1 ) Panglima TNI Akan Genjot Pembinaan Agar Kasus Adjie Tidak Terulang
Jumat, 10/09/2010 11:46 WIB
Jakarta – Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso berharap kasus anggota TNI AU Kolonel Adjie Suradji yang mengkritik langsung Panglima Tertinggi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak terulang. TNI akan melakukan pembinaan lagi. “Apa yang dilakukan oleh Kolonel Suradji tidak bisa dibenarkan baik di jajaran kehidupan TNI dan universal,” kata Djoko usai menghadiri acara silaturahmi di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus, Jumat (10/9/2010)
Dikatakan dia, TNI akan melakukan pembinaan lagi supaya ke depan tidak ada lagi pelanggaran disiplin dan tata tertib. “Kalau itu (kasus Adjie) ada proses hukum, karena pelanggaran itu. Pembinaannya dikasih tahu, dikandani yang benar ini loh, tentara jangan mengkritik komandannya,” papar Djoko.
…dst
Sumber :
>>>
2 ) Anggota TNI AU Kritik SBY
Inilah Kritik kepada Presiden Itu…
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/06/18382584/Inilah.Kritik.kepada.Presiden.Itu
Senin, 6 September 2010 | 18:38 WIB
Catatan Redaksi:
Tulisan yang dimuat di halaman Opini Harian Kompas ini menjadi perbincangan ramai di Twitter dan media lain. Karena itu, Redaksi Kompas.com mengangkat kembali tulisan ini.
Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Oleh: Adjie Suradji
Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.
…dst
>>>
Rabu, 08 September 2010 | 21:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan prajurit TNI terikat dengan sumpah prajurit. Sumpah itu menyebut prajurit harus tunduk dan patuh kepada atasan masing-masing. “Bagi prjaurit aktif, tidak ada kritik untuk menyerang atasan,” kata Presiden Yudhoyono dalam pidato di depan wartawan dan pemimpin media massa di Istana Negara malam ini (8/9). Meski atasan itu orang sipil, maupun atasan organik di kesatuan masing-masing. “Karena (bila mengkritik) bertentangan dengan sumpah prajurit,” katanya. Penjelasan Presiden Yudhoyono ini terkait artikel di sebuah media massa yang ditulis oleh Kolonel Adjie Suradjie awal pekan lalu. Tulisan itu mengkritik kepemimpinan Presiden Yudhoyono yang diangggap lembek menghadapi kasus korupsi. Adjie saat ini masih tercatat sebagai perwira menengah di Staf Operasional Markas Besar TNI Angkatan Udara.
…dst
>>>
Rabu, 08/09/2010 20:31 WIB
Jakarta – Presiden SBY sudah mendapat laporan mengenai kritik Kolonel Adjie Suradji yang dimuat di Harian Kompas edisi (6/9). SBY membandingkan tindakan Adjie itu dengan kritik yang dilakukan Jenderal Stanley McChrysta pada Presiden AS Barack Obama terkait perang Afghanistan. “Kita ingat jenderal bintang empat yang memimpin pasukan besar di Afghanistan. Statementnya lunak, soft statement, tapi dianggap merusak hubungan sipil militer, maka seorang presiden harus melakukan tindakan tegas,” kata SBY yang mengenakan batik berwarna biru dalam jumpa pers di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (8/9/2010). Saat itu Obama mengambil tindakan dengan memberhentikan Jenderal McChrsyta.
…dst
>>>
5 ) Menhan Yakin Kolonel Adjie Tak Ditunggangi
Bagi Purnomo, tindakan Kol. Adjie Suradji tak bisa ditoleransi.
