Setragis Inikah Uang Kuliah di Universitas Brawijaya?

“saya Gustian Ri’pi, maba UB yang sedang berjuang mencari keadilan”. Blog: http://bloggustian.blogspot.com

02 August 2013 | 06:28 Dibaca: 18962   Komentar: 70   12

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa saya tidak bermaksud untuk memprovokasi, mencaci maki atau memojokkan siapapun. Saya menulis ini hanya untuk melampiaskan rasa kesal dan rasa haru saya. Andai saja saya adalah anak seorang jenderal, konglomerat, atau anak orang kaya saya pasti tidak akan melakukan ini.

Di dunia ini memang tidak ada yang gratis, termasuk mencari ilmu. Ilmu tidak bisa dinilai harganya dengan uang. Manusia pun dicipatakan dan dikaruniai rejeki yang berbeda-beda. Mungkin atas dasar itu maka SPP di perguruan tinggi negeri (termasuk UB) menggunakan system UKT proporsional, dimana nominal SPP setiap mahasiswa berbeda-beda sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Tujuan Sistem UKT yg berkategori ini diharapkan yang mampu dapat membantu yang tidak mampu. Jadi sistemnya subsidi silang.

Memang angkatan saya tahun ini menjadi korban dari kebijakan baru Kemdikbud. Mulai dari UN 20 paket yang penuh carut-marut, dan sekarang lagi masalah UKT.

UKT di Universitas Brawijaya adalah yang tertinggi di seluruh universitas negeri se-Indonesia. Padahal maba UB memiliki jumlah terbanyak di Indonesia, tapi kenapa UKT malah segitumahal dibanding universitas lain. Ini tentunya menimbulkan tanda tanya besar, jangan-jangan ada pihak yang ingin memanfaatkan kampus sebagai ladang bisnis. Ini universitas negeri tapi rasanya seperti universitas swasta bahkan lebih daripada itu.

UKT Brawijaya diawal dibayarkan untuk satu tahun. Berikutnya tetap persemester. Kok seperti itu kebijakannya? Katanya karena UB butuh uang untuk pembangunan. Menurut DIKTI kampus tidak boleh menarikkan uang gedung. Tapi UB melakukannya, Ada yang bisa analisa kok maksa banget harus segera menyelesaikan pembangunan dengan mngorbankan MABA? Karena bapak rektornya tahun ini mau lengser, kata BEM UB.

Sudah menjadi tradisi di sekolah-sekolah Indonesia, uang bangunan terlalu dibebankan kepada siswa, padahal kami datang ke sekolah untuk mencari ilmu, bukan untuk membangun gedung mewah. Kami juga bukan seperti kain yang menyerap air dan bisa terus diperas. Dosen UB sendiri bilang bahwa UB mata duitan. Yang kaya dapat UKT rendah, yang cukupan malah dapat UKT tinggi. Lalu dimana keadilan. Sistem UKT UB benar-benar salah sasaran.

Katanya UKT itu untuk meringankan biaya kuliah dan memberikan keadilan, namun justru sebaliknya yang terjadi. Apa yang saya dan teman-taman lain alami ini sungguh mengharukan. Saya bukanlah anak orang yang berada, orang tua saya cuma PNS biasa dan punya 4 tanggungan yg masih butuh uang untuk sekolah, Pikirku aku akan dapet UKT di golongan 3 atau 4, tapi ternyata gol. 6 (khusus untuk jurusan saya, nominalnya 9,5jt persemester, setahun 19 juta). Ini tentu memberatkan bagi golongan menengah kebawah. Yang pasti namanya orang tua pasti akan mengusahakan berapapun biayanya. Tapi semua anak juga tak ingin menyusahkan orang tua.

Setahu saya, UKT itu seharusnya meringankan. Bukan membebani. Saya bukannya menolak mendapat UKT sebesar ini, tapi juga bersyukur karena orang tua masih mengikhlaskan, dan ini juga menjadi motivasi buat saya, berarti saya harus lebih serius belajar supaya nggak rugi bayar UKT mahal. Lagi pula “Tuhan tidak segan-segan membantu umat yang gemar menolong sesamanya”. Cuma yang menjadi pertanyaan saya kemudian ialah: sudah adilkah pembayaran dengan system UKT ini?

Saya menjamin bahwa memang ada ketidakadilan dan kecurangan dalam penentuan UKT ini, banyak yang pendapatan ortunya lebih tinggi justru mendapat golongan UKT rendah. Dan sebaliknya.

Saya terharu ketika menerima sms teman saya yang mengatakan bahwa orang tuanya sudah memutuskan untuk mundur dari UB, gara-gara UKT. Ini tentunya menimbulkan rasa kekecewaan pada anak, bayangkan sudah setengah perjalanan dan terpaksa harus keluar mencari tempat kuliah yang lain. Semoga Tuhan tunjukkan yang terbaik buatnya. Sepertinya ungkapan “orang miskin dilarang sekolah” ternyata masih berlaku disini.

Sudah banyak maba yang jadi down bahkan memilih mundur dari UB, gara-gara kebijakan UKT yang tidak manusiawi. Tolong UB ini lebih pro mahasiswa. Jangan hanya memburu materi semata. Intinya hanya satu. Kami hanya ingin meminta hak kami. UKT benar-benar tidak tepat sasaran. Saya berharap Tuhan menunjukkan keadilan buat kami. Aminn.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Tanggapan Kemdikbud: