Mahasiswa UGM Menang Kompetisi Energi Terbarukan

Sabtu, 23 Februari 2013 | 05:27 WIB
TEMPO.CO, Yogyakarta – Tim Avante, gabungan enam mahasiswa Jurusan Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada memenangi kompetisi pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang digelar Perusahaan Minyak asal Prancis, Total.

Dalam kompetisi yang mengadu konsep pemanfaatan teknologi energi terbarukan bagi kawasan terpencil itu, tim UGM meraih juara pertama untuk kategori ‘Sky Grant’ yang berupa konsep aplikasi energi sel surya di kepulauan Karimun Jawa. “Hadiahnya berupa hibah untuk pembiayaan proyek di Karimun Jawa sebanyak 5000 euro,” kata Rifki Dwi Prabowo, koordinator tim itu di kampusnya pada Jumat, 22 Februari 2013.

Menurut Rifki, kompetisi yang penentuan pemenangnya pada pertengahan Februari 2013 lalu itu diikuti tim mahasiswa dari berbagai negara Asia, Afrika dan Eropa. “Dari Asia hanya UGM dan tim mahasiswa India,” ujar dia.

Kompetisi ini, kata dia memiliki tiga kategori yakni, aplikasi teknologi energi terbarukan berbasis potensi langit, tanah, laut. Kategori terakhir, pengembangan isu ini di berbagai sektor bisnis, kemanusiaan, seni dan olah raga. Untuk kategori Sky Grant, dua tim dari Asia, UGM dan tim dari India masing-masing sama-sama meraih juara pertama. “Untuk kategori pemanfaatan solar cell ini, juara kedua dari Afrika. Tapi, di kategori lain, semua juara dari Eropa,” ujar Rifki.

Konsep pemanfaatan energi matahari bagi komunitas terpencil yang ditawarkan tim Avante sebenarnya merupakan pengalaman mereka saat mengerjakan hal serupa di kawasan Panggang, Gunungkidul. “Intinya memakai teknologi sel surya untuk penggerak mesin penyedot air di kawasan terpencil,” ujar mahasiswa angkatan 2009 ini.

Anastsya Putri, anggota tim ini, menjelaskan konsep yang pemanfaatan energi sel surya yang akan di terapkan di Kepulauan Karimu Jawa memakai model pembinaan warga. Kata dia ini berbeda dengan proyek sel surya di Karimu Jawa selama ini, yang tidak memberikan pemahaman pada warga di sekitar lokasi perangkat sel surya, tentang cara memperbaiki perangkat pembangkit listrik jika mengalami kerusakan.

Rencananya, kata Putri, timnya akan mulai bekerja mengaplikasikan konsep tadi di Karimun Jawa pada Juni 2013. Periode ini dipilih karena bersamaan dengan pelaksanaan program KKN sehingga tenaga sosialisasi ke warga bisa lebih banyak.

Skema yang akan dikerjakan timnya, kata Putri, ialah membangun perangkat pembangkit listrik tenaga surya di satu-satunya puskesmas yang dimiliki kawasan Karimun Jawa. Lalu, energinya akan dipakai untuk penggerak pompa air khusus yang memenuhi kebutuhan air puskesmas. “Mesin pompa kami pilih yang summersible agar bisa aktif dengan daya seminimal mungkin yang dihasilkan sel surya,” ujar dia.

Panel surya berkekuatan 50 watt peak akan dipasang sebanyak enam unit. Perangkat ini dilengkapi dengan alat maximum power point trakker untuk penguat daya dan memiliki sensor cahaya. “Jadi kalau ada sinar, pompa aktif untuk memenuhi dua tangki air di Puskesmas,” kata Putri.

Meski sederhana, kata Putri, proyek ini akan memulai mendorong warga Karimun Jawa menngetahui cara memenuhi kebutuhan suplai energi listrik dari sel surya. Selama ini, warga Karimun lebih banyak bergantung pada suplai listrik tenaga diesel yang bisa menghabiskan 900 liter solar untuk kebutuhan energi seluruh kawasan itu.

Sementara, bantuan panel surya dari pemerintah ke penduduk kepulauan indah ini selalu hanya bertahan satu tahun saja. “Kalau rusak mereka tak tahu cara memperbaikinya, makanya penting membuat mereka paham sistem kerja sel surya,” ujar dia.

Sumber : tempo.co