Hilangnya Momentum
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/08/0441075/hilangnya.momentum

Rabu, 8 September 2010 | 04:41 WIB
Hikmahanto Juwana
Insiden 13 Agustus yang memengaruhi hubungan antara Indonesia dan Malaysia berakhir secara antiklimaks dengan pertemuan kedua negara di Kinabalu, Malaysia, pada 6 September lalu. Hasil pertemuan di Kinabalu masih jauh dari apa yang diharapkan oleh Presiden dalam pidatonya di Cilangkap yang dianggap banyak pihak lunak. Apa lagi, bila harapan publik yang kerap disuarakan oleh anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dijadikan patokan. Presiden dalam pidatonya mengharapkan dipercepatnya penuntasan terhadap batas wilayah di antara kedua negara. Dalam kata-kata Presiden, “Indonesia berpendapat bahwa perundingan menyangkut batas wilayah ini dapat kita percepat dan kita efektifkan pelaksanaannya.” Sementara, hasil pertemuan hanya mengintensifkan (membuat sering) pertemuan di antara kedua negara tanpa ada target kapan kesepakatan bisa dicapai.

…dst

Ganyang Malaysia?
Rabu, 8 September 2010 | 04:39 WIB
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/08/04394869/ganyang.malaysia

Susanto Pudjomartono
Unjuk rasa menentang Malaysia mengenai masalah perbatasan masih terus saja bermunculan di banyak tempat. Para pengunjuk rasa umumnya terdiri dari generasi muda. Pola unjuk rasa mereka umumnya membakar bendera Malaysia sembari menuntut agar Pemerintah Indonesia bersikap lebih “tegas” karena menganggap bahwa harga diri dan kedaulatan bangsa telah diinjak oleh negeri jiran tersebut. Cukup banyak yang bahkan menuntut agar kita kembali “mengganyang” Malaysia seperti pada 1960-an, malah kalau perlu berperang.Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang zaman konfrontasi itu?

…dst

Malaysia Tak Punya Dasar Tahan 5 Nelayan Indonesia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/08/025006/1437301/10/malaysia-tak-punya-dasar-tahan-5-nelayan-indonesia?n991102605

Rabu, 08/09/2010 02:50 WIB
Jakarta – Malaysia tidak mempunyai dasar yang kuat untuk memproses hukum 5 nelayan Indonesia yang ditangkap di perairan Kampung Sungai Udang di Seberang Prai Selatan. Sebab, kelima nelayan Indonesia belum memasuki wilayah laut Malaysia. “Untuk kasus 5 Nelayan yang ditangkap beberapa hari lalu, kita yakin proses penahanan dan proses hukum terhadap mereka tidak patut diteruskan. Penangkapan  bukanlah di wilayah laut territorial Malaysia, tapi laut ZEE,” ujar Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik, kepada detikcom, Rabu (8/9/2010). Riza yang mengikuti pertemuan antara tim Kemenlu dengan Malaysia berharap Malaysia memahami posisi tersebut. Apalagi, kelima nelayan Indonesia sedang dalam posisi mencari pertolongan karena kehabisan kerusakan kapal.

…dst

Kemlu Akan Dampingi 5 Nelayan yang Ditangkap Malaysia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/07/102551/1436557/10/kemlu-akan-dampingi-5-nelayan-yang-ditangkap-malaysia

Selasa, 07/09/2010 10:25 WIB
Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) akan memberikan bantuan pada 5 nelayan yang ditangkap polisi Malaysia di perairan Kampung Sungai Udang di Seberang Prai Selatan. Kemlu segera mengirimkan tim. “Akan ada pendampingan,” kata juru bicara Kemlu Teuku Faizasyah saat dihubungi detikcom, Selasa (7/9/2010). Saat ini tim dari KBRI di Malaysia sudah bergerak untuk mengecek kondisi 5 nelayan tersebut. “Sedang melakukan pengecekan,” ujarnya. Lima nelayan Indonesia ditangkap di perairan Kampung Sungai Udang di Seberang Prai Selatan dengan tuduhan melanggar wilayah Malaysia.

…dst

Perundingan RI-Malaysia
Indonesia Sia-sia Berunding di Kinabalu
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/07/23182568/Indonesia.Sia.sia.Berunding.di.Kinabalu

Selasa, 7 September 2010 | 23:18 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat menyelesaikan segala persoalan di antara kedua negara melalui jalur diplomasi dan perundingan dengan mengedepankan asas kesetaraan dan saling menghormati. Kesepakatan ini dihasilkan dalam pertemuan joint commission for bilateral cooperation (JCBC) antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia di Kota Kinabalu, Malaysia, Senin (6/9/2010). Delegasi Indonesia dipimpin Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, sementara Malaysia dipimpin Menteri Luar Negeri Dato’ Sri Anifah bin Haji Aman. Sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri Indonesia, pertemuan berlangsung produktif. Kedua negara sepakat menghindari insiden 13 Agustus 2010 terulang pada masa mendatang. Insiden yang dimaksud adalah peristiwa penangkapan petugas patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh polisi Malaysia. Peristiwa ini menyulut ketegangan di antara kedua negara.

…dst

Bilateral
Inilah Hasil Perundingan Kinabalu
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/07/1211399/Inilah.Hasil.Perundingan.Kinabalu

Selasa, 7 September 2010 | 12:11 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, menegaskan Indonesia sia-sia mengikuti perundingan antarmenlu atau Joint Commission for Bilateral Cooperation di Kinabalu, Malaysia pada 6 September 2010. Demikian disampaikan Syahganda di Jakarta, Selasa (7/9/2010), menanggapi lemahnya posisi tawar Indonesia pada pertemuan Kinabalu tersebut. Dikatakan, hasil perundingan Kinabalu jelas tidak membuat Indonesia bermartabat, akibat delegasi Indonesia yang dipmpin Menlu Marty Natalegawa, tak berhasil membuat pihak Malaysia menyatakan maaf atas penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan di wilayah laut Indonesia.

