Melepas Nyawa demi Ribuan Warga
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/363043/
Tuesday, 09 November 2010
Letusan Gunung Merapi meninggalkan kisah pilu bagi masyarakat Indonesia,khususnya terhadap keluarga korban.Termasuk jajaran Taruna Siaga Bencana (Tagana) Daerah Istimewa Yogyakarta yang anggotanya turut menjadi korban.
ANGGOTA Tagana, Supriyadi, 28, dan Jupriyanto, 35, serta seorang relawan lokal, Aris Widiyatmoko, 19,ditemukan tewas di Cangkringan, Sleman,Yogyakarta, pada Senin (8/11) pagi. Ketiganya diduga tewas diterjang awan panas saat sedang mengevakuasi warga Dusun Beslen,Glagaharjo, pada Kamis (4/11) malam. Mereka adalah bagian orang-orang yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan ribuan warga. Saat itu ketiganya sudah berhasil mengumpulkan sekitar 2.000 warga ke Posko Beslen untuk dibawa ke tempat aman. Namun,mereka mendapatkan informasi bahwa masih ada sekitar 25 warga yang bertahan di lokasi. “Mereka kemudian kembali lagi untuk mengevakuasi yang tertinggal,”ungkap Rahmat,rekan sesama anggota Tagana DI Yogyakarta. Padahal, saat itu kondisi sudah sangat mencekam.
Beruntung, semua warga berhasil diangkut kendaraan. Namun, nahas justru menjemput ketiga anggota Tagana ini. Mereka tewas terpanggang awan panas sebelum kendaraan evakuasi berhasil mencapai dusun itu. “Sempat ada kontak pukul 22.00 WIB pada Kamis (4/11) dengan anggota Tagana lain,”ungkap Rahmat.Namun,pada Jumat (5/11) sekitar pukul 01.00 WIB, anggota kehilangan kontak. Menurut Rahmat,ketiganya sangat berjasa menyelamatkan ribuan warga. Berkat mereka, ribuan warga berhasil dievakuasi saat kondisi Merapi sedang mengamuk. Ironisnya, ribuan nyawa terselamatkan itu harus ditukar hilangnya nyawa ketiga penyelamat ini.

…dst

Para Relawan Sumber Inspirasi
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/10/180798/70/13/Para-Relawan-Sumber-Inspirasi
Rabu, 10 November 2010 00:01 WIB
BENCANA gempa dan tsunami telah meluluhlantakkan Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat. Gelombang panas pun membumihanguskan daerah sekitar letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dua bencana yang datang hampir bersamaan pada akhir Oktober itu tentu saja membutuhkan ikhtiar, biaya, tenaga, dan komitmen yang luar biasa untuk menyelamatkan korban.
Pekerjaan yang amat besar itu dilakukan banyak pihak, terutama para relawan. Mereka masih dan terus berjuang keras menyelamatkan para korban di tengah ancaman serangan awan panas, atau di tengah alam yang tidak bersahabat. Mereka melakukan tugas agung kemanusiaan, menolong sesama. Mereka berusaha sekuat tenaga agar orang lain–yang mereka tidak kenal sebelumnya–terselamatkan. Inilah anak bangsa yang mencintai sesama manusia melebihi diri sendiri. Mereka selalu mendahului pejabat berada di daerah bencana. Pada saat pejabat melarikan diri dari daerah bencana untuk melancong ke luar negeri dengan alasan memenuhi undangan duta besar, para relawan tetap betah bersama korban.
Tidak sulit menemukan relawan di daerah bencana, sekalipun mereka tidak memamerkan atribut. Itulah yang mem para relawan tetap betah berada berbedakan relawan dengan partai politik. Pada saat relawan berlomba-lomba menolong sesama, partai politik justru berlomba-lomba memasang bendera partai. Harus jujur diakui, para relawan lincah bergerak di daerah bencana karena mereka tidak disandera birokrasi. Pada saat pemerintah pusat dan pemerintah daerah linglung bekerja karena tidak punya standard operating procedure (SOP) penanggulangan bencana, para relawan justru menjadikan nurani sebagai standar.

