1 ) IPB Pilih Riset Ulang Susu Berbakteri  Sesuai Instruksi Mendiknas
http://www.detiknews.com/

Tak Taati Putusan MA, IPB Pilih Riset Ulang Susu Berbakteri Kamis, 24/02/2011 02:24 WIB
Jakarta – IPB bersikukuh tidak akan mengumumkan merek susu yang mengandung enterobacteri sakazakii karena sifat penelitian mereka memang tidak diperkenankan menyebut merek dagang. Agar tidak terus meresahkan masyarakat, Kementerian Pendidikan memerintah IPB melakukan penelitian ulang dengan mengambil sampel dari seluruh merek susu yang ada di Indonesia. “Kalau begitu, IPB tolong segera siapakan desain untuk melakukan penelitian ulang dengan metode research investigation surveillance (penelitian dengan investigasi dan pengawasan),” ujar Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh saat jumpa pers bersama Rektor IPB dan jajarannya di Kemendiknas, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (23/2/2011) malam.

Mendiknas memerintahkan IPB melakukan penelitian pada semua merek susu. IPB diberikan waktu untuk melakukan penelitan selama 6 bulan. “Dimulai dari tanggal 24 Februari, itu IPB sudah mulai membuat desain penelitiannya dan dilanjutkan proses penelitiannya hingga 6 bulan ke depannya,” perintah Nuh. Kemendiknas lanjut Nuh, siap menjadi donatur untuk penelitian tersebut. Maka itu apa yang dia intruksikan ini, diharapkan segera ditindaklanjuti. “Jadi biasanya kalau menteri sudah mohon namanya instruksi, Kemdiknas mendukung penuh penelitian itu. Termasuk dananya juga dari Kemendiknas,” janji Nuh yang menengenakan baju safari abu-abu ini.

Mendengar perintah itu, Rektor IPB, Herry Suhardyanto berjanji akan menyanggupinya. Dengan satu syarat, IPB meminta jika hasil penelitian yang mereka lakukan kali ini diumumkan BPOM. “Usulan seperti itu tadi juga sempat disampaikan saat kita rapat dengan DPR, maka dari itu untuk jalan keluarnya kita akan melakukan penelitian tetapi hasilnya disampai oleh badan pengawas makanan BPOM,” kata Herry. Herry menambahkan, untuk meneliti bakteri sakazakii yang kemungkinan terkandung di susu formula ini, IPB tentunya akan merujuk pada fakultas berkepentingan. Ada dua fakultas yang rencananya akan ditunjuk yaitu fakultas Kedokteran Hewan dan fakultas Teknologi Pertanian. Herry berjanji IPB akan segera membuat desain penelitian. Namun Herry, meminta kenyamanan dan keamanan para peneliti juga dijamin. “Yang pasti kalau perintah Mendiknas tentunya akan kita respon secepatnya, tapi kita harap ada jaminan untuk peneliti agar mereka merasa aman sehingga tidak terganggu,” pinta pria berkacamata itu.

>>>

2 ) Ditenggat 6 Bulan IPB Harus Penelitian Ulang
http://www.jpnn.com/read/2011/02/23/85119/Ditenggat-6-Bulan,-IPB-Harus-Penelitian-Ulang-

Rabu, 23 Februari 2011 , 22:18:00
JAKARTA—Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh menginstruksikan Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan penelitian ulang terhadap susu formula berbakteri enterobacter sakazakii. Menurutnya, hal ini untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat.Dalam melakukan proses penelitian ulang tersebut, lanjut Nuh, IPB harus segera menyiapkan design penelitian dengan metode surveillance atau pengawasan. Proposal yang akan diajukan juga harus bertujuan untuk mengetahui dan memastikan apakah seluruh susu formula yang beredar di Indonesia itu komposisinya aman atau tidak untuk dikonsumsi para bayi. “Kami targetkan kepada IPB untuk lakukan dan menyelesaikan penelitian ulang terhadap susu formula dalam enam bulan. Kemendiknas akan segera menyiapkan dana penelitian,” tegas Mendiknas saat konferensi pers bersama Rektor IPB, Herry Suhardiyanto mengenai penelitian susu formula di Gedung Kemdiknas, Rabu (23/2) malam.

