Tjioe Martin: “Strategi Memperoleh Beasiswa Sejak SMP Hingga S3 ke Luar Negeri”

Petualangan pendidikan saya bermula tepat pada pertukaran abad ketika saya sedang duduk di bangku kelas 3 SMP di Medan. Paman saya mendorong saya dan saudara kembar saya untuk mendaftar ke program ‘ASEAN Scholarship’ dari pemerintah Singapura untuk belajar di ‘secondary school’ di sana. Pada saat itu, saya tidak berharap banyak. Dalam benak saya selalu terlintas bahwa saya bukanlah anak terpintar di sekolah saya. Dari segi juara umum saja, saya tidak pernah masuk ranking sepuluh besar. Bagaimana bisa saya mendapat beasiswa yang sangat kompetitif ini? Meskipun ujian tulis dan wawancara dengan pihak Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Singapura berjalan dengan lancar, saya masih tidak berharap banyak.

Jadi alangkah terkejutnya ketika kami menerima berita bahwa kami telah lulus seleksi dan akan menjadi 2 diantara 9 anak dari sekolah kami (42 dari seluruh Indonesia) yang akan berangkat ke Singapura sebagai ASEAN scholars batch kesepuluh. Satu kesimpulan dari pengalaman ini adalah ranking dan prestasi di sekolah itu bukanlah tolak ukur yang sempurna untuk menilai kemampuan seseorang. Ada banyak faktor penting lain untuk menentukan kemampuan seseorang yang bersifat lebih abstrak dan tidak dapat diukur hanya sebatas dengan ranking saja. Oleh karena itu, janganlah berkecil hati dan merasa tidak mempunyai harapan hanya karena anda bukanlah yang terpintar (tercepat, terhebat, dan ter-ter lainnya). Mungkin ada sesuatu yang berharga yang terpendam di dalam diri anda yang hanya dapat ditemukan oleh pihak pemberi beasiswa.

Dengan hasil ujian GCE ‘O’ level yang mencukupi di akhir pendidikan secondary school, kami bersaudara pun diberikan beasiswa
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Junior College di Singapura (setara dengan tingkat SMA 2 dan SMA 3 di Indonesia). Pada saat itu, universitas-universitas di Singapura mengharuskan semua calon mahasiswa mengikuti ujian SAT (Scholastic Aptitude Test) sebagai salah satu syarat masuk. Ujian SAT ini juga diperlukan oleh universitas-universitas di Amerika Serikat, jadi kami pun sekalian mendaftar ke sekolah di negeri Paman Sam ini. Alasan utama saya sebenarnya adalah ketakutan tidak dapat memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan di Singapura.

Kebetulan saat itu di sekolah kami (National Junior College) ada seorang counselor yang sangat berpengalaman dengan aplikasi ke AS. Atas nasehatnya, saya dan abang saya pun mendaftar Early Decision ke Lafayette College, yang tergolong sebagai sebuah liberal arts college. Nah, Early Decision ini adalah sebuah perjanjian antara kita dengan pihak universitas bahwa kita pasti akan belajar disana jika diterima. Aplikasi Early Decision itu biasanya mempunyai deadline yang lebih cepat dibandingkan aplikasi biasa. Untuk kami, aplikasi ke Lafayette telah kami kirim sekitar tanggal 15 November dan kami serta merta mendapat kabar suksesnya aplikasi pada tanggal 15 Desember. Kami juga memperoleh financial aid atau bantuan keuangan dari Lafayette sendiri. Sebuah saran dari saya adalah kalau teman-teman ingin mencari informasi beasiswa di AS yang bersumber dari sekolah-sekolah di sana, jangan google istilah scholarship karena itu bukanlah istilah yang dipakai. Sebaliknya, pakailah istilah financial aid. Untuk kami, paket financial aid atau bantuan finansial ini terdiri dari grant, loan, dan campus job. Grant adalah uang yang diberikan gratis tanpa ikatan apapun. Loan atau pinjaman (sekitar 10% dari total paket) harus dibayar kembali setelah kami lulus. Campus job (sekitar 5% dari total paket) adalah upah yang kami peroleh dengan bekerja di dalam kampus. Upah ini digunakan untuk membayar biaya hidup di sana yang belum ditutup oleh grant dan loan. Syukurlah, paket financial aid yang kami terima dapat membayar semua uang sekolah dan biaya hidup selama kami belajar di Lafayette.

Apa itu Liberal Arts Colleges?

