Satukan tangan, satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di hari kemenangan kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
>>>

Berita Edukasi

1) Gelar Kehormatan
Inilah Alasan UI Beri Gelar HC Raja Abdullah
http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/01/18412360/Inilah.Alasan.UI.Beri.Gelar.HC.Raja.Abdullah

Kamis, 1 September 2011 | 18:41 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor Universitas Indonesia Gumilar Ruswila Somantri mengatakan, keputusan UI memberikan gelar doktor Honoris Causa (HC) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis di bidang perdamaian dan kemanusian sudah melalui kajian dan landasan berpikir yang holistik. Raja Arab Saudi dinilai punya peran dalam perdamaian dan kemanusiaan di tingkat global. Berikut adalah pertimbangan-pertimbangan yang membuat Raja Arab Saudi menerima gelar doktor HC dari UI. 1. Raja Arab Saudi dianggap melakukan langkah-langkah modernisasi Islam di Arab Saudi. Contohnya, beliau mendirikan King Abdullah University of Science and Technology yang membolehkan mahasiswa laki-laki dan perempuan kuliah bersama.

…dst

2) DPR tak lagi persoalan pemberian gelar kepada Raja Arab
http://www.antaranews.com/berita/274112/dpr-tak-lagi-persoalan-pemberian-gelar-kepada-raja-arab

Kamis, 1 September 2011 20:29 WIB
Jakarta (ANTARA News) – Parlemen diharapkan tidak lagi mempersoalkan pemberian gelar Honoris Causa oleh Rektor Universitas Indonesia Gumilar Sumantri kepada Raja Arab Saudi Raja Abdullah dalam bidang kemanusiaan dan iptek di Jeddah, belum lama ini. “DPR sebaiknya tidak persoalkan pemberian gelar doktor honoris causa yang diberikan pihak UI kepada Raja Saudi, Pangeran Abdullah,” kata Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, Jakarta, Kamis. Menurutnya, pemberian gelar semacam ini hal yang biasa diberikan pihak universitas di berbagai negara kepada tokoh-tokoh tertentu atas pertimbangan-pertimbangan khusus. “UI menurut saya justru menunjukkan komunikasi dan diplomasi yang baik kepada pihak kerajaan Saudi Arabia yang tentu saja bisa menarik sumber-sumber pendanaan negara tersebut untuk membantu pengembangan pendidikan di UI dan Indonesia pada umumnya,” kata politisi PKS itu. Ia menambahkan, mempersoalkan pemberian gelar ini justru dikhawatirkan akan kontra produktif. “Jadi tak perlu dipersoalkan lagi karena hal itu tak bermanfaat,” kata dia.

…dst

3 ) DPR Pertanyakan Langkah UI
http://cetak.kompas.com/read/2011/09/02/02511242/dpr.pertanyakan.langkah.ui

Jumat, 02 September 2011
Jakarta, Kompas – Sejumlah anggota DPR mempertanyakan langkah Universitas Indonesia yang memberikan gelar doktor honoris causa kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis al-Saud. Selain motifnya tidak jelas, pemberian gelar tersebut dinilai kurang transparan. Meskipun pemberian gelar doktor honoris causa (HC) merupakan hak UI, tetapi tokoh yang diberikan gelar kehormatan itu dipertanyakan kelayakannya. “Pemberian gelar tersebut setidaknya pada tokoh yang punya hubungan baik dengan Indonesia,” kata Rully Chairul Azwar, Wakil Ketua Komisi X DPR, di Jakarta, Kamis (1/9). Menurut Rully, Arab Saudi masih memiliki banyak masalah dengan Indonesia, terutama di bidang tenaga kerja. Namun, justru rajanya mendapat gelar doktor HC di bidang kemanusiaan. “Banyak pihak yang disakiti dengan pemberian gelar tersebut,” kata Rully. Hetifah S, anggota Komisi X dari Fraksi Partai Golkar, mengatakan, penganugerahan gelar doktor HC merupakan penghormatan atas suatu prakarsa atau perjuangan politik yang diakui dan bisa dirasakan dampaknya secara luas oleh masyarakat. “Dalam kasus Raja Arab Saudi, kita tidak mendengar dan merasakan prakarsa, karya, dan perjuangan politik Raja yang berdampak pada keilmuan dan kemanusiaan. Bahkan sebaliknya, banyak kasus-kasus yang bertentangan dengan kemanusiaan dan menimpa warga negara Indonesia. Komisi X patut mempertanyakan motif UI memberikan gelar tersebut,” kata Hetifah.

