Upayakan Operasi Jantung Murah untuk Semua Kalangan
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/392703/

Wednesday, 13 April 2011
Operasi bedah jantung memang membutuhkan biaya yang tak sedikit.Tak jarang pasien terpaksa menjual harta benda mereka demi kesembuhan. Operasi semacam ini menjadi mimpi buruk bagi pasien dari kalangan keluarga miskin.

Sudah susah mendapatkan akses perawatan kesehatan,biaya operasi bisa membuat mereka tambah sulit.Kesembuhan pasien pun terasa sangat jauh. Akibatnya,mereka hanya bisa pasrah. Kondisi inilah yang meresahkan dokter Devi Shetty. Dokter bedah jantung kondang asal India ini sangat prihatin dengan kondisi para pasien jantung yang berasal dari kalangan tak mampu. Shetty merasa miris,di negara dengan jumlah penduduk hampir 1,2 miliar orang ini hanya sedikit orang yang memiliki akses ke rumah sakit berkualitas.

Di India,80% dari perawatan kesehatan berada di sektor swasta.Tetapi,kurang dari 1% dari populasi mampu membayar untuk rawat inap di rumah sakit swasta. Tergerak ingin membantu mereka,Shetty menyusun rencana untuk merevolusi jaminan kesehatan (jamkes) di India.Dia bertekad menurunkan biaya operasi bedah jantung. Mantan dokter mendiang Ibu Teresa ini kemudian membuka rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur di Banglalore, salah satu “kota kesehatan” yang memiliki klinik spesialis di kota-kota besar India.

Salah satu konsep yang akan dijalankan demi mewujudkan impiannya adalah menambah jumlah pasien. Semakin banyak jumlah pasien,maka semakin berkurang pula biaya operasi jantung yang rata-rata mencapai USD2.000 (Rp17,3 juta).Biaya ini sudah cukup murah dibandingkan biaya operasi di negara lain.Di Amerika Serikat (AS) misalnya,biaya prosedur rumit seperti itu mencapai USD100.000 (Rp866 juta).

“Sekitar 100 tahun setelah operasi jantung pertama,hanya kurang dari 8% dari populasi dunia yang mampu melakukan operasi jantung.Ini konyol. Sesuatu harus dilakukan,” ungkapnya kepada CNN. Salah satu pasiennya, Shyla, adalah putri seorang petani.Ayahnya yang seorang petani dan dari kalangan miskin harus membawanya menempuh perjalanan sejauh 500 km dengan bus ke Bangalore untuk operasi jantung.

Di rumah sakit milik Shetty itulah,Shyla bisa mendapatkan perawatan tanpa sang ayah harus pusing tujuh keliling memikirkan biayanya.Kenyataan inilah yang membuat Shetty makin yakin bahwa masalah biaya operasi semata karena masalah ekonomi. “Dahulu, rumah sakit di seluruh dunia melakukan dua atau tiga operasi jantung dalam satu hari. Namun,sekarang kita sudah mampu melakukan hingga 35 operasi jantung pada satu hari.Ketika Anda terus melakukan lebih banyak operasi,Anda menjadi lebih baik,”ujarnya.

Bagi Shetty,dengan makin banyaknya pasien,maka itu berarti dia akan bisa mengganti biaya premium sampai 40% dari pasien yang mampu membayar biaya operasi untuk menyubsidi para pasien yang tidak mampu membayar,yang pada umumnya berasal dari kalangan ekonomi ke bawah. Dia berharap dapat mengurangi biaya operasi jantung hingga USD800 atau Rp6,9 juta per orang.”Ini akan terjadi dalam jangka pendek,” tegasnya yakin. Untuk mendukung filsafatnya dalam rencana mengurangi biaya operasi ini,Shetty menemukan analogi di bidang ekonomi.

“Sekarang,Amerika membeli telepon seluler tanpa membayar untuk itu.Bagaimana itu bisa terjadi? Karena 750 juta orang India membeli ponsel dan menggunakannya. Karena itu,setiap orang India, Asia,dan Afrika harus menjadi konsumen untuk perawatan kesehatan.Jadi,ketika sebuah perusahaan farmasi Amerika datang dengan pil untuk memperpanjang hidup hingga 100 tahun,ada cukup pembeli yang tertarik membelinya,”ujar dia. Beruntung,pandangan Shetty ini mendapatkan dukungan.

Salah satu dukungan itu berasal dari salah satu dosen senior di Institut Kesehatan Publik India di Gandhinagar. Dosen itu memaparkan, jumlah pasien yang sedang dirawat di klinik spesialis saat ini seperti sebuah “lautan”, mengingat jutaan orang India dengan sedikit atau tanpa akses ke perawatan kesehatan. Dia memandang kota kesehatan di India berada di “menara gading”karena hanya mengobati orang dari kalangan kaya, terkaya,dan wisatawan medis asing.

“Bahkan,orang seperti saya pun sulit membayangkan bisa mendapatkan pengobatan di kota kesehatan karena saya tak punya uang sebanyak itu,”ujar dosen tersebut. Menurut dia,biaya perawatan kesehatan adalah salah satu alasan terbesar orang jatuh ke dalam kemiskinan. Jika mereka memerlukan akses ke rumah sakit,lanjut dia,orang akan rela menghipotekkan milik mereka dan naik taksi sejauh 150 kilometer ke rumah sakit terdekat.

“Menginap satu malam di rumah sakit mungkin akan menghabiskan satu bulan gaji mereka,”pungkasnya. Saat ini pengeluaran Pemerintah India adalah salah satu yang terendah di dunia, kurang dari 1% dari PDB. Pemerintah mengatakan, pihaknya memiliki target untuk meningkatkan pengeluaran hingga 3% namun belum terpenuhi. Dengan kenyataan itulah,ide Shetty terdengar sangat baik tapi itu bukan hal utama mengingat ukuran negara.

India saat ini berada pada tahap penting di mana kami harus memutuskan apakah akan membangun sistem asuransi kesehatan seperti AS atau investasi besar-besaran dalam sistem umum seperti Inggris.Berdasarkan pernyataan pemerintah Inggris menghabiskan lebih dari 7% dari PDB pada sistem pelayanan kesehatan publik. Pendekatan Shetty untuk mengurangi biaya kesehatan memang dipuji.Namun,konsep itu tersebut harus diulang pada skala besar untuk membuat perbedaan yang signifikan. Hingga saat ini pemerataan di India belum berjalan.Kesenjangan sosial di negara itu masih lebar. SUSI SUSANTI