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai liberal arts colleges di Amerika yang beberapa diantaranya (terutama yang mempunyai ranking yang ngetop) terkenal sangat murah hati dalam memberikan financial aid kepada siswa-siswi internasional. Liberal Arts Colleges Bagian ini akan menguraikan lebih lanjut apa itu liberal arts colleges. Bagi yang tidak tertarik, silakan lompat langsung ke bagian berikutnya, ‘Financial Aid untuk pendidikan S1’. Liberal arts colleges adalah sekolah-sekolah yang menaruh fokus utama mereka pada pendidikan S1 (undergraduate study). Perbedaan utama antara liberal arts colleges dan universitas-universitas lain adalah kebanyakan sekolah-sekolah ini tidak mempunyai program sarjana S2 atau S3 (graduate study). Perbedaan lainnya cenderung lebih ‘subtle’. Kurikulum sekolah-sekolah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan membangun kapasitas intelektual umum. Ini berbeda kalau dibandingkan dengan kurikulum lain yang lebih bersifat professional,
vokasional, atau teknis. Jadi sebuah liberal arts college biasanya mengharuskan siswa-siswinya untuk mengambil lebih banyak mata
pelajaran di luar mata kuliah pokok. Umumnya, sebuah liberal arts college dengan panjang studi 4 tahun memberikan gelar Bachelor of Arts atau Bachelor of Science seperti universitas-universitas lainnya.

Mungkin banyak yang bertanya, apakah sekolah-sekolah ini lebih berfokus pada bidang seni, karena namanya mengandung istilah arts? Sama sekali tidak. Sebenarnya istilah ini zaman dulunya mengacu ke semua mata pelajaran yang dianggap penting dipelajari oleh rakyat bebas. Grammar, retorik dan logika adalah beberapa mata pelajaran pokok saat itu. Pada abad pertengahan, mata pelajaran ini diperluas untuk mencakup matematika, geometri, ilmu jiwa, dan ilmu alam. Sekarang liberal arts colleges menawarkan banyak mata pelajaran yang populer, seperti ilmu alam (fisika, kimia, dan biologi), matematika, ekonomi dan bisnis, pendidikan, ilmu jiwa, filosofi, geologi, dan lain sebagainya. Ilmu teknik juga dapat ditemukan di beberapa liberal arts college, walaupun kebanyakan tidak menawarkannya.

Perbedaan lainnya terletak pada sistem pengajarannya. Karena liberal arts college biasanya mempunyai populasi siswa yang lebih kecil, lebih banyak perhatian diberikan ke setiap individu. Sedangkan universitas besar sering memberikan tanggung-jawab mengajar ke mahasiswa pasca sarjana (graduate students) dan professor lebih fokus pada riset, liberal arts college biasanya mempunyai profesor-profesor yang tanggung jawab utamanya adalah untuk mengajar. Hampir semua mahasiswanya pun tinggal di asrama dalam kampus, memungkinkan para mahasiswa untuk belajar dari satu sama lain. Ranking liberal arts college biasanya terpisah dari ranking universitas di AS.  Ini karena tidaklah masuk akal kalau kita membandingkan dua sistem yang berbeda ini dengan satu ranking universal.  Ranking liberal arts college dapat dilihat dari website U.S. News & World Report
(http://colleges.usnews.rankingsandreviews.com/best-colleges/rankings/national-liberal-arts-colleges).

Liberal arts college yang ngetop biasanya terkenal murah-hati untuk memberikan financial aid bagi siswa-siswinya. Tidak jarang kita temui murid internasional yang diberikan financial aid penuh yang dapat membiayai semua ongkos hidupnya.

Financial Aid untuk pendidikan S1
Sebuah gambaran singkat mengenai perguruan tinggi yang menawarkan financial aid ke murid internasional dapat dilihat langsung di website eduPASS (http://www.edupass.org/finaid/undergraduate.phtml). Ada sekitar 130 sekolah yang dikategorikan berdasarkan dengan jumlah murid internasional yang menerima financial aid. Ini menandakan bahwa ada banyak pilihan perguruan tinggi dan tentu saja kita bisa menemukan beberapa yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita.

Sebuah website lain yang memberikan informasi mengenai financial aid adalah internationalstudent.com (http://www.internationalstudent.com/schools_awarding_aid/). Website ini membagi sekolah-sekolah berdasarkan negara bagiannya. Website ini juga menunjukan jumlah murid internasional, jumlah financial aid yang diberikan, total biaya tahunan (total annual cost), dan jumlah rata-rata penghargaan financial aid (average size of financial aid). Negara bagian yang terkenal seperti New York, California, Massachusetts, dan Pennsylvania mempunyai banyak perguruan tinggi yang menawarkan financial aid ke murid internasional. Bagi yang mencari financial aid penuh, cukup amanlah saya katakan bahwa perguruan tinggi yang jumlah rata-rata financial aid-nya lebih dari setengah total biaya tahunan menawarkan financial aid penuh atau hampir penuh untuk mahasiswa-mahasiswi internasional.

