signifikan terhadap pendapatan dosen.

“Saat saya melontarkan pengurangan SKS, karena ada mata kuliah yang secara isi materi sama, banyak dosen yang menolak. Mata kuliah pegangan dia gak mau dikurangi karena akan mengurangi pendapatannya. Jadi, jangan hanya mengurangi SKS, tapi pembobotan mata kuliah pun harus diperbaiki,” kata kandidat Ph.D bidang Sejarah ini.

Ia menilai, wacana Menristekdikti Mohamad Nasir untuk mengurangi SKS pada jenjang Sarjana dan Diploma sudah benar. Kendati demikian, jangan hanya mengadopsi sistem kuliah di luar negeri yang sudah memiliki infrastruktur dan mutu dosen yang baik.

Ia menegaskan, pengurangan SKS harus diimbangi dengan kompetensi dosen. “Minimal dosen-dosen dilatih bikin silabus yang baik,” katanya.

Senada dengan Luthfi, Rektor Universitas Katolik Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko setuju SKS dikurangi. Namun, khusus pada mata kuliah dasar umum.

Menurut dia, banyaknya jumlah SKS tidak hanya membebani, tapi juga membatasi mahasiswa dalam menyiapkan kompetensi yang bersifat soft skills.

“Setuju (dikurangi), karena selama ini mahasiswa dibebani oleh materi pembelajaran. Sebetulnya berapa persen sihyang akan masih diingat setelah lulus? Paling sekitar 20 sampai 30 persen saja sudah bagus,” kata Agustinus dalam seminar Catatan Akhir Tahun dan Atma Jaya Award “Indonesia 4.0 Teknologi dan Kepedulian Sosial” di Kampus Atma Jaya.

Ia menilai, pengurangan jumlah SKS dapat memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk memperbanyak praktik. “Sehingga kompetensi dari manusia itu harus dinaikkan kepada pengambil keputusan, men-design, planning, kemampuan kreativitas, karena itu tidak akan bisa ditake over oleh mesin, tapi kalau keterampilan yang teknis dan repetitif itu akan ditake overoleh mesin,” ucapnya.

Sebelumnya, Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan, pengurangan SKS merupakan satu dari beragam cara untuk meningkatkan daya saing lulusan perguruan tinggi. Menurut dia, jumlah 144 SKS pada jenjang sarjana dan 120 SKS untuk diploma terlalu banyak. Selain memberatkan mahasiswa, hal tersebut juga membebani jam mengajar dosen.

Dosen kerap keteteran dalam membagi waktu untuk menjalankan fungsi pendidik dan peneliti. Kendati demikian, Nasir belum memastikan pengurangan SKS tersebut akan mulai diterapkan kapan.

“Saya kira 120 SKS untuk sarjana dan 90 SKS untuk jenjang diploma itu sudah cukup. Di negara-negara maju seperti Inggris, jumlahnya sekitar segitu. Nah, kami sekarang sedang mengkaji, apa mungkin bisa mencontoh Inggris dan diterapkan di perguruan tinggi kita,” kata Nasir.***

Sumber : Pikiran Rakyat

Baca juga :

Adopsi Pendidikan Inggris, Jumlah SKS S1 Akan Dikurangi