http://politik.vivanews.com/news/read/176812-menhan-yakin-kolonel-adjie-tidak-ditunggangi
Rabu, 8 September 2010, 15:13 WIB
VIVAnews – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memastikan bahwa tindakan Kolonel Penerbang Adjie Suradji dilakukan seorang diri. Purnomo yakin tidak ada pihak-pihak lain atau kekuatan politik tertentu yang menunggangi kolonel aktif itu. “Saya sudah bicara dengan Panglima TNI. Apakah ada sesuatu di belakang ini? Jawabnya, tidak ada,” kata Purnomo usai melepas pemudik di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu, 8 September 2010. “Saya juga sudah dapat laporan, tidak ada,” tegas dia. Maka itu, Purnomo membantah sinyalemen sedang terjadi keretakan di dalam tubuh TNI. “Saya beri kepastian, saya berikan jaminan, insurance dari saya: TNI solid,” kata Purnomo. Purnomo juga sudah memeriksa profil kolonel yang mengritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoj (SBY) secara terbuka di Opini Harian Kompas edisi Senin, 6 September lalu itu. Hasilnya, sang kolonel diketahui sedang tersandung kasus.
…dst
>>>
6 ) Kolonel Kritik SBY
Boleh Kritik, asal Izin Atasan
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/08/1836364/Boleh.Kritik..asal.Izin.Atasan
Rabu, 8 September 2010 | 18:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Pertahanan Brigjen I Wayan Midhio mengatakan, apa yang dilakukan oleh Kolonel Adjie Suradji dalam tulisannya atas kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kompas dinilai salah. Pasalnya, perwira menengah TNI tersebut tidak memiliki izin dari atasannya. Akan lain ceritanya apabila Adjie telah memiliki izin atasannya. “Boleh saja, asal sudah izin atasannya terlebih dahulu,” ujar Wayan saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (8/9/2010). Menurut Wayan, ia menyesalkan tulisan Kolonel Adjie yang mengkritik Presiden SBY. Hal itu tidak layak dilakukan oleh seorang perwira TNI karena terikat sumpah prajurit. Selain itu, tulisan Adjie kemudian berkembang seolah-olah TNI ikut berpolitik.
…dst
>>>
7 ) Maaf Kolonel, Anda Indisipliner!
Lazimkah ini dilakukan seorang perwira aktif? Jawabannya: tidak.
http://politik.vivanews.com/news/read/176833-maaf-kolonel–anda-indisipliner
Rabu, 8 September 2010, 16:08 WIB
Jaleswari Pramodhawardani
Kami Prajurit Tentara Nasional IKami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit.
(Butir kelima Sapta Marga TNI)
KOLONEL Adjie Suradjie mendadak populer di media massa. Pasalnya ia melakukan hal yang jarang sekali dilakukan oleh kawan-kawan sejawatnya, dan ditabukan di institusi TNI, yaitu menulis opini publik di salah satu media cetak ibukota. Ia mengkritik kebijakan pemerintah dan Presiden SBY yang dianggap tidak cekatan dalam memberantas korupsi. Publikpun mengelu-elukannya. Dia dianggap tentara pemberani dan kritis, menyimpang dari mainstream yang ada. Dukunganpun berduyun-duyun, dari beberapa pengamat militer, aktivis sipil juga kalangan DPR. Jadilah sang kolonel tampil bak demokrat sejati di media massa. Lazimkah ini dilakukan seorang perwira aktif?
Jawabannya: tidak. Bahkan untuk tindakannya ia terancam sanksi indisipliner. Saya mendukung tindakan institusi TNI AU dalam hal ini.
…dst
>>>

8 ) Jawaban Adjie Suradji
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/07/17064932/Kenapa.Adjie.Mengkritik.SBY

Kenapa Adjie Mengkritik SBY?
Selasa, 7 September 2010 | 17:06 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Artikel Kolonel Penerbang Adjie Suradji yang dimuat di halaman Opini harian Kompas, Senin (6/9/2010), bertajuk “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan” membuat institusi TNI kebakaran jenggot. Sikap Adjie yang mengkritik secara terbuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang notabene adalah Panglima Tertinggi TNI, dianggap melanggar kepatutan seorang prajurit. Kenapa Adji mengkritik pucuk pimpinannya? “Karena saya gelisah mendengar banyak keluhan rakyat. Saya juga mengamati dinamika di DPR. Sudah lima tahun saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Saya membaca, mendengar, dan melihat. Kegelisahan itulah yang mendorong saya menulis,” jawab Adji saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/9/2010). Dalam tulisannya, Adjie menggugat keberanian Presiden Yudhoyono melakukan perubahan di negeri ini. Dalam salah satu bagian artikelnya, ia menulis, “Apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraanya?”