Melanjutkan cerita…
Saat di Lafayette College, saya sudah mempunyai rencana untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat pasca sarjana. Karena tahu bahwa pengalaman riset adalah sebuah factor penting dalam aplikasi nantinya, saya pun berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas riset sejak tahun pertama. Bermula dengan keterlibatan dengan Society of Environmental Scientists and Engineers (SEES), saya melakukan riset untuk mendeteksi kehadiran senyawa estrogen dengan metode yang organik. Saya juga mengikuti program Excel Scholars selama dua tahun yang memberikan kesempatan para mahasiswa untuk melakukan riset dengan profesor kesukaannya. Dalam program ini, saya melakukan simulasi agen-agen transportasi. Pada tahun terakhir, barulah saya menulis tesis yang berkenaan dengan teknik struktur, program yang sekarang saya dalami di Stanford University.

Saya melamar ke 9 perguruan tinggi di AS untuk belajar teknik struktur pada tingkat pasca sarjana di departemen teknik sipil. Dari ke-9 ini, tiga perguran tinggi tidak memberkan financial aid, jadi sudah pasti saya tidak dapat melanjutkan pendidikan saya di sana. Akhirnya saya memilih Stanford University karena pada saat mengunjungi perguruan tinggi ini, saya sangat terkesan dengan kampusnya yang indah dan tertata dan juga budayanya yang mendukung semangat kewiraswastaan.

Untuk dua tahun pertama, saya mendapat financial aid dalam bentuk fellowship. Fellowship ini tidak lain adalah beasiswa atau scholarship yang diberikan oleh pihak sekolah untuk memungkinkan siswa-siswinya belajar di sekolah itu. Dari mana datangnya dana ini? Kebanyakan dana ini berasal dari sumbangan alumni-alumni yang sudah sukses dalam karir mereka. Untuk Stanford University, beberapa alumni-alumni ini adalah nama-nama besar seperti Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google), Jerry Yang (pendiri Yahoo!), dan William Hewlett dan David Packard (pendiri Hewlett-Packard). Fellowship yang saya terima untuk dua tahun pertama ini dinamakan School of Engineering Fellowship.

Di akhir tahun kedua, saya mendapat gelar Master of Science (M.S.). Saya juga mempunyai kesempatan untuk mencari dana tambahan untuk membiayai pendidikan saya pada tahun-tahun mendatang. Saya berhasil memperoleh sebuah fellowship lain yang dinamakan John A. Blume Fellowship yang berasal dari seorang alumni Stanford, John A. Blume, di bidang teknik
struktur yang telah sukses di masa lalu. Pendidikan saya juga dibiayai dengan Teaching Assistantship (TA) untuk beberapa quarter (caturwulan) dimana saya membantu profesor saya dalam pengajaran sebuah kelas.

Fellowship kedua yang saya dapatkan memungkinkan saya belajar selama dua tahun lagi. Karena pendidikan pasca sarjana (M.S. & PhD) biasanya memakan waktu 5 tahun, saya memerlukan dana untuk satu tahun terakhir, dan saya prediksikan dana ini akan datang dari Research Assistantship (RA) dari profesor saya. Informasi mengenai Research Assistantship dapat dilihat dari sebuah tulisan saya lainnya (http://indonesiamengglobal.com/2012/03/research-assistantship/).

Tulisan Andhika Sahadewa juga mengulas dengan rinci bagaimana caranya memperoleh financial aid atau financial support ini. Yang mau saya tekankan di sini adalah pengalaman riset saat mendalami S1 (undergraduate study) dapat sangat membantu dalam aplikasi pendidikan pasca sarjana. Apakah riset ini berhubungan dengan bidang studi pada tingkat pasca sarjana tidaklah menjadi masalah. Yang penting adalah sudah ada beberapa tahun pengalaman riset.

Kesimpulan dari perjalanan saya ini sejak dari Singapura adalah pencapaian itu dikumpulkan secara bertahap, satu demi satu. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit; inilah yang saya percayai. Kalau saya tidak pergi ke Singapura, sudah tentu tidak semudah itu saya dapat belajar di Amerika, dan jika saya tidak belajar di Lafayette College, sudah tentu tidak semudah itu saya bisa masuk Stanford University. Tentunya kita semua akan mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, tapi proses yang kita lalui itu mempunyai kesamaan.

Perjalanan kita ini adalah ibarat sebuah tangga. Melompat dari lantai pertama ke lantai kedua hampir adalah sebuah hal yang mustahil, tapi menaiki anak tangga satu demi satu akan membawa kita lebih dekat ke tujuan kita. Setiap anak tangga adalah sebuah batu loncatan ke anak tangga berikutnya dan akan membantu kita dalam perjalanan kita. Anak tangga ini adalah pencapaian kita. Sekecil apapun, ia akan membantu kita mencapai tujuan akhir kita. Semoga anda dapat terinspirasi untuk memulai perjalanan dan mengukir sukses sendiri.

Semua pertanyaanmaupun komentar boleh dikirim ke email saya tjioemtn@gmail.com. Semoga sukses!