…dst

4 Tagana yang Tewas di Merapi akan Diberi Penghargaan

Minggu, 07/11/2010 23:15 WIB
Jakarta – 4 Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) meninggal dunia karena awan panas Merapi. Atas jasa mereka dalam upaya menyelamatkan pengungsi, Kementerian Sosial (Kemensos) akan memberikan penghargaan bagi relawan. Kami akan beri santunan yang layak kepada ahli waris atau keluarganya dan penghargaan khusus atas jasanya,” kata Mensos Salim Segaf Al Jufri dalam siaran pers, Minggu (7/10/2010).

Salim juga menyampaikan bela sungkawa serta penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Tagana yang gugur dalam tugas. “Mereka telah berjuang menyelamatkan warga pengungsi bersama prajurit TNI, Tim SAR dan relawan lain dengan bertaruh nyawa,” imbuhnya. Kepada anggota Tagana yang lain, Salim berharap agar tetap bersemangat dan berhati-hati di lokasi berbahaya.”Terutama menjaga komunikasi dan memakai perlengkapan yang memadai,” tuturnya. Salim juga sempat mengunjungi Selo, di sana berjumpa Tagana asal Jepara. Mereka, lanjut Salim, bertugas sejak hari pertama erupsi.
“Perjuangan 1.500 Tagana dari berbagai daerah untuk evakuasi, dapur umum,  distribusi logistik sangat berat. Kami apresiasi mereka dan semua petugas, serta relawan,” tutupnya.

Diketahui, empat relawan yang tewas bernama Ariatno, Samiyo, Supriyadi, dan Supriyanto. Jenazah Ariatno dan Samiyo sudah berhasil ditemukan dan kini berada di Rumah Sakit dr Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Sedangkan jenazah Supriyadi dan Supriyanto belum bisa dievakuasi. Keempat relawan itu tewas saat terjadi letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat pada Kamis 4 November malam hingga Jumat 5 November keesokan harinya. Mereka sedang bertugas untuk mengevakuasi penduduk di Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.
>>>

Detik-detik Saat 4 Relawan Tagana Tewas Terkena Wedhus Gembel

Minggu, 07/11/2010 22:42 WIB

Jakarta – “Keempat orang ini anak-anak Glagaharjo. Mereka mempunyai motivasi yang sama untuk menyelamatkan para pengungsi di desanya. Kinerjanya bagus sekali. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kami merasa sangat kehilangan.”

Itulah kesan yang disampaikan oleh Komandan relawan Taruna Siaga Bencana(Tagana) Andi Anindito, terhadap 4 relawan Tagana yang gugur saat bertugas di Gunung Merapi. Dua jenazah, Ariatno dan Samiyo, kini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Sedangkan dua lainnya, Supriyadi dan Supriyanto, masih terkubur material panas Gunung Merapi sedalam 3 meter.

“Keluarga sudah meminta agar segera ditemukan. Tapi bagaimana lagi. Jenazah tertimbun 3 meter oleh material merapi. Lagi pula material itu masih sangat panas,” kata Andi ketika dihubungi detikcom, Minggu (7/11/2010). Andi menceritakan, pada saat terjadi letusan terdahsyat Merapi pada Kamis 4 November 2010 hingga Jumat keesokan harinya, keempat relawan itu berjaga di dusunnya, Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar 12 Km dari puncak Merapi.

Supriyadi dan Supriyanto menjaga gudang logistik bantuan. Sementara Ariatno dan Samiyo berjaga di tempat lain, namun masih berada di wilayah Glagaharjo. Ketika Merapi menunjukkan tanda-tanda memburuk pada Jumat pukul 01.00 WIB, Supriyadi dan Supriyanto mendengar adanya sejumlah penduduk yang terancam oleh awan panas. Di sini lain, keduanya harus menjaga logistik pengungsi.”Namun, mereka tetap mendekati para pengungsi dan membujuk turun. Akhirnya malah nggak selamat,” ucapnya.

>>>

Bencana Melanda, Panggilan Itu Datang

http://berita.liputan6.com/liputanpilihan/201011/304472/Bencana.Melanda.Panggilan.Itu.Datang

02/11/2010 12:42

Liputan6.com, Sleman: Setiap bencana tiba, di situ selalu hadir relawan. Ya, orang-orang yang berani menantang maut di saat orang lain kabur mencari selamat. Hal itu terjadi ketika Gunung Merapi memuntahkan amarahnya. Panggilan itu pun datang kepada para relawan.

