UI Lahirkan Doktor Termuda Bidang Hukum


Minggu, 07 Oktober 2012 23:35 WIB     
DEPOK–MICOM: Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan gelar Doktor Ilmu Hukum kepada Ariawan Gunadi sebagai doktor termuda berusia 27 tahun di lingkungan kampus kuning tersebut.

Ariawan dikukuhkan saat menyampaikan disertasi Doktornya tentang Perjanjian Perdagangan Bebas Dalam Era Liberalisasi Perdagangan: Studi Mengenai Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) Yang Diikuti Indonesia di Fakultas Hukum UI, Depok.

Ia berhasil lulus dengan predikat sangat memuaskan pada sidang disertasi yang dipimpin promotor atau penguji Agus Brotosusilo dan tim penguji Prof Ahmad Zen Umar, Prof Erman Rajagukguk, Prof Rosa Agustina, dan Dr Gunawan Wijaya di Kampus Fakultas Hukum UI, Depok, Sabtu (6/10).

Dalam disertasinya, ia meminta Pemerintah Indonesia mengkaji kembali sejumlah perjanjian perdagangan internasional baik di kawasan ASEAN, dengan China serta negara lainnya.

Ariawan menekankan dalam era globalisasi dan borderless dewasa ini, semakin banyak perjanjian internasional yang diikuti oleh negara, salah satunya perjanjian perdagangan bebas. Indonesia telah terikat dengan banyak perjanjian perdagangan bebas baik bilateral, regional, maupun multilateral, dan dirasakan Indonesia belum mendapat benefit atau keuntungan, khususnya dalam lingkup ACFTA.

“Pada awalnya harapan perjanjian perdagangan bebas menyejahterakan rakyat, tetapi sebaliknya dari data yang didapat Indonesia dirugikan, lapangan kerja tidak tercukupi dan banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK),” paparnya.

Ariawan yang juga Sekretaris Yayasan Universitas Tarumanagara ini mengemukakan data akibat perjanjian perdagangan bebas, jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan akan mencapai 7,5 juta jiwa. Itu berarti, angka pengangguran terbuka yang saat ini sekitar 8,9 juta akan membengkak menjadi 17,8 juta orang.

Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara itu menjelaskan bahwa China maupun AS tidak membuka pasar ketika industri manufaktur mereka belum kuat. Mereka memiliki kebijakan hukum untuk memproteksi produk dalam negeri selama beberapa dekade, baru membuka pasar setelah stabil.

Sebaliknya, kata dia, Indonesia dengan manufaktur lemah tetapi tetap membuka perjanjian perdagangan bebas yang sangat strategis seperti ACFTA. “ACFTA diterapkan tanpa penelitian, evaluasi, dan persiapan serta dapat membawa kerugian baik dimensi hukum dan ekonomi,” tegas Ariawan yang juga produktif menulis di sejumlah media massa.

Ariawan berhasil menjadi doktor termuda di UI setelah sebelumnya doktor termuda diraih Firmansyah yang kini Dekan FEUI pada usia 29 tahun. (Bay/OL-2)