Indonesia – China Kerja Sama Bidang Pendidikan Vokasi

03/27/2013

Beijing – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing berkolaborasi dengan ASEAN – China Center dan SEAMOLEC, menyelenggarakan workshop partnership Indonesia China. Workshop ini menjadi jembatan antar perguruan tinggi vokasi Indonesia dan China dalam bidang pertukaran tenaga akademik, saling bertukar pengalaman dan kurikulum, riset bersama serta pertukaran mahasiswa.

Workshop partnership ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun Na’im pada 26 Maret 2013 lalu. Na’im mengatakan, Indonesia saat ini sedang giat mendirikan akademi komunitas bagi dunia pendidikan vokasi. “Pendirian Akademi Komunitas di seluruh Indonesia dapat mempersempit “gap” di masyarakat dengan menyediakan pendidikan bagi masyarakat di daerah terpencil, melalui peran masyarakat,” kata Na’im.

Melalui kerja sama ini, diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi generasi Indonesia untuk mengembangkan diri ke dunia internasional, sebagai bagian dari persiapan dalam menyongsong era pasar bebas ASEAN.

Pembukaan workshop kerja sama Indonesia-China dihadiri oleh Liu Quan Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar China di Jakarta, Imron Cotan Duta Besar RI di Beijing, Shen Yubian Education Officer ASEAN-China Center Beijing.

Delegasi China berjumlah 22 orang terdiri dari para pimpinan universitas dari 12 universitas vokasi, bertemu dengan pimpinan 42 universitas vokasi Indonesia dan 16 Kepala SMK seluruh Indonesia. Dalam diskusi diperoleh kesepakatan untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dalam bentuk saling kunjung, penyediaan beasiswa dan sharing pembiayaan bagi mahasiswa program sandwich serta saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan program studi sejenis.

Acara workshop diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara peserta workshop. Dalam kesempatan ini telah ditanda tangani sebanyak 125 kesepakatan diantara para peserta workshop. Penandatanganan disaksikan oleh Gatot Hari Priowijanto Direktur SEAMOLEC, Chaerun Anwar Atase Pendidikan KBRI Beijing, dan Shen Yubian Education Officer ASEAN-China Center. (***)

Sumber: Website Kemdikbud

>>>

Berita Media Terkait:

PT diimbau kembangkan politeknik

Rabu,  27 Maret 2013 ? 01:57 WIB

PT diimbau kembangkan politeknik

Sindonews.com – Dengan adanya moratorium pembukaan fakultas maupun program studi (prodi) baru untuk akademik reguler, tiap Perguruan Tinggi (PT) baik negeri dan swasta terbuka untuk pengembangan politeknik.

Hal itu dilakukan guna memacu makin banyaknya politeknik, dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menyediakan dana hibah sebesar 1,5 juta USD. “Memang mendirikan politeknik atau sekolah vokasi itu tidak mudah. Setidaknya dari sisi biaya, pengembangan politeknik sudah tidak perlu pusing, karena ada dana hibah 1,5juta USD untuk pengembangan tiap prodi yang diajukan baik oleh PTN maupun PTS. Kesempatan ini tentu jangan sampai disia-siakan,” ujar Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) V Bambang Supriyadi, di Yogyakarta, Selasa (26/3/2013).

Bambang mengatakan, program pemberian hibah tersebut sudah dimulai sejak tahun lalu. Bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ingin mengembangkan prodi politeknik atau sekolah vokasi baru, bisa mengajukannya. Menurutnya, dana tersebut akan berlaku selama empat tahun sejak dana diberikan. “Sayangnya kesempatan besar ini belum dimanfaatkan oleh politeknik PTS yang ada di DIY,” imbuhnya.

Diungkapkan Bambang, pada 2012 lalu hanya Politeknik Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta. Karenanya ia berharap, tahun ini ada PTS yang mengajukan prodi baru pada politeknik atau sekolah vokasinya untuk dikembangkan. Kemudian mengenai pengajuan prodi baru sendiri, menurut Bambang bisa diajukan tiap tahunnya. Jumlah politeknik atau sekolah vokasi PTS di DIY sendiri sampai saat ini masih di bawah angka tujuh. “Namun saya tegaskan, meski ada kesempatan besar mengembangkan politeknik, yang perlu diingat ialah syarat lainnya seperti SDM pengajar harus dipenuhi. Jangan hanya memanfaatkan kesempatan namun tidak memikirkan kualitas,” tegasnya.

Menurut Bambang, sampai saat ini pun belum ada penambahan jumlah politeknik atau sekolah vokasi PTS di DIY. Beberapa PTS baru pada tahap rencana atau sudah mengajukan tapi tidak juga disetujui. Hal ini dikarenakan tidak semua prodi politeknik atau sekolah vokasi juga akan dikabulkan oleh Ditjen Dikti, seperti prodi keperawatan dan kebidanan. “Beberapa prodi jumlahnya sudah banyak, padahal ada juga prodi yang harusnya ada tapi sampai sekarang belum ada yang mengajukan seperti keahlian fisioterapi. Pengajuan prodi yang langkah seperti itu yang justru akan cepat dikabulkan karena adanya kebutuhan di lapangan,” jelasnya.

(maf)