…dst

3 ) Tiga Kesimpulan dari Hasil Rapat dengan Komisi IX Hari Ini
http://nasional.vivanews.com/news/read/206177-menkes-kukuh-tolak-putusan-ma

RABU, 23 FEBRUARI 2011, 20:00 WIB

Hasil rapat dengan Komisi IX ini menghasilkan tiga kesimpulan. Pertama, Kementerian Kesehatan tetap menolak mengumumkan melaksanakan putusan MA, karena tidak mempunyai data penelitian yang dilakukan IPB.  Kedua, Badan POM menolak melaksanakan putusan MA karena tidak mempunyai data hasil penelitian yang dilakukan IPB. Ketiga, IPB saat ini belum dapat mengambil keputusan melaksanakan putusan MA dan akan mengambil opsi-opsi terbaik. “Terhadap hasil rapat itu, Komisi IX akan mengadakan rapat internal untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya,” kata Ketua Komisi, Ribka Tjiptaning, usai rapat.

>>>

4 ) Susu Formula Berbakteri, Menkes Siapkan RPP ASI
http://www.jpnn.com/read/2011/02/23/85112/Susu-Formula-Berbakteri,-Menkes-Siapkan-RPP-ASI-

Rabu, 23 Februari 2011 , 21:21:00
JAKARTA – Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Hal itu sebagai respon untuk memperkecil risiko diare akibat susu formula berbakteri.  “Saat ini kami sedang menyiapkan RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) tentang pemberian ASI eksklusif. Sudah diharmonisasi di Kementrian Hukum dan HAM,” ujar Menkes dalam rapat kerja Komisi IX DPR, Rabu (23/2) dengan agenda pembahasan tentang susu formula yang mengandung bakteri enterobacter sakazakii.

>>>

5 ) Dirjen Dikti : Publikasi Hasil Penelitian itu Hak Kampus
http://www.republika.co.id/

Rabu, 16 Februari 2011, 20:09 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,Jakarta – Kementerian Pendidikan Nasional tidak berhak untuk meminta perguruan tinggi mempublikasikan hasil penelitian. Pasalnya, kementerian sejak awal memberikan otonomi bagi kampus dalam hal publikasi hasil penelitian. Hal ini dinyatakan Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, Joko Santoso, terkait putusan MA soal penelitian susu formula mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii  yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor. “Sebuah penelitian yang berhak mempublikasikan adalah yang melakukan penelitian. Itu otonomi kampus, tidak bisa dipaksakan,” papar mantan rektor ITB ini kepada Republika seusai penandatanganan Pakta Integritas antara Inspektorat Jenderal Kemdiknas dengan KPK, Rabu (16/2). Dia mengatakan sebuah penelitian itu memang mempunyai tujuan tertentu. Dalam hal penelitian susu formula, harus dipertanyakan tujuannya apakah untuk pengawasan atau isolasi bakteri. ‘’Keduanya mempunyai tujuan berbeda,’’ ucapnya. Kemudian terkait persoalan putusan Mahkamah Agung, maka ia tak mau membicarakan hal itu lebih banyak karena bukan kapasitasnya. ‘’Itu kan kasus hukum, tanyakan pada ahli hukum,” ucapnya. Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, menyatakan belum mengetahui  secara detail kasus penelitian susu formula oleh IPB. Oleh karena itu, ia menyatakan akan berusaha memperlajari dahulu baru ia akan mengomentari soal Penelitian susu. ‘’Intinya, kita saat ini harus menghormati keputusan semuanya, baik MA, perguruan tinggi dan menteri kesehatan,’’ ucapnya. Kalau dalam hal publikasi, sebenarnya tak semuanya bisa dikonsumsi publik. ‘’Misalnya temuan yang belum di patenkan, jadi tak bisa dipublikasikan,’’ paparnya. Akan tetapi, khusus untuk persoalan penelitian susu, ia tak mau banyak berkomentar.

