Rabu, 22 September 2010 – 07:51 wib
JAKARTA – Perjuangan seorang perempuan tuna rungu, Galuh Sukmara Soejanto, patut diacungi jempol. Keterbatasannya tidak menyurutkan semangatnya meraih gelar pendidikan. Dia berjuang meraih sarjana dan master.

Studi sarjana Psikologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dia tempuh selama sepuluh tahun. Kegigihannya dalam meraih gelar strata satu itu pun akhirnya membuahkan hasil. Dia pun meraih gelar sarjana. Tidak berhenti sampai di situ, dia kini tengah berjuang menyelesaikan studinya hingga ke jenjang S2. Wanita berkerudung itu pun mendapat beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Keminfo), guna studi di pascasarjana La Trobe University, Melbourne, Australia, dalam bidang bahasa isyarat.

“Kenapa (gelar sarjananya) begitu lama? Karena dia tidak mendapatkan bantuan khusus. Di UGM dia menerima materi pelajaran hanya dengan membaca bibir dosen,” jelas Wakil Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) Dirgayuza Setiawan, dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, Rabu (22/9/2010).

Sebenarnya, perempuan berkerudung ini dilahirkan normal. Dia kehilangan kemampuan mendengar sejak usia dua tahun. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat Galuh untuk mendapat pendidikan tinggi. Galuh ingin membuktikan kepada dunia, bahwa Indonesia, negara yang sudah terkenal kaya akan keragaman bahasa lisan, juga kaya akan bahasa isyarat.

Karena semangatnya yang begitu kuat, akhirnya PPIA mendokumentasikan perjuangan Galuh dalam video dan dipublikasikan melalui situs pengunggah video YouTube. http://www.youtube.com/watch?v=DKY2NcXjCW0 Video tersebut, lanjut dia, merupakan bentuk dukungan PPIA terhadap perjuangan Galuh. “Dalam waktu dua minggu saja, episode ini sudah mendapatkan lebih dari 2.000 penonton di YouTube,” terang Dirgayuza.

Dirgayuza memaparkan, Lingkar Ide PPIA merupakan program knowledge sharing dari PPI Australia. “Melalui medium film dokumenter singkat, PPIA mendokumentasikan riset-riset yang berguna untuk bangsa Indonesia, yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Australia,” imbuhnya.

Selain menjadi wakil atas lebih dari 15 ribu pelajar Indonesia di Australia, PPI Australia juga menjadi pusat informasi tentang berbagai beasiswa Australia untuk pelajar Indonesia, serta beragam program unggulan PPI Australia seperti Buku Untuk Anak Bangsa, Lingkar Ide PPIA dan buku Contribution Matters.(rhs)