…dst

Perundingan Kinabalu
Malaysia Janji Tak Akan Tahan Petugas Indonesia Lagi
http://www.detiknews.com/read/2010/09/06/181333/1436304/10/malaysia-janji-tak-akan-tahan-petugas-indonesia-lagi

Senin, 06/09/2010 18:13 WIB
Jakarta – Tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan mendapatkan perlakuan buruk saat ditangkap polisi Malaysia. Mereka diborgol dan dipakaikan baju tahanan. Malaysia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Itulah salah satu butir dari perundingan tingkat Menlu dalam Joint Commission for Bilateral Cooperation RI-Malaysia di Kinabalu, Malaysia. Perundingan ini dipimpin langsung Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Malaysia Dato’ Sri Anifah bin Haji Aman. “Menlu Malaysia menyampaikan bahwa pemerintah Malaysia memutuskan, ke depan prosedur penahanan tersebut tidak akan diberlakukan kepada petugas Indonesia,” demikian rilis dari Kemlu yang diterima detikcom, Senin (6/9/2010).

…dst

Perundingan Kinabalu
Malaysia Sakit Hati Atas Aksi Pelemparan Tinja
http://www.detiknews.com/read/2010/09/07/134120/1436778/10/malaysia-sakit-hati-atas-aksi-pelemparan-tinja

Selasa, 07/09/2010 13:41 WIB
Kinabalu – Perundingan perbatasan RI-Malaysia di Kinabalu, Malaysia, dimanfaatkan pihak Malaysia untuk memprotes aksi pelemparan tinja di Kedubes Malaysia di Jakarta oleh massa Bendera. Aksi tersebut menyakiti perasaan rakyat Malaysia. Seperti dilansir kantor berita Bernama, Senin (6/9/2010) malam, Menlu Malaysia Datuk Seri Anifah Aman menggelar jumpa pers bersama Menlu Marty Natalegawa usai Joint Commission for Bilateral Cooperation RI-Malaysia. Dalam kesempatan itu, Anifah mengatakan aksi pelemparan tinja telah menyakiti hati rakyat Malaysia. Namun, Malaysia yakin tindakan itu bukan representasi sikap seluruh rakyat Indonesia.

…dst

Malaysia Tidak Merasa Salah Soal Penangkapan 3 Petugas KKP
http://www.detiknews.com/read/2010/09/07/124302/1436700/10/malaysia-tidak-merasa-salah-soal-penangkapan-3-petugas-kkp

Selasa, 07/09/2010 12:45 WIB
Kinabalu – Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim lebih unggul dalam perundingan perbatasan antar Menteri Luar Negeri di Kinabalu, Malaysia. Malaysia mengatakan tetap tidak bersalah dalam penangkapan 3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal ini disampaikan Menlu Malaysia Dato Sri Anifah Aman kepada media Malaysia usai pertemuan di Kinabalu, Malaysia. Seperti dilansir kantor berita Bernama, Senin (6/9/2010) malam, Anifah mengatakan pemborgolan dan pemberian baju tahanan sudah merupakan standar operasi di Malaysia. “Prosedur ini diterapkan untuk semua yang menerobos perairan kita, bukan hanya untuk orang Indonesia,” kata Anifah dalam jumpa pers bersama Menlu Marty Natalegawa. Meski demikian, setelah perundingan di Kinabalu, Malaysia akan melonggarkan prosedurnya. Namun meraka menyatakan tetap tidak bersalah.

…dst

Pertemuan Malaysia-RI di Kinabalu Seperti Pemenang & Pecundang
http://www.detiknews.com/read/2010/09/07/112513/1436632/10/pertemuan-malaysia-ri-di-kinabalu-seperti-pemenang-pecundang

Selasa, 07/09/2010 11:27 WIB
Jakarta – Wakil Ketua Komisi I DPR Mayjen Purn TB Hasanuddin berpendapat pertemuan Indonesia dan Malaysia di Kinabalu sangat kontraproduktif. Tidak ada hal-hal signifikan yang didapat. “Ini perundingan seperti apa? Seperti antara pemenang dan pecundang. Ini yang akan kita tanyakan kepada pemerintah,” kata Hasanuddin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (7/9/2010).

…dst

RI-Malaysia Siapkan Perundingan Marathon Soal Perbatasan
http://www.detiknews.com/read/2010/09/06/211533/1436386/10/ri-malaysia-siapkan-perundingan-marathon-soal-perbatasan
Senin, 06/09/2010 21:15 WIB
Jakarta – Pemerintah RI dan Malaysia bersepakat bahwa masalah batas laut harus segera diselesaikan. Serangkaian jadwal perundingan pun disiapkan. Itulah salah satu hasil dari Joint Commission for Bilateral Cooperation RI-Malaysia di Kinabalu, Malaysia. Perundingan ini dipimpin langsung Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Malaysia Dato’ Sri Anifah bin Haji Aman. “Kedua negara berketetapan bahwa cara yang paling efektif untuk menghindari kembali terjadinya insiden serupa adalah intensifikasi perundingan delimitasi perbatasan laut yang menjadi akar permasalahan antara kedua negara,” demikian rilis Kemlu yang diterima detikcom, Senin (6/9/2010).

