1 ) Hari ini IPB Umumkan Merek Susu Berbakteri
http://www.jpnn.com/

Hari ini IPB Umumkan Merek Susu Berbakteri Rabu, 23 Februari 2011 , 06:16:00
JAKARTA – Desakan agar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka nama merek susu berbakteri akhir dipenuhi. Hari ini, rencananya IPB dan Kemenkes akan mengumumkan kepada publik merek susu yang tercemar bakteri enterobacter sakazakii. Pengumuman merk susu ini akan dilakukan di kantor Kemenkes Jakarta jelang rapat kerja dengan komisi IX DPR RI. “Besok (hari ini, Red) akan diumumkan kepada publik,” kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono di kantornya Jalan Medan Merdeka Barat, Selasa (21/2). Agung mengatakan bahwa keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek dan tentunya putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan konsumen. Pengumuman merk susu ini, kata dia, tidak atas dasar desakan dari pihak manapun, termasuk dari Presiden SBY. Bahkan dalam pertemuan menteri KIB II di istana Bogor kemarin samasekali tidak ada pembahasan mengenai kasus ini. “Ini mutlak dari hasil pertemuan saya dengan Rektor IPB Herry Suhardiyanto, dan ibu Menkes . Mereka telah menerima amar putusan dari MA,” ujar Mantan Ketua DPR.

…dst

Kesimpulan dari hasil rapat dengan Komisi IX hari ini bisa baca di:
http://www.kopertis12.or.id/2011/02/23/terkait-susu-formula-tiga-kesimpulan-dari-hasil-rapat-dengan-komisi-ix-hari-ini.html

>>>

2 ) KY Tegur Menkes,BPOM,dan IPB
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/383578/

Wednesday, 23 February 2011
JAKARTA(SINDO) – Komisi Yudisial (KY) memerintahkan Menteri Kesehatan,BPOM,dan Institut Pertanian Bogor (IPB) agar segera mematuhi putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) mengumumkan merekmerek susu formula berbakteri Enterobacter sakazakii. “Kami mengingatkan agar ketiga tergugat patuh pada hukum.Taati putusan MA,” tegas anggota KY Suparman Marzuki di Jakarta kemarin. Teguran terhadap Menteri Kesehatan, IPB, dan BPOM akan dilayangkan secara tertulis. Menurut Suparman, tindakan KY ini merupakan tindak lanjut atas pengaduan penggugat,David Tobing,yang telah memenangi perkaranya di pengadilan tingkat pertama, banding, hingga kasasi. Dalam surat teguran tersebut, ketiga tergugat diingatkan untuk secepatnya mengumumkan merek-merek susu formula yang tercemar bakteri berbahaya E-sakazakii berdasarkan hasil penelitian IPB pada kurun waktu 2003-2006. “KY berharap semua pihak mematuhi putusan MA karena tujuan bernegara hukum ini untuk keadilan,” tandas Suparman. KY sangat berkepentingan dalam hal ini karena salah satu kewenangan lembaga ini adalah mendorong penegakan hukum.KY juga menjaga kewibawaan lembaga peradilan yang hingga kemarin putusannya masih diabaikan begitu saja oleh IPB,Menteri Kesehatan,dan BPOM. Suparman menegaskan,alasan IPB yang menolak mengumumkan merek-merek susu formula berbakteri demi etika akademik sudah basi.Argumentasi tersebut pernah digunakan IPB di pengadilan dan ditolak hakim. “IPB tidak bisa mengelak lagi,”ungkapnya. Sementara itu,David Tobing sangat berharap KY terus mengawal perkara ini hingga Pengadilan Jakarta Pusat (bila diperlukan) melakukan sita eksekusi dokumen hasil penelitian IPB sesuai permohonannya.

…dst

3 ) Kejagung Tunggu SKK Menkes Soal Susu Formula
http://www.antaranews.com/berita/247167/kejagung-tunggu-skk-menkes-soal-susu-formula

Selasa, 22 Februari 2011 19:17 WIB
Jakarta (ANTARA News) – Kejaksaan Agung mengakui Kementerian Kesehatan sudah meminta untuk menjadi jaksa pengacara negara terkait putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) soal merek susu terkontaminasi bakteri zakasakii. “Mereka (Kemenkes) baru datang ke kita, jadi sedang disiapkan surat kuasa khusus (SKK)-nya untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK). Jadi kita bertindak sepanjang surat kuasa khusus tadi,” kata Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kamal Sofyan di Jakarta, Selasa. Sebelumnya dilaporkan, keputusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010, mewajibkan Kemenkes, BPOM dan IPB menginformasikan merek susu terkontaminasi ke publik. MA menerangkan perintah itu dalam putusan kasasi yang memenangkan gugatan David M. Tobing yang memperkarakan hasil penelitian Institut Pertanian Bogor terhadap 22 sampel susu formula dan makanan bayi yang beredar pada periode 2003-2006. Hasil riset yang kemudian dipublikasikan 22,7 persen dari sampel tercemar bakteri “enterobacter sakazakii”, jenis bakteri yang menyerang selaput otak dan jaringan pencernaan bayi. Dikatakan, untuk permohonan PK, akan dilakukan setelah 180 hari sejak diterimanya putusan. “Putusan itu sendiri belum diterima (oleh Kemenkes),” katanya.