Dua relawan pemberani itu di antaranya, Sobirin dan Dedy alias Kenthir. Mereka tak kenal takut menantang maut. Kendati hanya berbekal sebuah handy talky, mereka dengan sigap mengabarkan bahaya yang akan terjadi.  Setiap harinya, kedua relawan tersebut memantau aktivitas Gunung Merapi dari radius empat kilometer saja. Mereka berkeliling sambil memberitahu warga yang masih bertahan di kediamannya di dekat  Merapi ,untuk segera mengungsi ketika awan panas datang.

…dst

Mereka Menantang Maut

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/31/04362931/mereka.menantang.maut
Minggu, 31 Oktober 2010 | 04:36 WIB
Meskipun ngeri menyaksikan kedahsyatan erupsi Merapi, para sukarelawan bertaruh nyawa menyelamatkan sesama. Anggota taruna siaga bencana, Slamet Ngatiran (30), bahkan benar-benar tewas dalam tugas di lereng Merapi. Ia meninggalkan istrinya, Mujinem (28), yang sedang hamil tiga bulan.

Anggota taruna siaga bencana (Tagana) dari Parangtritis, Bantul, Edu, tak kalah setia dengan menjadi sukarelawan selama tiga hari di Dusun Ngandong, Girikerto, Turi, Sleman. Ia terdorong membantu korban bencana alam sebagai balasan utang budi ketika para sukarelawan berbondong-bondong datang pada saat Bantul diguncang gempa hebat tahun 2006. Selama tiga hari di barak pengungsian Edu tidur menggelandang. Sesekali tidur di bangunan sekolah, tetapi ia lebih sering tidur di tepi jalan raya. Membeludaknya pengungsi pasca-letusan Merapi membuat tak ada lagi sisa ruang bagi sukarelawan untuk terlelap di barak pengungsian. Ketika Gunung Merapi kembali meletus pada Sabtu (30/10) malam, warga panik berlarian menuju lokasi terendah. Sebaliknya, relawan seperti Edu justru bergegas bolak-balik membawa mobil Colt mendaki lereng Merapi untuk sebanyak mungkin membawa warga ke lokasi aman…cut…

Jadi sukarelawan tidak hanya soal membantu para korba bencana tanpa bayaran, tetapi terkadang juga berarti menantang maut, bahkan rela mengorbankan nyawa sendiri demi menyelamatkan orang lain.(GSA/PRA/IRE/WKM)

>>>

Kisah Seorang Relawan

http://nasional.vivanews.com/news/read/186233–di-merapi–jangan-sok-dan-sembarangan-

Selasa, 2 November 2010, 06:31 WIB

Meski kematian adalah risiko, anggota tim SAR dibekali dengan prinsip: “Selamatkan diri anda sebelum menyelamatkan orang lain.”
“Bukan berarti lari duluan, tapi sebelum menyelamatkan harus tahu kondisi daerahnya, misalnya di Merapi luncuran awan panas sampai mana,” kata dia.
Kini, harapan Suseno sederhana, ia ingin warga sadar jika diminta mengungsi, sadar bahwa Merapi masih rawan. “Alhamdulillah di wilayah DIY warga sudah tahu, di Kinahrejo, saat letusan susulan, tak ada korban,” kata dia, penuh syukur. Jangankan istirahat cukup, tim harus siap kapanpun diperlukan terjun ke lapangan. Mengobrol dengan sesama anggota tim jadi hiburan dan penguat mental.
Ketika ingatannya kembali ke rumah, dukungan dan kerelaan keluarga jadi bekal berharga bagi Suseno.
“Putri saya, Adilia bilang pada tetangga, di manapun Bapakku mati, itu tugas mulia.” kata Suseno tercekat.
“Kalau bagi saya, hidup mati di tangan Allah,” kata Suseno. “Dalam pekerjaan ini yang terpenting adalah keikhlasan. ”

…dst

Informasi di Awal Bencana
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/30/0435536/informasi.di..awal..bencana

