Raih Predikat Dosen Berprestasi melalui Sistem Kebencanaan

07/10/2013
Jakarta — Teuku Faisal Fathani, dosen Universitas Gajah Mada (UGM) keluar sebagai juara pertama dalam pemilihan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) pendidikan tinggi berprestasi tingkat nasional 2013. Dengan karya yang bertajuk pengembangan sistem pemantauan dan peringatan dini tanah longsor, pria yang telah mengabdi di UGM selama 14 tahun ini mengalahkan 14 finalis lainnya.

“Saya telah mengembangkan alat-alat pemantauan dan peringatan dini tanah longsor ini sejak 2007. Ada 30 varian, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih dan terbaru,” tutur Fathani usai menerima plakat dan sertifikat sebagai dosen berprestasi, di hotel Menara Peninsula, Jakarta, Minggu (7/7).

Prestasi Fathani bukan baru kali ini saja. Dosen teknik sipil dan teknik geologi ini merupakan mahasiswa teladan di UGM 17 tahun silam. Dengan prestasi tersebut, Ia memulai karirnya di UGM sebagai dosen. “17 tahun yang lalu Saya meraih mahasiswa teladan peringkat satu di UGM. Kemudian diminta jadi dosen, karena konsekuensinya begitu (menjadi dosen),” jelasnya.

Sistem pemantauan dan peringatan dini bencana tanah longsor karya Fathani sudah dipasang di 12 provinsi di Indonesia. Dari 12 provinsi tersebut, terdapat 112 alat yang digunakan.

Awalnya, kata Fathani, Ia mengembangkan alat-alat tersebut terinspirasi dari sistem peringatan dini yang digunakan di Indonesia merupakan buatan luar negeri dengan harga USD3000-5000. Ketergantungan terhadap luar negeri sangat besar jika terjadi kerusakan pada alat tersebut. “Kita terpaku dengan itu, kalau alatnya rusak harus dikirim ke luar negeri lagi, kita ketergantungan,” katanya.

Dengan kesadaran tersebut, Fathani mengembangkan sistem itu dengan perangkat sederhana yang dirakit bersama dengan industri kecil dan menengah. Ia menggandeng bengkel-bengkel di daerah setempat sebagai tempat perakitan. “ Kalau kita ingin memasang di Karang Anyar, maka bengkel disana yang kita berdayakan,” katanya.

Tak hanya di dalam negeri, Fathani telah membawa karyanya ke konsorsium internasional. Tahun 2007, di sebuah konsorsium internasional yang terdiri dari 5 negara , Jepang, China, Filipina, Korea dan Thailand, Fathani memperkenalkan alatnya. Dari alat tersebut, negara-negara tersebut melihat adanya kebaruan. “Kita belum apply paten saat itu. Setelah itu saya ikut konsorsium di Tokyo, perwakilan China bilang, ini loh alat yang dikembangkan oleh Indonesia,” katanya bersemangat.

Dua tahun berturut-turut, Fathani diundang ke China. Di hadapan partai komunis Ia dikenalkan, sebagai pengembang sistem peringatan dan pemantauan bencana dari Indonesia. Di China, lanjutnya, sudah dibuat 1000 unit alat tersebut, dan dua diantaranya diserahkan kepada Fathani. “Dan itu bagi ilmuwan, apalagi bidang kebencanaan,sangat luar biasa. Dan siapapun yang akan mengembangkan ini, saya akan support,” katanya.

Melalui pemilihan PTK berprestasi ini Fathani mengaku mendapat banyak pelajaran. Ia merasa terpacu dengan melihat finalis lainnya yang membawa pengetahuan baru baginya. “Itu membuka mata, tidak ada manusia yang sempurna,” pungkasnya. (AR)