Program Wirausaha Dihentikan
Padahal Telah Menghasilkan Ratusan Bibit Pengusaha dari Mahasiswa
http://newspaper.pikiran-rakyat.com

BANDUNG, (PR)-03 Januari 2011
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, menghentikan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) pada 2011. Padahal, program yang telah dilakukan selama dua tahun berturut-turut itu, telah menghasilkan ratusan bibit wirausahawan dari kalangan mahasiswa.

Hal itu dikatakan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi (Kopertis) Wilayah IV, Abdul Hakim Halim, saat ditemui di kantornya Jln P.H.H. Mustofa, Bandung, beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, pemberhen-tian program ini tidak hanya untuk perguruan tinggi swasta melainkan juga negeri.

Hakim mengatakan, dia tidak mengetahui secara pasti mengapa Kemendiknas menghentikan program tersebut. Padahal, sebelumnya dia sudah mengusulkan agar program tersebut kembali digulirkan. “Mungkin Kemendiknas sedang merumuskan formula yang tepat bagaimana seharusnya program ini digulirkan, sehingga nantinya bisa tepat sa-saran,” ujarnya.

Menurut Hakim, program tersebut berdampak sangat positif, karena melahirkan banyak wirausahawan baru. Berdasarkan monitoring yang dilakukan Kopertis, usaha peserta PMW tetap bertahan sampai saat ini. “Bahkan, ada kasus seorang lulusan yang diterima di perusahaan besar tidak jadi bekerja di sana, karena memilih mene-ruskan usaha yang telah dirintisnya tersebut,” katanya.

Pada 2010, Kopertis Wilayah IV Jawa Barat Banten menerima kucuran dana Rp 1,25 miliar untuk PMW. Bantuan diberikan kepada 40 perguruan tinggi swasta yang terpilih berdasarkan proposal yang masuk ke Kopertis. Sebelumnya, setiap perguruan tinggi melakukan seleksi untuk memilih satu kelompok, yang proposalnya akan diajukan ke Kopertis.

Setiap kelompok menerima anggaran dana yang berbeda, sesuai dengan jumlah anggota dan jenis usahanya. Setiap orang rata-rata menerima Rp 8 juta. “Jadi, kalau kelompok tersebut terdiri dari dua orang, maka dia berhak menerima Rp 16 juta. Akan tetapi, ada juga kelompok yang menerima dana kurang dari itu, sesuai dengan yang dibutuhkan,” kata Hakim.

Hakim mengakui, jatah perguruan tinggi swasta tidak sebesar perguruan tinggi negeri. “Untuk perguruan tinggi negeri, dana Rp 1 miliar hanya untuk satu perguruan tinggi, sementara untuk di swasta, dana Rp 1 miliar untuk 400 perguruan tinggi,” ujarnya.

Meskipun demikian, sayangnya tidak semua perguruan tinggi swasta memanfaatkan program ini. Dari 400 perguruan tinggi swasta yang ada di bawah naungan Kopertis Wilayah IV, hanya 63 perguran tinggi yang mengirimkan proposal kepada Kopertis. Padahal, Kopertis sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh perguruan tinggi tersebut. “Kami bahkan melakukan sosialisasi dengan jemput bola ke beberapa spot. Akan tetapi, mungkin mereka tidak memiliki ide,” ujarnya.

Paradigma Sunda

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan Dedi Hadian menuturkan, yang sering kali dilupakan PT ialah penekanan moral lulusan yang masih terpengaruh kultur daerah sekitar. “Yang harus diubah pertama kali adalah paradigma masyarakat Sunda yang sulit memulai suatu bisnis disebabkan sifat malu, ragu memulai, atau terlalu sering me-ngalah demi orang lain,” ka-tanya.

Dedi menjelaskan, masalah pertama yang muncul di benak para lulusan adalah keraguan dalam memulai suatu bisnis. “Mereka ragu memulai bisnis karena takut rugi, takut gagal, atau takut tidak laku,” tuturnya.

Paradigma tersebut, kata dia, membuat masyarakat Sunda kalah bersaing dengan atmosfer bisnis yang ada. Saat ini, diperlukan lulusan Sunda yang berani tampil beserta hasil inovasi dan kreasinya. “Ini eranya kompetisi. Siapa yang memiliki kecepatan dan inovasi, dia yang akan berhasil,” ujar Dedi, yang juga Sekjen Paguyuban Pasundan itu.

Di STIE Pasundan, mahasiswa mendapatkan pendi-dikan kewirausahaan selama dua semester. Dengan bimbingan dosen, mahasiswa diberi modal awal untuk praktik dan diarahkan pada konsentrasi bisnis yang relevan di lapang-an. (A-185/A-196)***