…dst

4 ) Rektor UI Akan Beri Penjelasan Soal Gelar Doktor Raja Arab Saudi
http://www.pikiran-rakyat.com/node/157032

Kamis, 01/09/2011 – 15:44
JAKARTA, (PRLM).- Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, yang sudah kembali dari Arab Saudi, akan memberi penjelasan tentang pemberian gelar doktor kehormatan untuk Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz al-Saud.”Beliau akan mengundang rekan-rekan wartawan untuk halal-bil-halal sekalian menjelaskan pokok persoalanya seperti apa,” tutur juru bicara Universitas Indonesia, Devi Rahmawati, kepada BBC Indonesia, Kamis (1/9). Saat ini Gumilar masih berkumpul bersama keluarganya di Tasikmalaya, Jawa Barat, setelah kembali dari Arab Saudi untuk memberikan gelar doktor kehormatan kepada Raja Arab Saudi, yang mendapat kecaman dari berbagai pihak. Sejumlah pihak menyesalkan pemberian gelar tersebut mengingat Arab Saudi dinilai memiliki catatan hak asasi yang buruk sementara sebagian pihak mengingatkan kembali pemancungan TKI asal Indonesia, Ruyati binti Satubi, di Arab Saudi setelah dinyatakan bersalah memb

…dst

5 ) Mengenal Raja Abdullah bin Abdul Aziz
Pantaskah Gelar Doktor Bagi Raja Arab?
http://www.inilah.com/read/detail/1770540/pantaskah-gelar-doktor-bagi-raja-arab

Jumat, 2 September 2011 | 07:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) kepada Raja Arab Saudi oleh Universitas Indonesia menuai protes dari beberapa kalangan di dalam negeri. Rektor UI (Universitas Indonesia), Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri yang menganugerahkan gelar tersebut kepada Raja Abdullah bin Abdul-Azis 21 Agustus 2011 lalu di Istana Kerajaan, dikritik dengan berbagai tudingan miring. Munculnya protes itu bisa dipahami. Sebab dalam beberapa tahun terakhir ini, eksistensi Arab Saudi di Indonesia, sedang kurang populer. Ada dua masalah yang menjadi penyebabnya, soal haji dan kasus pelecehan terhadap TKI yang bekerja di negara tersebut.Tetapi yang tidak bisa dipahami adalah adanya keterbatasan pengetahuan oleh para pengeritik tentang siapa sebetulnya Raja Arab Saudi. Para pengeritik telah meremehkan kontribusi Raja Abdullah bagi kepentingan umat manusia, tanpa kecuali. Padahal para pengeritik rata-rata punya gelar akademi, cermin bahwa mereka memiliki pengetahuan umum dan wawasan yang luas. Para pengeritik nampaknya berpersepsi Raja Abdullah, bukanlah sosok yang tepat dianugerahi gelar kehormatan akademik tersebut.

…dst

6 ) Inilah 10 Kampus Favorit Jalur Bidik Misi
http://kampus.okezone.com/read/2011/08/29/373/497839/inilah-10-kampus-favorit-jalur-bidik-misi

Kamis, 01 September 2011 17:02 wib
JAKARTA – Pemilihan kampus oleh mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2011/2012 telah berakhir. Kini mereka tengah mempersiapkan diri memasuki kehidupan baru di dunia kampus. Nah, untuk sedikit mereview, yuk kita intip sejumlah perguruan tinggi yang dinobatkan sebagai kampus terlaris 2011 menurut Majalah Campus Indonesia. Penilaian ini berdasarkan jumlah peserta terbanyak yang mengikuti Jalur Bidik Misi.
1. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Jalur Bidik Misi yang diselenggarakan oleh universitas yang terletak di Kota Bandung ini menarik perhatian sebanyak 4.091 pendaftar.
2. Universitas Indonesia (UI)
Salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) favorit yang terletak di kawasan Depok ini diminati oleh 3.987 pendaftar beasiswa Bidik Misi dan menempatkannya di urutan kedua setelah UPI.

…dst

7 ) Ini Dia, Kampusnya Para Presiden RI
http://kampus.okezone.com/read/2011/08/29/373/497836/ini-dia-kampusnya-para-presiden-ri

Kamis, 01 September 2011 16:09
JAKARTA – Seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi anak buahnya. Terutama para presiden Indonesia dengan segala usahanya untuk memajukan nusantara di tingkat dunia.
Segala tindakan dan upaya yang mereka lakukan demi kemajuan bangsa, tidak terlepas dari pendidikan yang mereka dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Kali ini, kamu akan diajak secara khusus untuk mengenal lebih dekat masa kuliah orang nomor satu di Indonesia ini.
1. Soekarno
Presiden pertama Indonesia ini meraih gelar Insinyur (Ir) dari Technische Hoge School yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1926 silam.
2. Soeharto
Pria yang menjabat sebagai presiden RI selama 31 tahun ini mengawali pendidikannya di SD Desa Puluhan ketika usianya delapan tahun. Kemudian, dia dipindahkan ke SD Pedes Yogyakarta.