…dst

Persekongkolan RI-Malaysia
Selasa, 7 September 2010 | 03:28 WIB
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/07/03283665/persekongkolan.ri-malaysia

Sri Palupi
Menanggapi konflik dengan Malaysia, Ketua DPR Marzuki Alie mendukung sikap lunak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasannya, dengan bersikap tegas terhadap Malaysia, Indonesia cuma akan mendapatkan harga diri. Sementara ada 2 juta TKI yang harus dilindungi.
Padahal, ketidaktegasan itulah yang membuat penganiayaan TKI terus berulang. Ketidaktegasan itu sendiri bisa menjadi isyarat adanya persekongkolan antara Indonesia dan Malaysia yang menghendaki bisnis jual beli TKI tetap aman terkendali.

…dst

Indonesia dan Malaysia Memulai Perundingan
http://www.detiknews.com/read/2010/09/06/042234/1435510/10/indonesia-dan-malaysia-memulai-perundingan?n991102605

Senin, 06/09/2010 04:22 WIB
Jakarta – Ketegangan antara Indonesia dengan Malaysia yang dipicu oleh perbatasan kedua negara memasuki babak baru. Kedua belah pihak akan memulai perundingan untuk menyelesaikan sengketa batas wilayah tersebut, Senin (6/9/2010) ini. Pertemuan antar menteri luar negeri (joint ministry commission) Indonesia-Malaysia ini akan berlangsung di Kinabalu, Malaysia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah memastikan agenda bilateral ini tidak berubah. “Dari Indonesia dipimpin langsung oleh Menlu, Marty Natalegawa, dan juga ikut hadir bersama jajaran kementrian terkait,” ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (5/9/2010), kemarin, malam.

…dst

PEMETAAN
Tiga Lapis “Pagar” untuk Malaysia
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/03355785/tiga.lapis.pagar.untuk.malaysia

Senin, 6 September 2010 | 03:35 WIB
YUNI IKAWATI
Konflik perbatasan Indonesia-Malaysia terjadi di daerah “abu-abu” yang belum disepakati kedua pihak. Indonesia selesai menetapkan batas wilayah tahun 1999, dengan menerapkan teknik survei pemetaan mutakhir yang mengacu pada the United Nations Convention on the Law of the Sea.
Indonesia negeri yang unik. Daratannya berupa belasan ribu pulau besar-kecil, sedangkan perairannya meliputi 60 persen total wilayah atau 3.257.483 kilometer persegi. Cakupan laut seluas ini hampir menyamai daratan India. Panjang bentang wilayahnya lebih dari 7.365 kilometer, nyaris sama dengan bentangan daratan Amerika Serikat.
Memiliki kondisi geografis didominasi laut yang relatif dangkal, Indonesia—yang dijuluki Benua Maritim—dipagari oleh tiga jenis batas wilayah laut, yaitu Batas Laut Teritorial, Landas Kontinen, dan Zona Ekonomi Eksklusif. Penetapan tiga batas wilayah maritim ini diatur dalam the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) I dan III.

…dst

Perang
http://kampus.okezone.com/read/2010/09/05/95/370276/perang

Sunday, 05 September 2010
PADA 2008 saya menjadi pensyarah pelawat (dosen tamu) di Universitas Malaya. Karena itu, selama satu semester (hampir tujuh bulan), saya dan istri saya bermukim di Kuala Lumpur (KL).
Ketika itu pun suasana hati bangsa Indonesia sudah mulai geram kepada orang Malaysia. Pasalnya macam-macam,mulai dari kasus Ambalat,TKW dan TKI yang diperlakukan tidak manusiawi sampai pembajakan lagu dan kesenian. Maka ketika saya ditunjuk memimpin suatu penelitian (sebagai salah satu tugas pensyarah pelawat), saya memilih untuk menyurvei pendapat mahasiswa Indonesia (UI dan Unpad) dan Malaysia (UM) tentang perang internet antara web site “Malingsia” melawan blog “Indonsial”. Hasil penelitian itu cukup mencengangkan karena walaupun kedua situs internet itu saling memaki dan menghina dengan kata-kata yang paling kasar dalam bahasa masing-masing, responden mahasiswa dari kedua negara tenangtenang saja.
Mahasiswa Malaysia memang agak jengkel dengan ulah sementara TKI yang banyak mereka temui di KL,tetapi tidak terpikirkan oleh mereka untuk berperang melawan Indonesia (bahkan temanteman dosen saya yang orang Malaysia asli paling hobi shopping ke Tanah Abang atau ke Bandung setiap kali ada liburan). Mahasiswa Indonesia terlebih lagi tak acuhnya. Karena hampir tak pernah bertemu orang Malaysia, mereka juga tidak bersikap apa-apa kepada bangsa tetangga ini. Mereka tahu tentang pembajakan dan masalah TKI/TKW, tetapi ya sudah, sebatas tahu saja dan tidak ada kelanjutannyav …cut… Pokoknya bangsa Indonesia saat ini bukanlah bangsa yang bersatu- kita-teguh (versi Bung karno) atau bersama-kita-bisa (versi SBY). Selama kita bermentalitas seperti ini,jangankan Malaysia,penyelundup narkoba dan pembawa ideologi radikal bisa menghancurkan bangsa ini,sekalipun tanpa perang! (*)

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI

>>>

PBNU: SBY Harus Berani Katakan Malaysia Salah
http://www.detiknews.com/read/2010/09/04/224921/1435140/10/pbnu-sby-harus-berani-katakan-malaysia-salah?n991102605

Sabtu, 04/09/2010 22:49 WIB
Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar bertindak tegas dan berani hadapi Malaysia. SBY harus berani mengatakan kalau Malaysia terbukti bersalah. “SBY harus menyatakan bahwa kamu (Malaysia) terbukti salah dan untuk itu harus meminta maaf kepada rakyat Indonesia,” tegas Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saat berbuka puasa bersama di Kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (4/9/2010) yang disampaikan dalam rilis. PBNU menyatakan kecewa terhadap SBY yang terkesan lemah dalam menghadapi Malaysia yang melakukan pelecehan terhadap kedaulatan negara Indonesia.