…dst

9 ) Isi Kritik Kolonel Adjie Adalah Harapan Rakyat
Raden Trimutia Hatta
http://www.inilah.com/form/2010/09/06/802641/isi-kritik-kolonel-adjie-adalah-harapan-rakyat/

06/09/2010 – 15:19
INILAH.COM, Jakarta – Guru Besar Psikologi UI, Hamdi Muluk menilai kritikan yang sampaikan Kolonel TNI AU Adjie Suradji secara terbuka kepada Presiden SBY sebagai wujud kekecewaan rakyat Indonesia.
“Secara psikologis, sebagai pribadi dia tidak puas, dia kecewa dengan kepemimpinan SBY. Dia tahu akan dipanggil penglimanya dengan memberikan kritikan ini, jadi orang ini mbalelo,” ujar Hamdi kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (6/9). Ia mengatakan, apa yang disampaikan Adjie dalam tulisannya di halaman opini Kompas, merupakan harapan banyak rakyat Indonesia. Bahwa SBY dapat memiliki keberanian lebih dan tidak menjadi pemimpin yang peragu. “Saya kira semua orang sudah tahu bahwa agak sukar kita berharap bapak presiden kita ini berani mengambil risiko, tidak ragu-ragu lagi,” imbuhnya.
Namun, sambungnya, yang jadi masalah adalah penggunaan identitas Adjie sebagai anggota TNI AU dalam menyampaikan kritiknya. “Ini tak wajar, bisanya TNI aktif itu cenderung lebih memihak ke pemerintah ketimbang mengkritik. Tapi sekarang kritikan itu lahir dari orang yang seharusnya mendukung pemerintah,” imbuhnya.
…dst
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Oleh RHENALD KASALI
Thursday, 09 September 2010
HEBOH tulisan Kolonel Adjie Suradji yang dimuat harian Kompas 5 September 2010 lalu menimbulkan banyak opini. Komentar-komentar yang saya baca di media online dan berbagai milis menunjukkan Kolonel Adjie mendapat dukungan sangat luas seperti dialami orang-orang yang diperiksa lainnya.
Memang dukungan terhadap Kolonel Adjie belum seluas dukungan terhadap penulis e-mail Prita Mulyasari,kriminalisasi pimpinan KPK Bibit-Chandra atau penahanan Susno Duadji. Tetapi sentimen masyarakat memang sulit ditebak. Namun apapun yang terjadi, ada pelajaran yang bisa diambil di lembah patahan (cracking zone) yang tengah terjadi di Indonesia.Apa itu?
Pribadi Menjadi Publik
Anda yang berusia 40 tahunan ke atas mungkin masih ingat,masa remaja Anda diisi dengan buku harian (diary) yang halamannya berwarna, dan beberapa diary dilengkapi dengan kunci sehingga buku pribadi itu bisa digembok. Buku harian adalah tempat mencurahkan segala perasaan Anda terhadap siapa saja yang menjadi rahasia hidup Anda. Pikiran dan opini disimpan,dan tidak bisa dipaparkan secara terbuka. Lain generasi, lain pula perilakunya.
Apa yang dilakukan masyarakat di era social media saat ini berkebalikan sama sekali. Diary dituangkan dalam bentuk tulisan di blog yang bisa dibaca dan diakses oleh siapa saja. Di berbagai blog, bahkan di “wall” masing-masing facebook saya sering menyaksikan keluh kesah suami pada istrinya atau sebaliknya,anak kepada orang tua, atau yang tersering rakyat kepada pemimpinnya.
Tak ketinggalan juga caci maki pembaca kepada penulis-penulis opini terkenal di samping pujian-pujian dan kekaguman-kekaguman tentunya. Segala sesuatu yang semula bersifat pribadi kini terbuka. Kolonel Adjie tentu bukan remaja baru kemarin yang dibentuk dari sejarah keterbukaan. Dia bukan generasi digital pribumi (native digital), melainkan imigran digital (pendatang di dunia digital) yang sama statusnya dengan saya dan sebagian pembaca.