>>>

6 ) Kompak Tolak Umumkan Merek Susu Berbakteri
http://www.jpnn.com/read/2011/02/24/85127/Kompak-Tolak-Umumkan-Merek-Susu-Berbakteri-

Kamis, 24 Februari 2011 , 04:04:00
JAKARTA – Pihak-pihak yang ingin tahu merek susu formula pengandung bakteri entrobacter sakazakii harus bersabar lagi. Pasalnya, pada rapat antara Komisi IX DPR dengan Menteri Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu (23/2) masing-masing pihak menolak mengumumkan merek susu yang dapat menyebabkan diare pada bayi. Pada rapat kerja yang dipimpin Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning itu, Menkes Endang Rahayu Sedianingsih menegaskan, pihaknya tetap patuh hukum. “Tetapi kami tidak sanggup melaksanakan putusan MA karena tidak ada datanya. Kami ajukan PK (peninjauan kembali) karena posisi kami yang tak sanggup itu,” ujar Menkes.
Pengganti Siti Fadillah Supari itu juga membantah tudingan bahwa pemerintah sengaja melindungi kepentingan pengusaha susu formula. “Itu tidak betul,” tandasnya.

…dst

7 ) Mendiknas Bela IPB
http://www.jpnn.com/read/2011/02/23/85121/Mendiknas-Bela-IPB-

Rabu, 23 Februari 2011 , 22:26:00
JAKARTA– Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh menerangkan, penelitian susu formula yang telah dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah penelitian yang bersifat isolasi. Artinya, lanjut Nuh, penelitian ini tidak wajib dipublikasikan karena tujuannya hanya mencari bakteri. Sehingga berdasarkan aturan yang berlaku memang tidak dapat menyebutkan merk dari produk-produk yang dijadikan sampel penelitian tersebut.”Kode etik untuk penelitian isolasi memang tidak boleh menyebutkan identitas dari sampel yang diambil untuk penelitian, di semua negara aturan ini juga berlaku,” tegas Nuh saat konferensi pers bersama Rektor IPB, Herry Suhardiyanto mengenai penelitian susu formula di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Rabu (23/2).
Jika sampai merk susu tersebut diumumkan, lanjut Nuh, maka akan menimbulkan ketidakadilan terhadap pasar terutama bagi merk susu yang diumumkan. “Padahal merk susu lain yang tidak diteliti belum tentu hasilnya negatif dari bakteri ini,” tandasnya.

…dst

8 ) LIPI : Susu Formula Tak Mungkin Steril
http://www.jpnn.com/read/2011/02/23/85086/LIPI-:-Susu-Formula-Tak-Mungkin-Steril-

Rabu, 23 Februari 2011 , 15:45:00
JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mensinyalir, susu formula memang tidak mungkin dibuat steril. Alasannya, karena masalah ekonomi. Kepala LIPI Lukman Hakim, menyatakan hal itu dalam rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menkes, BPOM, LIPI, Rektor IPB untuk membahas putusan Mahkamah Agung tentang keharusan nama-nama susu formula untuk bayi yang tercemar entrobacter sakazakii, Rabu (23/2). “Tidak ada susu formula yang steril. Susu formula tidak mungkin dibuat steril karena ini terkait masalah ekonomis,” ujar Lukman. Dalam rapat kerja yang dipimpin Ketua Komisi IX DPR Ribkatjiptaning itu Lukman menegaskan, seharusnya susu bubuk harus nihil dari bakteri penyebab direr. Ia mencontohkan sebuah wabah diare di Belgia dan Belanda pada 1968. “Ini yang membuat mereka meningkatkan standar higienitas bakteri sakazakii,” imbuhnya.

…dst

9 ) LIPI : Lihat Hasil Positif Penelitian Susu Formula
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/02/23/brk,20110223-315623,id.html

RABU, 23 FEBRUARI 2011 | 23:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta – Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lukman Hakim meminta agar seluruh pihak melihat sisi positif dari hasil penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor terhadap susu formula. “Perhatikan hasil positifnya, jangan mencari yang negatif terus,”ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi IX di gedung DPR, Rabu (23/2). Menurut dia, hasil penelitian tersebut justru memberikan keuntungan kepada banyak pihak. Pasalnya, setelah ditemukan adanya bakteri Enterobacter Sakazakii, bakteri itu kemudian dimasukkan ke dalam Codex International, yang sebelum itu tidak menjadi pertimbangan kesehatan susu formula. “Tanpa penelitian ini, bisa jadi BPOM justru akan lebih lama mengungkapkan dan memasukkan keCodex,” kata Lukman. Ia khawatir berlarut-larutnya pembahasan kasus penelitian susu formula yang tercemar bakteri ini akan merugikan kalangan peneliti. “Jangan sampai orang nanti jadi takut untuk mengumumkan hasil penelitiannya,” kata Lukman.

