Sarat Prestasi, Sulit Kuliah di Negara Sendiri
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/410875/

Wednesday, 06 July 2011
Sungguh membanggakan bisa menjadi salah satu siswa berprestasi, apalagi mampu menembus prestasi di tingkat internasional.Bukan hanya bagi keluarga dan sekolah, nama harum siswa berprestasi internasional pun dapat menjadi kebanggaan bangsa dan negara.

Namun,apa jadinya jika prestasi internasional para siswa ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Beasiswa yang dijanjikan dari pemerintah pun seakan hanya isapan jempol bagi mereka. Inilah salah satu curahan hati siswa SMAN 1 Purwokerto, Stephen Haniel.Pemenang Olimpiade Kimia di Jepang ini mengaku,perhatian pemerintah terhadap siswa berprestasi sangat kecil.

Di hadapan Wamendiknas Fasli Jalal,Stephen yang hendak diberangkatkan ke International Chemistry Olimpiad (ICHo) di Ankara, Turki pada 9–18 Juli 2011 harus mengeluarkan semua unek-uneknya.Menurut Stephen,sudah menjadi rahasia umum bahwa janji beasiswa Kemendiknas kepada pemenang olimpiade itu bagai pepesan kosong belaka.

“Saya dengar kabar dari teman yang kuliah di luar negeri.Dia nyaris di-DO (drop out) karena beasiswa dari Kemendiknas tidak turunturun. Kalau yang sudah kuliah saja dana beasiswanya tidak jelas,bagaimana para peserta yang mau berangkat ini.Padahal proses untuk mendulang emas di negara orang tidaklah semudah membalik telapak tangan,” ungkap Stephen.

Menurut Stephen, kalaupun ada beasiswa, Kemendiknas selalu terlambat mencairkan, sehingga para siswa berprestasi ini selalu terancam dikeluarkan dari kampus.Stephen bahkan mengaku,banyak pemenang olimpiade yang akhirnya memilih pinangan negara lain.

Menurut dia,tidak ada pilihan lain bagi siswa berprestasi untuk menolak pinangan universitas di luar negeri karena sulitnya mendapatkan beasiswa di negeri sendiri. “Meskipun mereka juga harus menandatangani kontrak untuk berkarya di negara tempat mereka dikuliahkan itu,”ujarnya.

Tidak hanya sikap lambat Kemendiknas yang disesalkan para siswa sarat prestasi ini. Bahkan,perguruan tinggi negeri ternama seperti UI, ITB,dan UGM pun mempersulit langkah mereka untuk menuntut ilmu.

Menurut Stephen,perguruan tinggi ternama banyak yang tidak mau menerima para pemenang olimpiade walau sudah ada “surat sakti”yang diberikan Mendiknas Mohammad Nuh.Bahkan, tidak jarang pemenang olimpiade ini tidak diterima Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) melalui jalur undangan dan tulis. ● NENENG ZUBAIDAH Jakarta

>>>

Kementerian Janji Selesaikan Masalah Beasiswa Olimpiade
http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2011/07/05/brk,20110705-345014,id.html

SELASA, 05 JULI 2011 | 22:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengutarakan akan segera menyelesaikan permasalahan beasiswa yang dialami peraih medali olimpiade. “Keterlambatan dalam proses memang ada karena ini masuk anggaran pembangunan jadi tidak langsung keluar sehinga kita kadang-kadang perlu mengetahui kapan pembayaran mereka,”kata Fasli dalam keterangan pers di kantornya, Selasa 5 Juli 2011.

Sebelumnya dua peserta olimpiade yang juga telah meraih medali di ajang serupa mengeluhkan janji pemerintah untuk memudahkan pemberian beasiswa. Berbagai permasalahan seperti keterlambatan turunnya biaya dan ditolaknya mereka di universitas dalam negeri diungkapkan dalam acara pelepasan tim olimpiade sains internasional di kantor Kementerian Pendidikan Nasional malam ini.

Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi ini yang mendengar keluhan siswa itu pun berdalih dengan alasan persoalan di data pemenang olimpiade. Ia pun berjanji akan menyelesaikan persoalan dengan berkoordinasi dengan pihak universitas baik dalam maupun luar negeri.

Fasli kemudian menekankan agar universitas tidak dianggap sebagai penerima beasiswa yang biasa dengan siswa lainnya yang mengajukan permintaan. Sebabnya, hal itu sudah menjadi instruksi sekaligus janji presiden sejak tahun 2008.

Adapun untuk jumlah anggaran beasiswa yang diterima tiap tahunnya berbeda. Angka itu tergantung dari jumlah pemenang olimpiade tiap tahun yang juga bertambah.”Anak-anak ini jangan dianggap sebagai penerima beasiswa biasa karena mereka ini sudah dijanjikan.”janjinya.