Kalau Anda rajin mengamati fenomena pesta bloggerdi berbagai kota di negeri ini, Anda akan menyaksikan, rata-rata blogger itu berusia 20-30 tahunan. Tetapi bukan tak ada yang berusia 40-50-an. Generasi pendatang ini adalah generasi transisi yang – maaf – serba kasihan dan kagok. Kalau tidak ikut terbuka dianggap kuno dan ketinggalan, tetapi begitu ikut,bisa jadi setengah ngawur, dan lebay (berlebihan).
Tetapi menjadi orang yang tertutup, jaim,sok tahu,mendiamkan persoalan, tak mau ambil pusing, cuma asyik memikirkan karir saja – jelas bukan pilihan yang menarik bagi generasi ini. Celakanya,satu generasi sedikit di atas kita masih bertengger orangorang yang terbiasa memimpin topbottom, dengan nilai-nilai kesetiaan (loyalitas),taat-diam,jalankan saja, tutup mata, dan seterusnya.
Di bawah, generasi-generasi baru adalah generasi yang seolah-olah Asri (Asyik Sibuk Sendiri), tetapi mereka sangat partisipatif,berisik (banyak opini), terbuka, dan sukasuka. Kata setia menjadi ujian dalam banyak hal, namun nasionalisme mereka belum tentu kalah dengan generasi “45”. Inilah yang membuat generasi transisi serba terjepit. Kalau saya baca tulisan Kolonel Adjie, sepintas saya melihat tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tulisan itu masih dalam batas-batas kewajaran dan sopan santun.Dia hanya minta perhatian sebagaimana yang dituntut mayoritas bangsa ini, yaitu pemberantasan korupsi. Dia menuntut janji presiden yang diucapkan saat kampanye. Untuk itulah dia menuntut adanya keberanian, sebab tanpa keberanian tak ada perubahan. Dia pun menaruh harapan yang tampak pada kalimat penutup tulisannya. Ini berarti Kolonel Adjie tetap respek pada panglima tertingginya.
Dilema Penulis Muda
Meski berpangkat kolonel, di kalangan kolumnis, nama Adjie Suradjie bukanlah sosok penulis yang banyak dikenal. Dapat dikatakan dia adalah pemula yang masih harus membangun “personal brand”agar tulisannya dibaca atau dilirik orang.Penulis-penulis muda biasanya tergoda untuk menulis secara lepas dan menunjukkan keberaniannya dengan sedikit galak, bahkan tak sedikit yang berwacana ngawur.
Yang penting kelihatan berani. Dalam tulisan Adjie di Kompas,saya tidak melihat dia ngawur, namun terlihat dia berani. Berani bukan tampak dari tulisannya, melainkan saat dia menjelaskan siapa jati dirinya.Di tulisan itu tertera keterangan bahwa dia adalah anggota TNI AU. Di sinilah letak masalahnya.Saya kira hal ini bukanlah masalah Adjie semata-mata, melainkan masalah kaum intelektual bangsa yang bekerja terikat pada institusinya.
Sebagian besar kolomnis Indonesia adalah karyawan yang bekerja sebagai dosen dan terikat dengan universitasnya, guru yang bekerja untuk sekolahnya, atau PNS pada berbagai departemen.Barangkali, hanya budayawan dan seniman, atau pengusaha dan profesional (ahli) tertentu saja yang tak bekerja pada orang lain. Akan lain halnya misalnya bila di kolom itu,Adjie menulis dirinya sebagai pengamat perubahan atau pakar perubahan.Yang jelas pembaca pasti memerlukan title, karena title menentukan derajat kepercayaan terhadap isi tulisan.
Tetapi title apakah yang bisa ditulis penulis-penulis atau intelektual-intelektual yang baru muncul di media massa? Pengamat? Apakah dia bisa benar-benar mengamati bidang ini terus menerus? Pakar? Pembaca pasti bertanya, apa dasarnya kita memberi title kepakaran seseorang kecuali karya-karyanya sudah tampak kasatmata terbaca luas? Maka biasanya media kembali pada di mana seseorang bekerja.