…dst

10 ) Drama Panjang Susu Berbakteri, Putusan MA Ramai-ramai Tak Digubris
http://www.detiknews.com/

Drama Panjang Susu Berbakteri, Putusan MA Ramai-ramai Tak Digubris 15 Februari 2008
Jakarta – Drama panjang susu berbakteri enterobacteri sakazakii belum juga usai. Meski Mahkamah Agung (MA) sebagai pemegang kekuasaan kehakiman tertinggi memerintahkan Menkes, IPB dan BPOM mengumumkan nama merek susu, tapi Menkes cs tetap bungkam. Padahal, selain lembaga yudikatif, lembaga legislatif pun kini telah memaksa eksekutif bicara. Sayang, lagi-lagi, Menkes cs memilih diam.

Inilah 3 tahun jalan penuh liku tersebut:

15 Februari 2008
IPB memuat di website mereka tentang adanya susu yang tercemar bakteri itu. Menurut ketua peneliti  Dr Sri Estuningsih di Indonesia terdapat susu formula, dan makanan bayi tercemar Enterobacter Sakazakii. Ini bakteri berbahaya karena menghasilkan enterotoksin tahan panas. Bakteri itu menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis pada model anak mencit neonates.

…dst

11) Jika Tetap Bungkam, Menkes Cs Bisa di Penjara
http://www.detiknews.com/

Jika Tetap Bungkam, Menkes Cs Bisa di Penjara Kamis, 24/02/2011 03:59 WIB
Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI, Tantowi Yahya mengingatkan Menteri Kesehatan, IPB dan BPOM dapat dipenjara apabila tidak mematuhi putusan Mahkamah Agung (MA). Terlebih lagi putusan MA sudah memerintahkan untuk mengumumkan nama-nama susu formula berbakteri enterobacteri sakazakii. “Sesuai UU 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pejabat publik dapat dikenai sanksi berjenjang hingga maksimal penjara apabila menutup-nutupi informasi publik,” kata Tantowi saat berbincang dengandetikcom, Rabu (23/2/2011). Seperti diketahui, Pasal 52 UU tersebut dapat mempidana pejabat publik maksimal 1 tahun penjara dengan denda Rp 5 juta apabila tidak mengumkan ke publik sebuah informasi yang penting. Dalam UU tersebut, sebuah kode etik penelitian tidak dapat dijadikan alasan menutup-nutupi informasi publik. “Yang dikecualikan adalah informasi rahasia negara. Kalau ini kan bukan rahasia negara,mengapa harus di tutup-tutupi?” tanya Tantowi. Tantowi juga malah mempertanyakan niatan Menkes cs untuk meneliti ulang susu formula. Menurutnya, yang harus diumumkan adalah susu formula masa edar 2003-2006. Sedangkan yang akan diuji oleh Menkes adalah masa edar sekarang.

…dst

12 ) Kemenkes Teliti Ulang Semua Merek Susu Formula
Kemenkes Teliti Ulang Semua Merek Susu Formula

Rabu, 23/02/2011 18:59 WIB
Jakarta – Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih menegaskan memerintahkan anak buahnya di Kemenkes untuk meneliti ulang sampel susu formula. Penelitian itu akan dilakukan segera untuk memastikan susu formula tidak mengandung bakteri. “Kami akan perintahkan dilakukan penelitian ulang terhadap susu formula meskipun sudah dilakukan penelitian. Kami akan perintahkan Litbang segera mengumpulkan sampel dan melakukan pemeriksaan susu formula sekali lagi,” tegas Menkes dalam raker antara Komisi IX DPR dengan Menkes, BPOM, Rektor IPB, dan LIPI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/2/2011). Menkes menegaskan hal ini guna meyakinkan Komisi IX DPR yang terus mendesak Menkes mengungkap merek susu formula mengandung bakteri. Menkes telah menegaskan tidak bisa mengungkap merek susu formula karena tidak memiliki cukup data penelitian IPB. Menkes pun tidak mengulur waktu untuk segera mengetahui hasil penelitian ulang ini. Menkes beraharap hasilnya dapat meyakinkan seluruh rakyat Indonesia terkait isu susu formula mengandung bakteri.”Agar dilakukan tahun ini,” tandasnya.

