SISTEM INFORMASI
Peringatan Dini Lahar Merapi

Rabu, 26 Januari 2011 | 04:06 WIB
OLEH YUNI IKAWATI
Tumpukan lava yang kini bertengger di Puncak Merapi bagai momok yang siap menelan permukiman di kaki gunung itu. Ancaman itu datang saat hujan lebat yang menyebabkan banjir lahar. Salah satu cara meredamnya adalah dengan memasang sistem peringatan dini bencana.

Kekhawatiran masyarakat di lereng gunung berapi di Yogyakarta itu memang beralasan karena volume lava pasca-letusan Oktober-November tahun lalu telah mencapai 14 kali lipat dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi.

Hujan yang mengguyur kawasan itu dalam dua bulan terakhir ini telah menimbulkan terjangan banjir lahar dan timbunan batuan dan pasir yang luas. Padahal, menurut taksiran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, material yang ”turun gunung” baru sekitar 10 persen dari seluruhnya.

Untuk memberi peringatan akan datangnya ancaman itu di kawasan Merapi, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Badan Geologi Kementerian ESDM Subandriyo mengatakan telah menambah jumlah sistem peringatan dini banjir lahar.

Sistem peringatan dini lahar Merapi, sebagai salah satu gunung api yang aktif di dunia itu, menurutnya sudah terpasang sejak tahun 1994. Sistem peringatan dini lahar terdiri dari alat penakar curah hujan otomatis, kamera CCTV, dan geofon atau pemantau aliran akustik yang masing-masing dilengkapi dengan sistem telemetri atau alat pengirim data secara otomatis ke stasiun pusat pemantau di BPPTK dan pengendali operasi di Kabupaten Magelang dan Sleman.

Geofon

Geofon adalah alat pemantau gerakan atau pergeseran tanah yang mengonversikannya menjadi tegangan listrik sehingga pergerakan itu dapat direkam. Berbeda dengan alat pemantau gempa atau seismometer, geofon mengukur gelombang di permukaan bumi yang frekuensinya lebih tinggi sekitar 1 hertz dibandingkan dengan gelombang gempa yang sumbernya ada di lempeng bumi.

”Alat yang berupa tabung ini akan ditanam sedalam setengah meter kemudian dihubungkan kabel ke telemetri untuk pengiriman hasil rekamannya secara langsung ke stasiun pusat,” papar Subandriyo.

Geofon yang terpasang pertama kali di Merapi pada 1994 merupakan bantuan United States Geological Survey (USGS). Namun, alat itu, sejumlah empat unit, semuanya telah rusak tahun 1997.

Kemudian perekayasa di BPPTK berhasil merancang sistem serupa dengan mengadopsi teknologi AS itu. Dua alat hasil rekayasa itu dipasang di Kali Gendol pada tahun 2006.

Sejak November tahun lalu, telah terpasang lima geofon di lereng selatan Merapi, yaitu di Kali Gendol (1), Kali Opak (1), Kali Kuning (1), dan Kali Boyong (2). Dengan bantuan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, akan dipasang sembilan geofon di lereng barat.

Geofon dipasang pada jarak 5 hingga 7 km dari puncak Merapi. Begitu terpantau pergerakan material merapi, geofon akan mengirimkan sinyal ke pusat pemantau. Peringatan dini ini diteruskan ke masyarakat.

Menurut perkiraan Subandriyo, material vulkanik berupa lahar memakan waktu 15 menit hingga setengah jam untuk sampai ke lereng gunung berapi itu.

Penakar hujan

Selain geofon pada sistem peringatan dini banjir lahar, juga dipasang alat penakar curah hujan otomatis yang lokasinya 2 km dari puncak gunung. Dengan pemantauan lebih ke hulu, peringatan bahaya lahar ke masyarakat bisa sampai lebih awal.

Sistem pengukur curah hujan jarak jauh secara langsung atau realtime dirancang oleh Sunarno, Guru Besar Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM.

Sistem yang terpasang di Balerante itu mengirimkan data berupa informasi analog, menggunakan frekuensi audio. Pengoperasiannya melibatkan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia DI Yogyakarta. Tujuannya agar masyarakat umum yang memiliki HT (handy transceiver) dapat turut memantau dan menyampaikan peringatan dini ke masyarakat. Saat ini anggotanya ada sekitar 7.000 orang.

Masyarakat dapat memantau di frekuensi 144,125 MHz dan 431, 125 MHz. Dari suara, semakin tinggi nada, semakin deras. ”Pada saat hujan sangat deras suaranya mirip sirene, sedangkan pada saat tidak hujan terdengar nada stand by setiap tiga detik,” urai Sunarno.