Sabtu, 30 Oktober 2010 | 04:35 WIB
Emmy Hafild
Direktur Program Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan
Gempa dan tsunami terjadi lagi di Sumatera Barat, tepatnya di Pulau Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ratusan orang tewas dan ratusan lainnya hilang, jumlah yang cukup besar pada suatu populasi yang sangat kecil. Ini terjadi saat kita masih terguncang dengan lambat dan lemahnya pertolongan pertama pada korban banjir bandang di Wasior. Kebetulan saya sedang berada di Padang saat peristiwa terjadi. Baru saja menyelesaikan Focus Group Discussion untuk rencana strategis penanggulangan bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Pariaman, serta peresmian SDN dan puskesmas di kabupaten yang sama.
…cut…
Saya tidak mendapatkan informasi lokal, tidak mendapatkan bimbingan dari BPBD setempat apa yang harus dilakukan dan ke mana harus mencari informasi. Saya mencoba bertanya kepada pegawai hotel, mereka juga tidak dapat menjawab. Satu-satunya sumber informasi saya adalah televisi nasional yang secara terus-menerus memberikan informasi. Sayangnya, tayangan hanya berisi informasi umum, tidak memenuhi kebutuhan informasi masyarakat lokal untuk menghadapi keadaan darurat dengan benar.
Pagi harinya televisi yang sama mewawancarai kepala BPBD Sumbar dan tidak ada informasi bahwa telah terjadi tsunami. Baru setelah saya sampai di Jakarta, pukul 17.00, televisi nasional menginformasikan bahwa telah terjadi tsunami di beberapa kampung di Pulau Pagai Selatan. Puluhan korban tewas dan ratusan hilang.
Selama hampir 24 jam, pemerintah dan BPBD Kabupaten Mentawai dan Sumatera Barat tidak mempunyai informasi yang akurat dan tepat mengenai apa yang terjadi. Padahal, mereka berwenang dan berada di lokasi yang terdekat dengan lokasi gempa. Mereka bahkan belum mampu mencapai daerah bencana dengan alasan cuaca sangat buruk.

…dst

Dipersilahkan baca :
JPNN, 01/11/2010 05:23
Letusan Dahsyat 10 Jam Sekali
Detiknewxs, Senin, 01/11/2010 04:04 WIB
Tambah 4.000, Total Pengungsi Merapi jadi 66.500 Jiwa
Sindo, 01/11/20210
Energi Merapi Tiga Kali Lipat Letusan 2006
Sindo, 01//11/2020
Abu Merapi Menuju Timur
JPNN, 31/10/2010 13:36 wib
Dua Jam Terkumpul Rp 3,5 M
Liputan 6, 31/10/2010 06:26 | Gunung Merapi
Persiapan Sarana Gunung Berapi Kurang Maksimal
Republika, 31 Oktober 2010 06: 09 Wib
Cuaca Buruk Hentikan Pendistribusian Bantuan Tsunami
Kompas Cetak, 31 Oktober 2010 03:08 Wib
Relawan Jangan Menambah Korban
Suara Merdeka, 31 Oktober 2010
Mereka Memilih Kembali Bersanding dengan Merapi
Detik Bandung, Sabtu, 30/10/2010 16:42 WIB
Gunung Papandayan Waspada, PVMBG Minta Tak Ada Aktivitas di Radius 1 KM
Detiknews, Sabtu, 30/10/2010 22:59 WIB
PVMBG Imbau Hati-hati Beritakan Merapi agar Warga Tak Panik
JPNN, Sabtu, 30 Oktober 2010 , 05:27:00
Koordinasi Tangani Mentawai Berantakan

Detik.Com, 30 Oktober 2010 03:13 wib
Gempa Kembali Guncang Mentawai
Sindo, 20 Oktober 2010
Merapi Mengamuk Lagi
Inilah.Com, 30 Oktober 2010 02:55 wib
Warga Diminta Menjauh 10 Km dari Merapi
JPNN.COM, 29 Oktober 2010 21:21 wib
Anak Krakatau Ikut-ikutan Aktif
Tempo, 29 Oktober 2010 21: 2 Wib
Empat Hari Terombang-ambing di Laut, Bocah Korban Tsunami Selamat
JPNN.COM, 29 Oktober 2010 21:04 wib
Harus Berani Akui Ini “Negara Gempa”
Vivanews, 29 Oktober 2010 15:05 wib
Ikut Berduka, Ratu Inggris Surati Yudhoyono
Republika, 28 Oktober 2010 18:36 Wib
Tinjau Mentawai, Presiden SBY Teteskan Air Mata