…dst

Insubordinasi Kementerian Luar Negeri?
http://17-08-1945.blogspot.com/2010/09/koran-digital-hikmahanto-juwana_03.html

Hikmahanto Juwana – Saturday, 04 September 2010
Pascapidato Presiden di Mabes TNI pada tanggal 1 September,sejumlah media melansir pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Triyono Wibowo untuk tidak terlalu banyak berharap pada pertemuan dengan Malaysia di Kinabalu tanggal 6 September nanti. Apakah itu merupakan insubordinasi dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengingat dalam pidatonya Presiden mengatakan bagi Indonesia perundingan menyangkut batas wilayah dapat dipercepat dan diefektifkan pelaksanaannya?

Kesabaran
Bila dilihat dari proses perundingan antardua negara yang menyangkut perbatasan wilayah, apa yang dinyatakan oleh Wamenlu adalah benar. Kita tidak bisa terlalu berharap pada pertemuan Kinabalu, apalagi dalam suasana ketegangan antardua negara. Kesepakatan atas perbatasan wilayah, terutama di laut, tidak akan mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat, apalagi dipercepat. Masing-masing akan mempertahankan klaim atas wilayahnya karena menyangkut kedaulatan (sovereignty) atau hak berdaulat (sovereign right).

…dst

Tegarlah Indonesiaku!
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/03/03350118/tegarlah.indonesiaku

Jumat, 3 September 2010 | 03:35 WIB
Oleh Hikmahanto Juwana
Presiden telah menyampaikan keterangannya terkait dengan ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia pada 1 September lalu.

Berbagai reaksi bermunculan. Ada yang mendukung, banyak pula yang kecewa, bahkan marah. Namun, ada pula yang bergeming karena tahu pidato Presiden, sebagaimana yang sudah-sudah, akan datar dan tidak sensitif terhadap dinamika yang berkembang di publik. Fakta dapat diinterpretasi paling tidak dalam dua perspektif berbeda. Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintah kolonial Belanda, misalnya, bisa dianggap tindakan heroik, tetapi pada saat bersamaan tindakan pemberontakan. Menerjemahkan fakta tergantung di mana seseorang berdiri. Jika mencermati isi pidato Presiden, keberpihakan tidak ada kepada publik Indonesia. Ada sejumlah hal yang mengindikasikan hal ini. Presiden membuka pidato dengan mengungkap hal-hal yang justru berpihak kepada Malaysia. Mulai dari dua juta tenaga kerja Indonesia di Malaysia, investasi Malaysia di Indonesia hingga jumlah pelajar Indonesia yang besar di Malaysia.

…dst

Antara Diplomasi dan Perang
http://id.news.yahoo.com/lptn/20100902/tpl-antara-diplomasi-dan-perang-e5c0aa3.html

03 Septermbar 2010
Liputan6.com, Jakarta: Tingkah Malaysia cukup sering membuat geram Indonesia. Dan itu terjadi sejak zaman pemerintahan Soekarno pada 1963 lampau. Presiden pertama Republik Indonesia itu pernah menggagas aksi “Ganyang Malaysia”. Reaksi disuarakan Soekarno menyikapi demonstrasi anti-Indonesia di Malaysia.

Demo anti-Indonesia dipicu sikap kontra Presiden Soekarno terhadap rencana Federasi Malaysia menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak. Waktu itu Presiden Soekarno menilai rencana Federasi Malaysia melanggar perjanjian internasional konsep The Macapagal Plan. Antara lain perjanjian Manila Accord, Manila Declaration, dan Joint Statement.Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia …cut… Kekerasan sikap Soekarno patut menjadi pelajaran. Kalimat sang proklamator yang tak terlupakan, yakni: “Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat. Yoo… ayoo… kita… Ganyang… Ganyang… Malaysia….”

Sedangkan SBY melalui diplomasinya sempat menyatakan: “Kita kini menempuh politik luar negeri ke segala arah. Kita dapat mempunyai sejuta kawan, tanpa musuh.” (AIS/ANS/berbagai sumber)

<<<

Isi Lengkap Pidato SBY Soal Malaysia

http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/215323/1433134/10/isi-lengkap-pidato-sby-soal-malaysia?n991102605

Rabu, 01/09/2010 21:53 WIB
Jakarta – Presiden SBY telah menyampaikan sikap resmi Indonesia terrkait hubungan Indonesia-Malaysia yang memanas. Berikut ini adalah isi pidato yang dibacakan SBY di Markas TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010).

…dst

Hikmahanto: Pidato SBY Mengecewakan
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/233810/1433153/10/hikmahanto-pidato-sby-mengecewakan?n991103605

Rabu, 01/09/2010 23:38 WIB
Jakarta – Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disayangkan banyak pihak karena tidak menunjukkan ketegasan posisi Indonesia terhadap Malaysia. Menurut Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana pidato SBY tidak mencerminkan ketegasan, kelugasan dan kejelasan pesan. “Pidato Presiden sungguh mengecewakan. Tidak ada ketegasan, kelugasan dan kejelasan pesan,” kata Hikmahanto kepada detikcom, Rabu, (1/8/2010) Menurut Hikmahanto, pidato tersebut jauh dari ekspektasi dan membangkitkan harga diri bangsa Indonesia yang belakangan terinjak-injak oleh otoritas dan pejabat Malaysia. Pembukaan pidato yang berisi tentang masalah perekonomian seolah hendak menunjukkan betapa rentannya Indonesia bila hubungan kedua negara memburuk.