…dst

8 ) Diusulkan Kriteria Lapan untuk Rukyat
http://cetak.kompas.com/read/2011/09/02/0307504/diusulkan.kriteria.lapan.untuk.rukyat

Jumat, 02 September 2011
Jakarta, Kompas – Penampakan Bulan berumur muda atau hilal berbentuk sabit dengan derajat ketinggian yang rendah tidak mungkin terlihat karena cahayanya redup, tidak mungkin bisa mengalahkan cahaya matahari senja. Namun, Arab Saudi menetapkan rukyat atau jatuhnya hari raya umat Islam, termasuk Idul Fitri, berdasarkan posisi hilal yang rendah itu. Rukyat ini kontroversial. Hal ini dikemukakan Deputi Teknologi Sains dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Kamis (1/9). “Saat ini belum ada teknologi untuk pengamatan hilal rendah. Penggunaan teleskop yang dilengkapi dengan kamera dan video justru memperkuat cahaya hilal dan cahaya senja sehingga tetap tidak ada kontras,” tutur Thomas. Di lingkungan ASEAN, ada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dalam penetapan rukyat, yaitu tinggi minimal hilal 2 derajat, jarak Bulan-Matahari minimal 3 derajat, dan umur hilal minimal 8 jam. Kriteria itu disepakati negara- negara BIMS, tetapi implementasinya tak mengikat. Brunei ketat memakai rukyat sehingga mengawali Ramadhan pada 2 Agustus dan Idul Fitri 31 Agustus…cut…Thomas, yang menyelesaikan program master dan doktor di Fakultas Astronomi Universitas Kyoto Jepang, mengusulkan kriteria Lapan untuk penetapan rukyat. Berdasarkan kajian data rukyat di Indonesia dan analisis astronomi, ia mengusulkan penyempurnaan penentuan tanggal itu dengan kriteria beda tinggi Bulan-Matahari lebih dari 4 derajat dan jarak Bulan-Matahari lebih dari 6,4 derajat. “Dengan mengacu pada kriteria itu, perbedaan penentuan hari raya Islam di Indonesia, antara lain Idul Fitri, dapat dikurangi,” ujarnya.

…dst

9 ) Sekilas dalam Negeri
Kasus Nazaruddin
JK: Lawan Aksi Bungkam Nazaruddin dengan Alat Bukti
Kalla: Penyidik Perlu Strategi Atasi Nazar
Suap di Kemenakertrans
Dituduh Terlibat, Muhaimin Siap Diperiksa
Kubu Penyuap Sebut Muhaimin
Kasus Andi Nurpati/Dokumen Palsu MK
Usut Penerima Manfaat
Chairuman pertanyakan sikap Polri soal tersangka utama
PSSI
Berharap Satu Poin dari Iran
Latihan, Timnas Diberi Lapangan Berkerikil
Timnas Antisipasi Cuaca Dingin di Iran
Kesulitan air
Jubir: tidak ada permasalahan air di Istana
Pintu air Buaran jebol, suplai air bersih ke Istana Kepresidenan terganggu
Pasokan Air Bersih di Jakarta Terganggu
Daftar Kawasan Terputus Pasokan Air PAM
Pasar Modal
10 Peristiwa yang Menekan Pasar Selama Agustus
Tunggu Data Ekonomi, Bursa Berjangka AS Jatuh
Lain-Lain
RI Penerbit Obligasi Korporasi Terbanyak Asia
BNPB: Butuh Rp 2,93 Triliun untuk Wasior, Merapi, & Mentawai
Saksi: IM Anak Baik & Tulang Punggung Keluarga (anak bunuh Ayah kandung)
Kerusuhan di Ausie
Tak Bisa Berlebaran, Tahanan WNI Bakar Penjara Imigrasi Australia
Tidak bisa berlebaran, rumah detensi imigrasi Australia dibakar
Pemutihan di Malaysia
Pemutihan, 3.000 TKI di Malaysia Menyeberang ke Nunukan Tiap Hari
BNP2TKI: 1,2 Juta TKI di Malaysia Wajib Ikut Pemutihan
Berita Libya
Lacak Kadhafi, Inggris Terjunkan Tim SAS
Khadafi Serukan Perang Gerilya Melawan Oposisi
Khadafi: Kita Tidak Bisa Menyerah
Tenggat untuk pasukan Gaddafi diundur
Khadafi Diduga Susun Serangan
Aljazair tolak Gaddafi
Qadhafi Minta Suaka ke Aljazair
Laporan: Gaddafi berusaha cari suaka di Aljazair
Ini Dia Alasan Aljazair Terima Keluarga Khadafi
Laporan dari Libya: Revolusi di Mata Generasi Muda Benghazi
Anak Gaddafi serukan terus perangi pemberontak
Putra-putra Khadafi Saling Menentang
Oposisi Tangkap Eks Menlu Libya Abdelati Obeidi
Pemberontak Libya Didukung Al Qaeda?
Di Mata Khadafy, RI Antek Amerika