FARMASI

Obat Palsu Tembus Apotek

Jumat,03 Mei 2013

Jakarta, Kompas – Obat palsu jenis PDE5 inhibitor atau sildenafil untuk terapi disfungsi ereksi ditemukan di sejumlah apotek. Ini menunjukkan luasnya peredaran obat palsu hingga masuk jalur distribusi obat resmi.

Demikian hasil penelitian Victory Project Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) yang dipaparkan pada Kamis (2/5) di Jakarta. Penelitian berlangsung tahun 2011-2012, dipimpin Guru Besar Urologi FKUI Akmal Taher di Jabodetabek, Malang, Surabaya, Bandung, dan Medan.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan Widyaretna Buenastuti mengatakan, penelitian dilakukan dengan membeli obat dari penjual obat pinggir jalan, toko obat, situs internet, dan apotek. Contoh obat yang diuji ada 518 tablet.

”Hasilnya, sildenafil dari penjual obat pinggir jalan 100 persen palsu, dari toko obat 56 persen palsu, dari situs internet 33 persen palsu, dan apotek 13 persen palsu,” katanya.

Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi untuk semua obat karena yang diteliti hanya sildenafil dan hanya di beberapa kota. Hasil penelitian akan terbit di jurnal kedokteran pertengahan 2013.

Namun, hasil penelitian menunjukkan kondisi sangat memprihatinkan. ”Peredaran obat palsu benar-benar ada di sekitar kita dan mengancam masyarakat,” katanya.

Hal senada dikatakan Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia Nurul Falah. Terutama karena ditemukan obat palsu di apotek yang merupakan jalur distribusi resmi obat. Nurul berencana melakukan investigasi terkait hasil penelitian itu berkoordinasi dengan Majelis Pembina Etik Apoteker dan Komite Farmasi Nasional Bidang Pengawasan dan Pembinaan.

Peneliti dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI Melva Louisa mengatakan, obat palsu mengakibatkan pasien mendapat dosis tidak sesuai atau sama sekali tidak mendapat dosis yang dibutuhkan. ”Pada kasus ekstrem, penggunaan obat palsu bisa mengakibatkan kematian,” katanya.

Hal yang dapat dilakukan konsumen untuk memastikan keaslian obat adalah mengenali bentuk, ukuran, rasa, dan bau obat. Masyarakat harus curiga jika harga obat terlalu murah.

”Curigai toko obat online yang tak mencantumkan alamat toko fisiknya. Masyarakat juga harus waspada jika ada perubahan bentuk obat atau tanggal kedaluwarsanya. Laporkan apabila ada efek samping obat yang tidak terduga,” kata Melva.

Dia mengimbau masyarakat yang menemukan obat palsu segera melapor ke Badan Pengawas Obat dan Makanan agar segera diambil tindakan. (DOE)

Sumber: Kompas Cetak