…dst

SBY: Cara Indonesia Selesaikan Konflik, Jadi Perhatian Dunia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/212837/1433123/10/sby-cara-indonesia-selesaikan-konflik-jadi-perhatian-dunia?n991102605

Rabu, 01/09/2010 21:28 WIB
Jakarta – Selama ini Indonesia menjadi panutan dunia dalam mengelola konflik. Apapun pilihan Indonesia untuk menyelesaikan masalah dengan Malaysia, sangat mempengaruhi peran-peran selanjutnya Indonesia di kancah internasional. “Cara kita menangani hubungan Indonesia–Malaysia akan disimak dan diikuti oleh negara-negara sahabat di kawasan Asia, bahkan di dunia internasional,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (1/9/2010). Di kawasan Asia, kiprah Indonesia tidak perlu diragukan. Sebagai salah satu negara pendiri ASEAN dan aktif terlibat dalam berbagai peran-peran internasional, maka Indonesia sering jadi panutan cara menyelesaikan konflik yang terjadi di kawasan maupun belahan bumi yang lain.

…dst

SBY Paparkan Simbiosis Mutualisme Indonesia-Malaysia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/212300/1433125/10/sby-paparkan-simbiosis-mutualisme-indonesia-malaysia?n991102605

Rabu, 01/09/2010 21:23 WIB
Jakarta – Sebuah pilihan diplomasi telah dijatuhkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menyelesaikan konflik Indonesia-Malaysia. Sebab dua negara saling membutuhkan satu sama lain dalam berbagai bidang. “Sekitar 13.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6.000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan,” ujar SBY di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010).
Di bidang investasi, Indonesia-Malaysia mencatat nilai yang besar. Transaksi perdagangan dua negara telah mencapai US$ 11,4 miliar. Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1,2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Di samping itu jumlah TKI di Malaysia adalah yang terbesar di luar negeri. Keberadaan mereka membawa keuntungan bersama baik bagi Indonesia dan Malaysia. “Hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia sungguh kuat,” sambung SBY.

…dst

Selesaikan Masalah dengan Malaysia, SBY Tak Pilih Perang
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/210821/1433118/10/selesaikan-masalah-dengan-malaysia-sby-tak-pilih-perang?n991101605

Rabu, 01/09/2010 21:08 WIB
Jakarta – Sebagian kalangan di tanah air, mewacanakan perang sebagai solusi masalah antara Indonesia dan Malaysia yang memanas. Tetapi Presiden SBY lebih memilih cara diplomasi damai daripada angkat senjata.”Terhadap insiden ini, kita semua sangat prihatin, dan saya ingin agar masalah ini segera diselesaikan secara tuntas, mengutamakan langkah-langkah diplomasi,” ujar Presiden SBY di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010). Menindaklanjuti insiden penangkapan 3 petugas DKP Kepulauan Riau oleh Polis Maritim Diraja Malaysia di perairan Pulau Bintan pada 13 Agustus lalu, SBY sudah memberikan instruksi ke aparat terkait. Intinya adalah melakukan pengusutan dengan prioritas memulangkan 3 petugas tersebut.

…dst

Berlatar Belakang Merah Putih, SBY Sampaikan Sikap Terhadap Malaysia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/210146/1433115/10/berlatar-belakang-merah-putih-sby-sampaikan-sikap-terhadap-malaysia?n991101605

Rabu, 01/09/2010 21:01 WIB
Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato tentang sikap RI terhadap Malaysia. Beberapa menteri dan petinggi TNI pun mendampingi.
SBY berpidato di Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010). Ada 2 teleprompter yang membantu SBY untuk berpidato. Background dari SBY berpidato adalah layar panggung ruangan yang berwarna putih dan bendera merah putih. Beberapa menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II mendampingi. Mereka duduk di sebelah kanan podium SBY. Para menteri yang tampak antara lain, Menkopolhukam Djoko Suyanto, Menkokesra Agung Laksono, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Mensesneg Sudi Silalahi, Menag Suryadharma Ali, Seskab Dipo Alam, Ka BIN Sutanto, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan Gubernur Lemhanas Muladi. Sedangkan jajaran petinggi TNI duduk di sebelah kiri podium SBY. Tampak KSAU Marsekal Imam Sufaat, dan KSAL Laksamana Agus Suhartono. KSAD Jenderal George Toisutta tak tampak karena menjalankan umroh.

…dst

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

1 ) Problem Tapal Batas Indonesia-Malaysia

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=153045

Oleh Saru Arifin, peneliti perbatasan dan staf pengajar hukum internasional
Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

TENSI hubungan Indonesia-Malaysia yang terekam media menunjukkan perkembangan yang semakin buruk. Setidaknya, hal itu dipicu pernyataan Menlu Malaysia yang menolak meminta maaf atas insiden penangkapan petugas DKP beberapa minggu lalu. Sikap Menlu Malaysia tersebut dipersepsikan oleh publik Indonesia sebagai suatu arogansi yang bersifat menantang. Karena itu, hal tersebut malah memicu timbulnya berbagai reaksi masyarakat dalam bentuk demonstrasi maupun kampanye sentimen negatif terhadap negeri jiran itu. Jika dirunut berdasar sejarah atau konteks sosial ekonomi yang dikenal dengan istilah Malindo, tampaknya hubungan Indonesia-Malaysia selalu mengalami pasang-surut, bahkan cenderung tidak menemukan fase yang harmonis sebagai bangsa serumpun. Empat prinsip dalam hubungan bertetangga, yakni saling mengambil manfaat (mutual benefit), saling menjunjung pengertian (mutual understanding), saling menghormati (mutual respect), dan bertetangga dengan baik (good neighboring countries/neighborhood), tidak lagi berjalan efektif.