>>>

13 ) IPB Minta Kompromi Terkait Susu Formula
http://www.antaranews.com/berita/247315/ipb-minta-kompromi-terkait-susu-formula

Rabu, 23 Februari 2011 16:43 WI
Jakarta (ANTARA News) – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto meminta kompromi terkait kasus penelitian yang menemukan adanya bakteri dalam susu formula yang dilakukan oleh salah seorang penelitinya. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta Rabu sore Herry mengatakan bahwa pihaknya adalah pihak yang taat hukum, namun juga terkendala oleh etika penelitian yang berlaku universal dimana dosen memiliki kebebasan akademik dan otonomi keilmuan yang termasuk tidak mengungkapkan sampel penelitian mereka. “Kami mohon dapat merumuskan jalan keluar yang taat hukum tapi tanpa melanggar etika penelitian internasional,” kata Rektor IPB kepada anggota Komisi IX DPR.

Herry juga menegaskan bahwa pihaknya belum mendapatkan salinan putusan Mahkamah Agung yang memerintahkan Menteri Kesehatan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan IPB untuk membuka sampel susu formula yang ditemukan mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii. “IPB belum menerima salinan putusan MA namun informasi yang diterima putusan tersebut sudah dikirim dari PN Jakarta Pusat ke PN Cibinong. Tapi kami sudah mempelajari putusan tersebut di website,” kata Herry yang menambahkan pihaknya berada dalam posisi dilematis. Penelitian yang dilakukan salah satu dosen IPB pada 2003-2006 itu menemukan adanya bakteri Enterobacter Sakazakii pada 20 persen sampelnya dan penelitian itu juga menjadi masukan bagi Codex yang kemudian melarang susu formula untuk bayi mengandung bakteri tersebut.

“Kami hanya mencari bakteri kemudian dibiakkan, ini atas rekomendasi FAO (Badan Pangan Dunia) yang minta negara-negara melakukan penelitian tentang Enterobacter Sakazakii yang memang belum banyak diketahui,” papar Herry.  Penelitian itu disebutnya dilakukan di laboratorium Dairy Science di Universitas of Glessen, Jerman karena laboratorium di Indonesia belum memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian tersebut. Herry juga mengungkapkan penelitian juga kembali dilakukan tahun 2008 terhadap sampel yang sama namun tidak lagi menemukan bakteri dalam sampel susu formula tersebut.  Rapat dengar pendapat itu juga dihadiri Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kustantinah dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim.

>>>

14 ) Kemenkes, BPOM, IPB Beberkan Susu Formula Berbakteri
http://www.republika.co.id/

Rabu, 23 Februari 2011, 15:55 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Kesehatan, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan Rektor Institut Pertanian Bogor kembali menjelaskan mengenai susu formula berbakteri kepada Komisi IX DPR dalam rapat dengar pendapat di Jakarta, Rabu (23/2). Dalam kesempatan itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih kembali menegaskan bahwa pihaknya belum menerima salinan putusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan Menkes, BPOM dan IPB untuk membuka sampel penelitian yang dilakukan IPB pada 2003-2006 lalu. “Kami belum menerima salinan putusan meskipun telah berinisiatif untuk mengambil ke PN Jakarta Selatan. Kami juga telah berinisiatif meminta salinan putusan ke BPOM yang sudah menerimanya,” kata Menkes. Endang Rahayu juga menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki data penelitian IPB sehingga tidak dapat melaksanakan putusan MA tersebut.

Selain itu, Menkes juga menerangkan pihaknya telah menyerahkan kuasa ke Jaksa Agung RI sebagai pengacara negara untuk mewakili Kementerian Kesehatan dalam perihal putusan MA tersebut. “Segala proses hukum terkait putusan MA mulai saat ini akan ditangani oleh Jaksa Agung,” ujarnya. Kepala BPOM Kustantinah juga menyebutkan pihaknya telah menyerahkan surat kuasa khusus ke Jaksa Agung untuk bertindak atas nama BPOM. “Jadi semua yang berkaitan dengan putusan MA ditangani oleh Jaksa Agung,” ujar Kustantinah.

