Transkrip Wawancara Mendikbud Terkait Pemerkosaan Siswi SMP di Depok
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/762
18 Oktober 2012

Wartawan : Korban pemerkosaan di depok dikeluarkan dari sekolah

Mendikbud: Masa, Ndak Ah

Wartawan : Dari anaknya pun trauma dah ga mau masuk lagi

Mendikbud: Saya terus terang belum tahu persis. Belum ketemu sama si putrinya atau putranya.

Wartawan : Dari pihak …

Mendikbud: Jadi gini, sekolah itu hak dari setiap anak. Oleh karena itu, sekolah tetap harus memberikan layanan kepada sang anak, tetapi, ada tetapinya, pada kondisi tertentu bisa jadi misalkan karena kenakalannya maka sekolah bisa mengembalikan sang anak kepada orang tuanya. Tetapi itu pun juga tidak menyelesaikan persoalan karena mereka harus sekolah juga berarti harus ada sekolah yang mau menampung sehingga harus dicarikan jalan keluarnya, jadi tidak sekedar sampeyan di drop out terus kamu sekolah di mana. Harus dicarikan jalan keluarnya itu. Untuk hal yang sangat khusus seperti yang sampeyan sampaikan tadi itu. Yang pertama sekolah , karena itu kan, kecuali kalau sengaja, sengaja ga dia ?

Wartawan: Si korbannya? Ngga sengaja , ketemuan di facebook terus perkosaan. Sengaja berarti sengaja diperkosa pak?

Mendikbud: Soalnya kadang-kadang ada yang sama-sama senang ngakunya diperkosa.

Wartawan: diperkosa pak

Mendikbud: Kok tahu sampeyan

Wartawan : Dari korbannya pak

Mendikbud: Tanya sama yang mengorbankan, yang mengorbani, Itu yang susah , tapi kalau dia benar korban harus kita lindungi kita pulihkan traumatiknya. Hak-haknya pun juga kita siapkan, kasihan dia. Ga boleh. Sudah kena musibah terus sekolahnya pun juga tidak selesai kan kasihan. Harus kita lindungi mereka.

>>>

SMP Budi Utomo Depok Tidak Pernah Usir Siswinya

10/18/2012
Depok — Gencarnya pemberitaan di media massa terkait pengusiran yang dilakukan SMP Budi Utomo Depok terhadap salah satu siswinya, dibantah oleh Kepala Sekolahnya, Renata Parhusip. Renata mengatakan, pihaknya tidak pernah mengusir SAS, siswi yang diberitakan tersebut. Ia kemudian menceritakan kronologis permasalahannya yang dimulai pada September lalu.

Ditemui di ruangannya di SMP Budi Utomo, Depok, (17/10),  Renata menuturkan bahwa pada Minggu, 16 September lalu, SAS, siswi kelas IX, tidak pulang ke rumah orang tuanya. Keesokan harinya, orang tua SAS datang ke sekolah menanyakan kehadiran putrinya di sekolah. Ternyata SAS tidak masuk. Orang tua SAS kembali mendatangi sekolah pada Rabu, 19 September, namun putrinya masih absen. Kemudian pada Jumat, 23 September, orang tua SAS datang lagi ke sekolah, mencari teman SAS yang bernama Putri. Saat itu mereka datang bersama wartawan.

Tiga minggu setelah “hilang”nya SAS, pada upacara bendera Senin, 8 Oktober, Renata sebagai Kepsek SMP Budi Utomo memberikan arahan mengenai disiplin sekolah. Beberapa hal yang ditekankannya antara lain mengenai larangan tawuran, dan menjaga nama baik sekolah. Ternyata saat itu SAS sudah masuk sekolah dan mengikuti upacara tersebut. SAS datang ke sekolah ditemani ibunya, namun mereka belum melapor ke sekolah bahwa SAS sudah kembali ke rumah dan bersekolah lagi.

Usai upacara, SAS masuk kelas, namun wali kelas memintanya untuk melapor dahulu ke kepala sekolah mengenai kehadirannya. SAS kemudian keluar kelas dengan membawa tas. Ibunya yang melihat hal tersebut menganggap putrinya diusir dari kelas, dan langsung membawa SAS pulang. Mereka lalu menemui Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengadukan perihal pengusiran anaknya oleh pihak sekolah. Tidak lama setelah itu, pemberitaan mengenai pengusiran tersebut ramai di media massa, terutama media online.

Renata Parhusip, Kepala Sekolah Budi Utomo Depok sekali lagi menegaskan, pihaknya tidak pernah mengusir atau mengeluarkan SAS dari sekolah. Sekolah bahkan memfasilitasi SAS mengikuti UTS susulan. UTS tersebut diselenggarakan di rumah SAS, dengan pendampingan dari salah satu guru SMP Budi Utomo, dan Komite Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Depok. Renata juga menjelaskan, rekam jejak SAS di sekolah cukup baik. Sejak kelas VII hingga kelas IX SAS merupakan anak yang pendiam, dan tidak pernah melakukan penyimpangan atau pelanggaran di sekolah. SAS juga tidak pernah bermasalah dengan guru maupun teman-temannya di sekolah. (JS, DM)

Dinas Pendidikan Kota Depok Sudah Fasilitasi Mediasi SMP Budi Utomo

Mendikbud Mohon Maaf atas Kesalahan Persepsi Terkait Kasus Siswa yang Diperkosa