…dst

2 ) Sengketa Indonesia-Malaysia
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/01/03565049/sengketa.indonesia-malaysia

Oleh S Wiryono Mantan Duta Besar RI untuk Australia

Rabu, 1 September 2010 | 03:56 WIB
Sejak insiden 13 Agustus, Indonesia dan Malaysia terperangkap dalam perang mulut yang cukup panas, diplomasi megapon yang sangat tak sedap dan seyogianya dicegah agar tak meningkat menjadi perselisihan yang lebih sulit diatasi. Pada masa lalu, Indonesia pernah melakukan konfrontasi, tetapi kemudian teratasi dengan baik lewat perundingan: hanya setelah pemimpin di Indonesia berganti. Apakah kejadian di masa lalu akan berulang? Apakah suara garang DPR dan masyarakat bakal berkembang jadi genderang perang? Dalam hubungan ini, kiranya perlu diingat ucapan PM Inggris semasa Perang Dunia II, Sir Winston Churchill, tentang perang. Katanya: sekali seorang negarawan menabuh genderang perang, dia tak dapat lagi jadi tuan atas keputusannya, malah jadi budak bagi kejadian yang tak teramalkan dan tak terkendalikan.

…dst

3 ) Perang Lawan Malaysia Justru Tambah Masalah Baru
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/002652/1432353/10/perang-lawan-malaysia-justru-tambah-masalah-baru?n991103605

Rabu, 01/09/2010 00:26 WIB
Jakarta – Permasalahan perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia bukan kali pertama. Lalu bagaimana bila Indonesia perang dengan negeri jiran itu? Menko Polhukam Djoko Suyanto pun menegaskan perang dengan Malaysia justru akan membuat kondisi lebih sulit.”Perang tidak akan menyelesaikan masalah justru membuat masalah baru di negeri ini,” ujar Djoko di hadapan Komisi I saat rapat kerja di Ruang Rapat Komisi I DPRRI, Senayan, Jakarta, Rabu (1/9/2010) dini hari. Hal ini Djoko sampaikan menanggapi banyaknya aksi-aksi yang dilakukan dan menginginkan pemerintah menyatakan perang dengan Malaysia. Menurut Djoko pemerintah belum bisa menanggung risiko yang ditimbulkan akibat perang dengan negara tetangga ini. Eksodus 2 juta TKI dari negeri jiran juga belum ada solusinya. “Kalau TKI kita yang ada di Malaysia ditarik, itu masalah lagi bagi kita. Ini masalah yang rumit,” tambahnya.

…dst

4 ) PPP Minta Rakyat Indonesia Maafkan Malaysia
http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/002018/1432352/10/ppp-minta-rakyat-indonesia-maafkan-malaysia?n991103605

Rabu, 01/09/2010 00:20 WIB
Jakarta – PPP menolak menggunakan hak interpelasi soal Malaysia. PPP memilih mengimbau rakyat Indonesia memaafkan Malaysia agar kisruh Indonesia-Malaysia cepat selesai. “PPP menolak interpelasi soal Malaysia,” ujar Ketum DPP PPP Suryadharma Alie kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (31/8/2010). Menurut Surya, keterangan yang disampaikan Menlu dalam rapat dengan DPR sudah cukup jelas. DPR hanya perlu bersabar menunggu Pemerintah menuntaskan permasalahan dengan Malaysia.

…dst

5 ) Ketegangan RI-Malaysia
“Seharusnya Ada Kata Maaf dari Indonesia”
Warga Malaysia bertanya-tanya, apa yang membuat Bendera bisa bertindak seberani itu.

Senin, 30 Agustus 2010, 12:05 WIB
http://nasional.vivanews.com/news/read/174207–seharusnya-ada-kata-maaf-dari-indonesia-
VIVAnews – Sudah lebih dua minggu berlalu sejak insiden saling tangkap di perairan Bintan terjadi pada 13 Agustus lalu. Namun demikian, belum ada titik terang penyelesaian soal tapal batas negara, salah satu permasalahan yang selama ini menjadi duri dalam hubungan Indonesia dan Malaysia. Sementara itu, rakyat kedua negara terus menunjukkan ekspresi kemarahan mereka…cut…Situs berita New Straits Times hari ini, Senin, 30 Agustus 2010, memuat surat warga Malaysia bernama Idzan Ismail, asal Kelana Jaya, Selangor. Ia mencurahkan isi hatinya sebagai berikut:
“Besok, kita merayakan hari kemerdekaan. Tapi simbol kedaulatan dan kebanggaan kita, Jalur Gemilang; diinjak, dibakar, dan diludahi oleh warga negara yang kita anggap sebagai tetangga terdekat. Mereka bahkan melempar tinja ke kedutaan besar kita. Ini sangat menyakitkan, bahwa warga Indonesia–yang adalah saudara muslim kita–melakukannya di bulan suci Ramadhan, jelang umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri; sebuah hari yang penuh kebaikan dan maaf.