Selain itu, meskipun telah menerima salinan putusan MA mengenai susu formula, Kustantinah mengatakan pihaknya tidak dapat melaksanakan perintah tersebut karena tidak memiliki data penelitian yang merupakan wewenang peneliti yang bersangkutan. Rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning itu juga dihadiri oleh Rektor IPB dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim.

>>>

15 ) Raker dengan DPR, Badan POM Tolak Ungkap Susu Mengandung Bakteri
Raker dengan DPR, Badan POM Tolak Ungkap Susu Mengandung Bakteri

Rabu, 23/02/2011 15:31 WIB
Jakarta – Badan POM kembali menolak mengungkap merek susu formula berbakteri di DPR. Badan POM mengaku tidak tahu menahu terkait hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. “Badan POM sudah menerima salinan putusan MA pada tanggal 21 Januari 2011 disampaikan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun Badan POM tidak bisa melaksanakan putusan MA karena Badan POM secara materiil tidak punya akses data penelitian yang dilakukan oleh IPB,” ujar Ketua Badan POM, Kustantina, dalam raker Komisi IX DPR dengan Menkes, Badan POM, LIPI, dan ITB, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/2/2011). Karena itu, Badan POM meminta bantuan Kejaksaan Agung sebagai jaksa pengacara negara untuk membantu melaksanakan putusan MA. Selanjunya Kejaksaan Agung yang diminta meluruskan informasi tentang susu berbakteri ini. “Pada tanggal 21 Februari Badan POM memberikan surat kuasa kepada Kejaksaan Agung selaku Jaksa pengacara negara untuk menangani masalah ini,” tandasnya.

>>>

16 ) Kemenkes dan BPOM Tunjuk Kejagung
http://www.antaranews.com/news/247308/kemenkes-dan-bpom-tunjuk-kejagung

Rabu, 23 Februari 2011 15:48 WIB
Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjuk Kejaksaan Agung sebagai pengacara negara untuk mewakili kedua instansi menyikapi keputusan Mahkamah Agung mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii dalam produk susu formula. Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Kepala BPOM Kustantinah dalam Raker dengan komisi IX DPR RI di Gedung DPR/MPR di Jakarta, Rabu. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memgemukakan bahwa langkah-langkah hukum telah diserahkan sepenuhnya kepada Kejaksaan Agung. Sedangkan Kustantinah juga mengemukakan, pihaknya sudah menghubungi Kejaksaan Agung untuk mengambil langkah-langkah hukum terkait keputusan MA. BPOM telah menerima keputusan MA pada 11 Februari 2011 dari Panitera MA….cut…Dalam raker juga terungkap bahwa bakteri Enterobacter Sakazakii merupakan masalah di berbagai negara di dunia. Karena itu, FAO dan WHO pun memberi perhatian kepada masalah ini.

…dst

17) Penggugat Nilai Pernyataan Jamdatun Soal Susu Berbakteri Memalukan
Penggugat Nilai Pernyataan Jamdatun Soal Susu Berbakteri Memalukan

Rabu, 23/02/2011 07:45 WIB
Jakarta – Pernyataan Jamdatun Kamal Sofyan soal novum sebagai dasar pengajukan PK gugatan susu formula berbakteri dinilai memalukan. Sebelumnya Kamal berpendapat penggugat David Tobing sebenarnya tidak memiliki kapasitas melakukan gugatan karena yang meminum susu formula tersebut adalah anaknya. “Itu pernyataan memalukan dari seorang jaksa agung muda. Kapasitas saya dipertanyakan. Padahal sudah jelas legal standing saya sebagai orang tua dari anak. Apakah anak 3 tahun disuruh melakukan gugatan sendiri,” kata David Tobing saat dihubungi detikcom, Rabu (23/2/2011). Sebaliknya, David justru mempertanyakan kapasitas Jamdatun atas pernyataannya tersebut. “Saya sangat prihatin dengan kapasitas jaksa,” kata pengacara publik ini. David juga mempertanyakan pernyataan Kamal yang mengutip pendapat Kemenkes bahwa bakteri Enterobacter Sakazakii tersebut akan mati jika berada dalam air bersuhu 70 derajat Celcius.  “Kalau 70 derajat, bukan hanya bakteri yang mati, tapi semua zat yang berguna juga bisa mati. Penggunaan air untuk susu formula itu maksimal 40-45 derajat. Kalau tidak, seluruh vitamin akan mati,” ujarnya.

…dst