…dst

4 ) Publikasi Penelitian dan Kode Etik Intelektual
http://www.antaranews.com/news/246938/publikasi-penelitian-dan-kode-etik-intelektual

Senin, 21 Februari 2011 09:03 WI
Padang (ANTARA News) – “Meskipun hasil penelitian berdampak sangat buruk terhadap satu pihak tertentu, namun jika dalam kontraknya diisyaratkan tidak mengumumkan secara luas, peneliti perguruan tinggi tidak berhak mengumumkannya secara langsung tanpa seizin yang memberikan kuasa penelitian.” Pernyataan itu disampaikan Prof. Musliar Kasim di Padang, Sabtu pekan lalu. Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia itu mengatakan, peneliti pada perguruan tinggi adalah kaum intelektual yang padanya melekat sejumlah kode etik yang harus ditaatinya, termasuk dalam soal penelitian. “Jika penelitian itu sifatnya murni individu, boleh-boleh saja diumumkan sendiri oleh peneliti yang bersangkutan, namun jika penelitian itu pesanan dari satu instansi tertentu, tentu saja untuk mengumumkannya perlu izin dari yang bersangkutan,” kata Musliar.
…cut…Untuk mengumumkan hasil penelitian, perguruan tinggi memiliki sejumlah kode etik yang salah satunya menyebutkan publikasi hasil penelitian harus sesuai kontrak. “Jika memang dalam kontraknya tidak untuk dipublikasikan secara luas, maka peneliti tidak berhak mengumumkannya pada masyarakat,” katanya. Oleh karena itu, Musliar menganggap mengumumkan hasil penelitian susu formula oleh IPB itu sangat riskan.

…dst

5 ) BPOM Serahkan Masalah Susu Tercemar ke Kejakgung
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/02/22/165460-bpom-serahkan-masalah-susu-tercemar-ke-kejakgung

Selasa, 22 Februari 2011, 14:50 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Mengikuti langkah Kementrian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyerahkan permasalahan putusan Mahkamah Agung (MA) tentang kewajiban mengumumkan nama susu formula yang tercemar enteroacter sakazakii ke Jaksa Agung. Sebelumnya, Menteri Kesehatan telah menunjuk Jaksa Agung sebagai kuasa hukum. Kepala Biro Hukum Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Hendri Setiawan, mengatakan pada prinsipnya BPOM akan mengikuti alur hukum yang berjalan. ”BPOM memang tidak mempunyai data jadi memang tidak bisa mengumumkan,” tutur dia saat dihubungi Republika, Selasa (22/2). Hendri mengatakan bahwa pemberitahuan tentang putusan MA sudah diterima hari ini.

…dst

6 ) Dr Sri Estuningsih, Meneliti Tanpa Pamrih
http://www.antaranews.com/news/247018/dr-sri-estuningsih-meneliti-tanpa-pamrih

Senin, 21 Februari 2011 19:03 WIB
Bogor (ANTAR News) – Galau, sedih, dan gembira bercampur satu dalam hati Dr. Drh. Sri Estuningsih MSi (51), dosen Intitut Pertanian Bogor (IPB) yang hasil penelitiannya membuktikan ada bakteri enterobacter sakazakii dalam susu formula menjadi polemik, hingga masuk ranah hukum. Sri Estuningsih menjadi sosok terpenting di balik benturan antara etika akademik yang harus dipegang teguh, dan penegakan hukum setelah Mahkamah Agung yang putusan kasasinya mengharuskan IPB mengumumkan merek-merek susu yang menjadi sampel penelelitiannya. “Terus terang saya tidak membayangkan akan ada perkembangan seperti ini. Sebagai peneliti saya lurus-lurus saja, saya sementara ini hanya bisa memantau apa yang sedang bergulir,” kata Estuningsih ketika ditemui di Kampus IPB Dramaga, Bogor, pekan lalu. “Mahasiswa saya juga sering menanyakan soal polemik yang berkembang seputar susu formula berbakteri itu. Tapi mereka umumnya mengerti, dan pertanyaannya masih dalam koridor ilmiah,” kata Estuningsih yang meraih gelar doktor patologi dan mikrobiologi pada 2001 di IPB.

…dst