Pendidikan Kata Kunci Kebangkitan Nasional oleh Mohammad Nuh

Slogan : Bangkit, Bersatu, Maju dan Sejahtera………. Indonesiaku

Sunday, 20 May 2012
Di zaman penjajahan, memaknai kebangkitan nasional ialah dengan upaya meraih kemerdekaan.

Karena itu, memaknai kebangkitan (awakening) di zaman sekarang ini selalu terkait dengan peristiwa masa lalu yang mencerminkan ide dasar atau awal gagasan tentang peran kesejarahan itu sendiri. Saat sesuatu sudah menjadi bagian dari sejarah,meski memiliki makna awal yang berkaitan dengan prinsip dasar, baru akan bermakna positif jika ditarik dengan kekinian. Dengan kata lain,transformasi dari masa lalu ke masa kini.

Kontekstualisasi atau aktualisasi. Namun,itu saja tidak cukup karena hidup bangsa ini bukan hanya sekarang, kekinian harus disiapkan untuk ditransformasikan pada kenantian.Atau dalam bahasa lain, futuristik antisipatif. Bangsa ini harus memaknai Kebangkitan Nasional dengan tiga mata rantai, yakni ide awal, kekinian, dan futuristik antisipatif. Kebangkitan Nasional lahir karena adanya Boedi Oetomo pada 1908 silam. Mata rantainya ialah Sumpah Pemuda 1928 yang ada setelah 20 tahun Boedi Oetomo. Lalu berkembang pada era 1945,di mana sejarah kemerdekaan lahir.

Lalu berkembang lagi pada gejolak era 1960–1965-an, kemudian 1998 yang terjadi berselang 30 tahun.Itulah fase-fase perkembangan sejarah Indonesia. Masa 1945 hingga 1998 merupakan masa eksperimentasi dan peletakan fondasi. Sebelum 1945 merupakan masa pencarian bentuk sebagai negara dan bangsa.Perkembangan ini melahirkan bangsa, kumpulan orang yang memiliki kesamaan pandangan dan citacita yang selalu dikaitkan dengan apa yang dinamakan dimensi fisik, logika, dan moral. Untuk periode sekarang, ada dimensi baru yakni dimensi cyber yang berkembang karena ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tetapi untuk membentuk sebuah negara,tidak cukup hanya empat dimensi itu. Diperlukan ideologi sebagai ikatan struktural.Empat pilar: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, penting sebagai identitas perbedaan. Identitas Indonesia dari awal sangat jelas sebagai negara dan bangsa. Peneguhan terhadap ikatan ideologis harus ada dan empat pilar harus diterjemahkan secara baik. NKRI bukan sekadar kesatuan fisik. Ada ekonomi, sosial, termasuk cyber.

Agar dimensi cyber tidak menjadi ancaman bagi ideologi Indonesia, untuk itu muncul cyber security. Tujuannya agar dimensi cyber bisa menciptakan kesempatan. Apalagi dalam dinamika sejarah, pergerakan massa di banyak negara lain saat ini ditentukan jejaring sosial. Ini merupakan tantangan besar karena sebuah domain baru. Jika bangsa ini tidak dapat masuk ke dimensi tersebut, akan terasing karena cyber termasuk mata rantai kekinian. Ditarik ke futuristik antisipatif, fenomenayangharusdihadapi saat ini ialah mobilitas.

Jika bangsa ini tidak hati-hati dengan peradaban yang mobilitasnya tinggi, hal itu akan membuat bangsa ini terdominasi. Karenaitu,bangsainimembutuhkan peradaban yang kuat. Bukan untuk membuat bentrokan dengan peradaban asing, melainkan sebuah harapan munculnya satu konvergensi atau peradaban baru. Karena itu, dunia pendidikan menjadi kata kunci Kebangkitan Nasional. Tugas bangsa ini sekarang adalah menarik gerbang pendidikan formal ke jenjang yang jauh lebih tinggi. Di sini pula diperlukan peran media, satu ruang yang menjembatani antara struktur dan kelompok masyarakat. Media diharapkan bisa bernuansa pembelajaran.

Dengan begitu,masyarakat dapat pembelajaran yang bagus kapan saja. Tugas terpenting lain ialah membangun peradaban dengan adanya mobilitas yang tinggi. Untuk itu, pemerintah aktif membangun pusat-pusat pendidikan Indonesia di berbagai negara seperti di Jepang, Berlin (Jerman), Rusia, dan Australia. Dengan sumber daya alam yang luar biasa besar, kekuatan ilmu pengetahuan,kultur, dan kekuatan ekonomi, Indonesia bisa berperan penting di kancah global.Namun, saat ini yang harus dihindari ialah jangan sampai bangsa ini terjebak fenomena miopia (rabun jauh).

Jangan hanya melihat potensi yang ada di dalam saja melainkan harus sadar dengan yang ada di luar sana.Meski dengan segala macam kelemahan yang dimiliki, ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga di atas 6 %. Dari sisi politik demikian, sejumlah negara di dunia berharap Indonesia bisa menjembatani apa yang terjadi di kancah global. Dengan silent diplomacy yang dijalankan, Indonesia diharapkan mengambil peranan pada negara lain. Namun, saat ini yang menjadi tantangan ialah bagaimana pengelolaan potensi yang dimiliki.

Untuk hal itu masih sangat butuh perhatian dan pengelolaan yang konsisten. Lulusan cumlaude agar menjadi potensi besar misalnya, untuk mendongkrak capital knowledge pemerintah terus mendorong pendidikan pascasarjana bebas biaya. Dalam bidang-bidang teknik, sains, dan agrikultur akan digratiskan SPPnya sehingga menjadi skala nasional. Tujuannya saat usia 25 tahun, lulusannya sudah menjadi master.Hal ini merujuk pada populasi mahasiswa teknik Indonesia yang baru 11%, padahal idealnya 20–30%. Di bidang sains masih 3% dan agrikultur 3,5%.

Karena itu, kata kunci untuk mencapai Kebangkitan Nasional adalah rasa memiliki (ownership) atau dalam bahasa politiknya nasionalisme. Dengan begitu, berbagai potensi dimiliki bangsa ini tidak terbuang sia-sia.Namun, nasionalisme saja belum cukup. Bangsa ini harus sadar bagaimana cara mengelola bangsa dengan unsur keterampilan teknis,kepemimpinan dan manajemen.

Selain itu, Indonesia harus dapat duduk bersama dengan negara- negara lain karena Indonesia bukan negara yang bisa hidup tanpa negara lain.??Disarikan dari wawancara dengan wartawan SINDO, Neneng Zubaidah, belum lama ini.

MOHAMMAD NUH 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan