Ijazah Mahasiswa Akper Fatima Ditolak Melamar CPNS

Ijazah Mahasiswa Akper Fatima Ditolak Melamar CPNS
Selasa, 23 November 2010 23:45 WIB
Mamuju (ANTARA News) – Berkas lamaran puluhan mahasiswa yang menggunakan ijazah lulusan Akademi Perawat (Akper) Fatima Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, ditolak sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada penerimaan tahun 2010 di wilayah itu.

Nurmawati, salah seorang lulusan Akfer Fatima di Mamuju, Selasa, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya karena ijazah yang dikeluarkan pengelola Akper Fatima hingga kini tidak terakreditasi sehingga pihak panitia penerimaan CPNS di Mamuju menolak lamaran mereka untuk diangkat sebagai pegawai negara. “Lamaran kami ditolak oleh panitia penerimaan CPNS pada Badan Kepegawaian Diklat dan Daerah (BKDD) Mamuju maupun tingkat provinsi akibat ijazah yang dikeluarkan oleh pengelola Akper Fatima dinyatakan belum terakreditasi,” ungkap Nurmawati. Ia mengatakan, bukan hanya mengalami kekecwaan atas penolakan lamaran tersebut, namun dirinya lebih malu terhadap kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membiayai hingga lulus di Akper pada tahun ajaran 2008/2009 lalu. Dia mengemukakan, ada sekitar 50-an lulusan Akper Fatima yang melamar menjadi CPNS terpaksa harus gigit jari karena harapan untuk bisa melamar dengan menggunakan ijazah S1 ini tak dapat digunakan untuk melamar pekerjaan.

“Pihak pengelola Akper Fatima harus mempertanggungjawabkan atas keadaan yang kami alami baik kerugian materil maupun kerugian moril. Kami pasti malu jika masyarakat setempat mengetahui bahwa ijazah yang kita dapatkan melalui pendidikan sekolah tinggi Akper ini tidak berlaku untuk digunakan melamar baik pegawai negara maupun pegawai swasta,” ungkapnya. Nurmawati mengemukakan, dirinya memilih sekolah pada Akper Fatima karena pihak perguruan tinggi mengakui sudah memiliki ijin yang resmi. Namun ternyata, ijazah ini juga tetap belum berlaku untuk melamar pekerjaan.

Hal senada dikatakan, Ilham, salah seorang lulusan mahasiswa Akper Fatima Mamuju ini mengatakan, kecewa dengan pihak yayasan yang seolah-olah membodohi para mahasiswa. Dia mengatakan, pihak pengelola Akper Fatima hanya mencari keuntungan tanpa memikirkan nasib mahasiswa. “Kami dan teman-teman lain akan menghadap kepada pihak pengelola Akfer Fatima untuk memperjelas kembali terkait ijazah yang dikeluarkan ini ternyaa belum terakreditasi,” kata dia. (ACO/K004)

=====================================================================

MASIH BANYAK FATIMA DAN ILHAM DI NEGERI INI YANG SEDANG MEMEGANG IJAZAH YANG TIDAK BISA LAMAR KERJA AKIBAT PRODI YANG MENERBITKAN IJAZAH MEREKA BELUM TERAKREDITASI BAN-PT.

Oh malangnya anak-anak miskin di negeri kita ini, ke mana mereka bisa peroleh KEADIALAN? Adakah yang perdulikan masa depan mereka dan kedukaan orang tua mereka yang telah berjuang mati-matian demi bisa sekolahkan buah hati mereka sampai ke jenjang PENDIDIKAN TINGGI ?
Orang susah ekonomi biasanya miskin info, mereka tidak memiliki komputer bahkan tak ada kelebihan uang beli koran, bagaimana mereka bisa tahu AKREDITASI BAN-PT itu wajib untuk PT-PT di Indonesia dan bagaimana mereka bisa tahu ijazah dari Prodi yang belum terakreditasi akan ditolak panitia penerimaan CPNS/Pegawai BUMN, BUMD bahkan kebanyakan Perusahaan swasta? Yang mereka tahu sekolah itu memiliki surat ijin (Sk Operasional dari Dikti)dan selama ini ijazahnya laku di bursa penerimaan pegawai.

Uang kuliah di PT yang terakreditasi dengan yang belum terakreditasi biasanya berbeda, makin bagus peringkat akreditasinya uang kuliahnya makin mahal. Masyarakat ekonomi lemah mana ngerti, mereka hanya tahu cari dan pilih PT yang memiliki ijin Dikti dan termurah uang kuliahnya. Itulah kemampuan mereka dalam usaha memperjuangkan nasib anak-anak mereka. Tahukah di setiap sen uang kuliah yang sudah di bayar ke PT tersimpan keringat dan air mata kepahitan hidup? tahu nggak bagaimana besar HARAPAN MEREKA suatu hari anak-anak yang mereka kuliahkan bisa JADI ORANG yang mampu mengangkat mereka dari lumpur kehinaan akibat kemiskinan ?

Alangkah sedih setelah lulus studi mereka harus berhadapan dengan realitas sirnanya suatu HARAPAN, harapan untuk memperoleh THE BETTER FUTURE. Jangan biarkan mereka larut dalam kekecewaan dan kesedihan, mereka ini juga anak-anak kita, bunga harapan bangsa. Kalau bisa memilih mereka juga tak ingin hidup dalam kemiskinan. Semoga akan ada SOLUSI YANG ADIL untuk mereka, para lulusan dari Prodi-Prodi yang belum ataupun masa akreditasi sudah habis, amin.

Nurfitri Thio