…dst

6 ) Demo Lempar Tinja, Pemerintah Belum Temukan Pasal Pelanggaran
http://www.detiknews.com/read/2010/08/30/211336/1431552/10/demo-lempar-tinja-pemerintah-belum-temukan-pasal-pelanggaran?n991103605

Senin, 30/08/2010 21:13 WIB
Jakarta – Aksi pelemparan tinja ke Kedutaan Besar Malaysia beberapa hari lalu membuat publik dan pemerintah Malaysia uring-uringan. Tetapi pemerintah Indonesia belum menemukan pasal pelanggaran apapun untuk menjerat para demonstran. “Bahwa tidak sesuai kesopanan, mungkin iya. Hak mereka beri penilaian apa yg ada di negara lain. Tapi sepanjang pengamatan saya dari petugas di lapangan tidak ada pasal yang menjerat soal itu,” kata Deputi Kominfo Kemenpolhukam Masekal Muda Sagoem Tambun usai menghadiri rapat gabungan dengan Komisi II, III, dan VIII, di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (30/8/2010). Menurut Sagoem, bentuk ekspresi demonstran Bendera merupakan hak setiap demonstran dalam menyuarakan aspirasinya. ” Kebebasan berpendapat dijamin sepanjang melakukan demo sesuai dengan aturan,” katanya.

…dst

7 ) Mendiknas: Mahasiswa di Malaysia Aman
http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/30/17165264/Mendiknas:.Mahasiswa.di.Malaysia.Aman

Senin, 30 Agustus 2010 | 17:16 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh memberikan jaminan dan kepastian akan keamanan bagi mahasiswa dan pelajar Malaysia yang berada di Indonesia menyusul panasnya dinamika hubungan Indonesia-Malaysia. Sementara itu, Malaysia juga melakukan hal yang sama kepada para mahasiswa dan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri jiran tersebut.
Nuh di Jakarta, Senin (30/8/2010), menjelaskan bahwa pada hari Minggu sore kemarin, dia telah berkomunikasi dengan Wakil PM Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin. “Kami sepakat dunia pendidikan harus diselamatkan. Karena itu, pendidikan tidak boleh terpengaruh oleh pasang dan surutnya dinamika hubungan kedua negara,” ujar Nuh. Selain dengan Wakil PM Malaysia yang juga sebagai Menteri Pelajaran Malaysia, Nuh juga telah berkomunikasi dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pelajaran Malaysia, Tan Sri Dr Zulkurnain. Pembicaraan itu untuk menyepakati keamanan mahasiswa dan pelajar kedua belah pihak.

…dst

8 ) Unpad Yakin 800 Mahasiswa Asal Malaysia Aman
http://bandung.detik.com/read/2010/08/30/122704/1431005/486/unpad-yakin-800-mahasiswa-asal-malaysia-aman?g991103485

Senin, 30/08/2010 12:27 WIB
Bandung – Menyusul memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia, Rektor Unpad Ganjar Kurnia yakin 800 mahasiswa asal Malaysia yang belajar di Unpad aman. Mayoritas mereka belajar di kedokteran dan farmasi.”Mereka (mahasiswa asal Malaysia-red) aman. Kita jamin keamanan mereka, bukan hanya mereka, semua mahasiswa Unpad lainnya pun kita jamin keamanannya. Jadi tak ada perlakuan khusus. Lagipula sekarang mulai dingin lagi kan (hubungan Indonesia-Malaysia,” ujar Ganjar saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Senin (30/8/2010). Lebih lanjut Ganjar menyatakan selama ini tak mempersoalkan asal mahasiswa asing yang akan belajar di Unpad. “Saya kira tak ada persoalan, mahasiswa asal Malaysia belajar di sini. Kalau menurut saya, hal ini kita dudukkan secara proporsional saja. Kita tetap menerima, toh mereka bayar lebih mahal. Lagipula lebih banyak mahasiswa kita,” ujarnya.

…dst

9 ) Indonesia-Malaysia, Perbatasan tanpa Batas!
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/31/165669/68/11/Indonesia-Malaysia-Perbatasan-tanpa-Batas

Selasa, 31 Agustus 2010 00:00 WIB oleh Diandra Megaputri Mengko
Insiden ‘pelanggaran’ wilayah perbatasan laut Indonesia-Malaysia yang terjadi di kawasan perairan Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya sudah bukan yang pertama bagi Indonesia. Setiap tahunnya, Angkatan Laut Indonesia selalu melaporkan mengenai adanya ‘pelanggaran perbatasan’ yang dilakukan negara tetangga ini. Walaupun demikian, seharusnya dapat kita cermati kembali penggunaan kata ‘perbatasan’ dan ‘pelanggaran’. Kedua kata tersebut seharusnya ditempatkan kembali ke dalam posisi yang tepat dengan melihat aspek legal dan fakta di dunia serta kondisi di dalam negeri.

…dst

10 ) Indonesia-Malaysia, Hubungan Pelik Pascakolonial
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/08/165707/68/11/Indonesia-Malaysia-Hubungan-Pelik-Pascakolonial

Selasa, 31 Agustus 2010 00:00 WIB Oleh TM Dhani Iqbal Pemred Wisataloka.com
Bayangkan jika peta Indonesia tidak seperti sekarang. Bayangkan jika Pulau Jawa terbelah menjadi dua negara, satu Indonesia, satu, sebutlah, Javanesia. Sebutlah Yogyakarta menjadi bagian dari Indonesia dan Jawa Tengah menjadi bagian negara lain itu. Akankah ada polemik soal siapa pemilik blangkon? Akankah pelaut tradisional di nonperairan masing-masing disebut pencuri? Ketegangan dengan Malaysia kembali tercipta pada pertengahan Agustus lalu. Penyebabnya, Indonesia menangkap nelayan Malaysia yang dianggap mencuri ikan di kawasan Indonesia, dan Malaysia menangkap orang Indonesia, pegawai negeri sipil. Persoalan kemudian tak hanya berpusat pada soal tangkap-menangkap, melainkan juga soal perbatasan. Perbatasan acap menjadi duri dalam hubungan kedua negara. Yang menarik, ketika Indonesia kerap menuduh Malaysia sebagai pencuri, pelaut-pelaut Indonesia pun sering dituduh pencuri dan ilegal oleh Australia. Pelaut-pelaut Indonesia dianggap sering mencuri ikan di perairan Australia Barat…cut…Kita sudah diasumsikan oleh mereka sebagai saudara tua. Jika si adik kita nilai salah, tentu bukan dengan melempar kotoran sebagai hukumannya. Yang kita perlukan adalah memberikan contoh tentang pembenahan keterampilan tenaga kerja yang ke luar negeri, meningkatkan kualitas pendidikan, meminimalisasi korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, menciptakan demokrasi tanpa akal-akalan, atau bahkan membiasakan diri untuk tertib berlalu lintas. Jika ini dibarengi dengan keberpihakan pada negara-negara lemah, sebagaimana yang Bung Karno pernah lakukan pada kawasan Asia-Afrika-Amerika Latin, siapalah tak segan pada si abang.

