Sekolah Gratis Khusus Calon Ilmuwan Akan Dibangun

http://kampus.okezone.com/

Senin, 12 September 2011 18:23 wib
MANADO 
– Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan membangun sekolah khusus pengembangan bagi siswa pemenang olimpiade untuk menjadi ilmuwan.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, tahun depan Kemendiknas akan mulai membangun sekolah khusus tersebut. Daerah mana yang akan dibangun sekolah percontohan akan dipilih terlebih dulu oleh Kemendiknas. Mendiknas menjelaskan, setiap siswa yang bersekolah di sini tidak akan dipungut biaya sepeser pun.

Hal tersebut dilakukan untuk menghapus kesan ekslusifitas dari segi materi. “Kami akan bangun sekolah itu seperti menanam pohon. Mulai dari proses pembibitan, menanam dam membuahinya akan menjadi tanggung jawab kami. Sekolah ini memang khusus namun bukan dari segi biaya namun dari jenis siswa yang masuk ke sini,” katanya usai pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Manado.

Mantan Menkominfo ini menjelaskan, sistem pengajaran di sekolah ini tidak seperti sekolah konvensional yang mewajibkan siswanya lulus Ujian Nasional (UN). Akan tetapi, selain lulus UN Kemendiknas akan melengkapinya dengan kelas riset, sehingga setiap siswa di sini dapat mengembangkan keilmuan secara khusus juga.

Akan ada dua skenario, jelasnya, bisa saja sekolah tersebut akan dikonversi dengan sekolah yang sudah ada. “Bisa saja diintegrasi dengan kelas akselerasi,” ujarnya. Namun bisa saja membangun sekolah baru yang didesain khusus bagi anak-anak cerdas tersebut. Siswanya sendiri tidak dicari namun akan dijaring dari pemenang seperti OSN dan juga olimpiade internasional lainnya. “Sekolahnya akan berasrama,” ungkapnya.

Mendiknas menjelaskan, Kemendiknas ingin tradisi budaya keilmuan itu terbangun sejak anak usia dini. Oleh karena itu, olimpiade semacam OSN itu jangan hanya asal terlaksana rutin setiap tahunnya dan menjaring pemenang. Namun bagaimana agar para pemenangnya dapat membangun peradaban khususnya di Indonesia hingga 15-20 tahun lagi. Tidak hanya sebatas beasiswa namun Kemendiknas akan bekerjasama dengan kementerian lain untuk membuat sistem dimana lulusan sekolah ini akan mampu berkarir didalam negeri sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya.

Mantan rektor ITS itu berpendapat, sebaiknya olimpiade tidak hanya berhenti di sains saja. Akan tetapi ke depannya OSN itu harus digabungkan dengan olimpiade seni. Terkait dengan OSN, kemarin OSN diikuti oleh sekitar 1.136 peserta didik terdiri atas jenjang sekolah dasar (SD) 198 orang, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (PKLK-Dikdas) 132 orang,  sekolah menengah atas (SMA) 707 orang, dan PKLK Pendidikan Menengah (PKLK-Dikmen) sebanyak 99 orang.

Dirjen Dikmen Kemendiknas Hamid Muhammad menerangkan, OSN tingkat SMP sudah berlangsung Juli lalu. Para pemenangnya sendiri sudah mengikuti pelatihan untuk mengikuti olimpiade internasional Oktober nanti. Pada OSN tahun ini, jelasnya, turut serta 80 guru dari pendidikan menengah yang akan berlomba dibidang Matematika dan Fisika.

OSN berlangsung mulai kemarin hingga 16 September di Convention Center Hotel Grand Kawanua. “Mereka yang telah hadir pada hari ini adalah para peserta unggulan yang telah melewati seleksi sangat ketat di daerahnya masing-masing dan siap berlomba untuk menjadi yang terbaik pada tingkat nasional dalam bidang matematika, komputer/informatika, fisika, biologi, kimia, astronomi, kebumian, dan ekonomi,” pungkasnya. (Neneng Zubaidah/Koran SI/rhs)