Namun begitu atasan ikut membaca dan tulisan itu bisa ditafsirkan lain, urusannya bisa menjadi panjang. Di TNI-AU sendiri harus diakui budaya menulis dan intelektualitasnya dapat dikatakan tinggi. Kita tahu, mantan KSAU Marsekal (Purn) Chappy Hakim adalah penulis dan pengamat yang sangat produktif dan dihormati. Semasa aktif di TNI dia pun aktif mendorong kolega-koleganya menulis buku. Jadi Kolonel Adjie bukanlah pembangkang yang perlu dikhawatirkan.
Namun yang perlu diwaspadai adalah manakala budaya menulis di TNI AU itu mati atau meredup. Budaya ini biasanya mati manakala orang-perseorangan sudah tidak peduli lagi dengan nasib bangsa dan hanya asyik dengan karier sendiri.Yang penting jadi pejabat, jadi jenderal,marsekal,laksamana, deputi, panglima, atau kepala staf. Untuk duduk di posisi-posisi itu yang dibutuhkan seakan-akan cuma loyalitas dan kepatuhan. Nah begitu konsentrasi orang hanya ke sana, celakalah para intelektual dan penulis.
Mereka akan dianggap sebagai ancaman dan sosoknya menjadi terlihat aneh. Penulis dan intelektual dikenal luas di luar, tetapi di dalam pangkatnya susah naik, dan tak jarang mereka hidup terteror, difitnah,dianggap bodoh,sok tahu, dan seterusnya.Tetapi semua itu hanyalah cermin ketakutan dan ketidakberdayaan hierarki terhadap tajamnya pena seorang penulis atau kolumnis.
Kalau Adjie Suradji sukses dan terus mengasah penanya, dia justru akan menjadi penulis hebat dan kelak orang-orang yang menistakannya dapat mengatakan,”Dia itu teman saya.”Tetapi sebaliknya, dalam politik subordinasi,seorang penulis yang menjadi karyawan yang belum jadi, ya temantemannya bisa saja berujar,”Siapa dia?” Pengalaman saya sebagai kolumnis dan juga pengalamanpengalaman kolumnis-kolumnis lainnya menunjukkan perlunya kegigihan dalam memperjuangkan kebenaran.
Sebagai bawahan kita semua mengalami masa-masa yang sulit. Tulisan kita bisa dianggap biasa-biasa saja, meski di luar banyak pihak mengkliping dan memberi apresiasi, bahkan media massa terus memberi tempat dan semangat.Saya juga sering melihat pegawai bank yang tulisannya diapresiasi publik dan media massa memberi dia gelar pakar atau pengamat perbankan, namun saat mengunjungi kantornya saya sering merasa kasihan.
Ia cuma dianggap pegawai biasa dan dalam sejumlah hal dianggap ancaman bagi atasan-atasannya atau dianggap sok tahu oleh temantemannya. Semua itu terjadi karena adanya rivalitas. Namun terlepas dari itu semua, intelektualitas dan kepakaran seorang penulis tentu perlu dibuktikan dengan kesungguhannya berkarya dan menjaga integritasnya. Banyak pantangan yang harus dilakukan agar apa yang ditulis bukan sekadar baik bila dilakukan orang lain (pemimpin), melainkan juga melekat pada diri yang bersangkutan.
Saat menuntut pemberantasan korupsi misalnya, kita pun harus teguh menolak suap dan bekerja keras memberantasnya dalam hidup pribadi kita. Saat menuntut presiden agar teguh dan berani melakukan perubahan,kita pun perlu melakukannya dalam hidup dan perjuangan kita.Ketika menyuarakan kedamaian,tak ayal kita pun harus berperilaku damai. Semua itu ada ujiannya, dan ada fitnah-fitnahnya. Hadapi saja, sebab hanya di bawah api yang membara, dan godam yang ditempa terus-meneruslah sebatang besi berubah menjadi baja yang kuat dan mengkilat.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

?