…dst

11 ) PM Najib: RI Harus Tertibkan Demo atau Warga Malaysia Murka
http://www.detiknews.com/read/2010/08/29/163110/1430532/10/pm-najib-ri-harus-tertibkan-demo-atau-warga-malaysia-murka

Minggu, 29/08/2010 16:31 WIB
Jakarta – PM Datuk Seri Najib Tun Razak memperingatkan pemerintah Indonesia bertindak cepat meredakan demonstrasi di Tanah Air. Jika tidak, akan berisiko menimbulkan murka warga Malaysia. Najib menangkis pihaknya lunak dalam menyikapi demonstrasi di perwakilan Malaysia di Jakarta. Dia menyatakan, jika demo itu terus berlanjut, bisa menimbulkan aksi kemarahan balasan. “Saya berharap pemerintah Indonesia tidak akan membiarkan demonstrasi warga mereka – yang dibayar oleh beberapa kalangan – untuk membuat kerusuhan,” katanya pada Sabtu kemarin seperti dilansir The Star, Minggu (29/08/2010).

…dst

12 ) PM Najib: RI Sadar Ada 2 Juta Warganya yang Bekerja di Malaysia
http://www.detiknews.com/read/2010/08/29/172553/1430549/10/pm-najib-ri-sadar-ada-2-juta-warganya-yang-bekerja-di-malaysia

Minggu, 29/08/2010 17:25 WIB
Jakarta – Presiden SBY mengirim surat pada PM Datuk Seri Najib Tun Razak untuk mengajak mempercepat membicarakan masalah perbatasan kedua negara. Namun Najib belum membaca surat itu. Meski demikian, Najib telah memprediksi isi surat itu. “Saya yakin Presiden Indonesia menyampaikan kekecewaannya atas situasi yang berkembang dan demonstrasi-demonstrasi yang terjadi seharusnya tidak dikaitkan dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia sadar ada 2 juta warganya yang bekerja di Malaysia dan ada investasi besar oleh perusahaan-perusahaan Malaysia (di Indonesia),” komentar PM Najib. Hal ini dikatakan Najib pada Sabtu kemarin seperti dilansir media Malaysia, The Star, Minggu (29/8/2010).

…dst

13 ) Dunia Pendidikan Bisa Redakan Ketegangan Indonesia-Malaysia
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/08/28/132335-dunia-pendidikan-bisa-redakan-ketegangan-indonesiamalaysia

Sabtu, 28 Agustus 2010, 17:21 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK–Deputi Vice Chancellor Universitas Kebangsaan Malaysia, Prof Dato Hassan Bin Basri, berharap ketegangan Indonesia-Malaysia bisa terus mereda. Ia mengatakan sektor pendidikan bisa menjadi obat ketegangan yang memanas antara Malaysia dan Indonesia. “Terlebih lagi banyak ilmuwan Malaysia yang juga berguru di Indonesia. Itu berlanjut hingga sekarang,” katanya saat menghadiri acara wisuda profesi Universitas Indonesia, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (28/8). Karena itu, dia mengutarakan, pertukaran pelajar antara Indonesia dan Malaysia harus terus digalakkan. Begitu juga kerja sama antartenaga pengajar untuk melakukan sejumlah riset demi kemajuan bersama. Universitas Kebangsaan Malaysia merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di Bangli, Selangor. Tahun 2010, tercatat 600 pelajar Indonesia mengambil studi di universitas ini. Mereka kebanyakan mahasiswa magister dan program doktoral.

…dst

Thursday, 26 August 2010 14:01
Oleh: Afriadi Sanusi
PhD. Candidate Islamic Political Science, University of Malaya, Kuala Lumpur
SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana. Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.
Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?
…dst
15 ) Aksi Pelemparan Tinja
Malaysia Marah, Negara ASEAN Harus Belajar Saling Menghargai
http://www.detiknews.com/read/2010/08/25/102100/1427355/10/malaysia-marah-negara-asean-harus-belajar-saling-menghargai
Rabu, 25/08/2010 10:23 WIB
Kuala Lumpur – Kecaman mengalir deras dari Malaysia menyusul aksi pelemparan tinja ke halaman Kedubes Malaysia di Jakarta pada 23 Agustus lalu. Para tokoh Islam, partai politik dan organisasi di negeri jiran itu menyerukan pembubaran kelompok Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera). Sekretaris Jamaah Islah Penang, Isahak Ismail mencetuskan, tindakan Bendera kotor dan tidak sejalan dengan semangat persaudaraan muslim. “Negara-negara ASEAN seharusnya belajar bagaimana untuk saling menghargai,” tegasnya seperti diberitakan harian Malaysia, The Star, Rabu (25/8/2010).
…dst