Butet Manurung dan mimpi tanah papua

Selasa, 15 Oktober 2013 17:00 WIB
Jakarta (ANTARA News) – Mimpi ingin membuka pendidikan di Papua akhirnya tercapai bersamaan dengan 10 tahun usia “Sokola Rimba”, demikian antropolog dan pecinta alam, Butet Manurung.

Melalui Ekspedisi Literasi Papua-SOKOLA pada awal September 2013, Butet bersama dua rekannya mulai merintis perjalanan menuju tanah impian itu.

Papua memang menjadi target Butet setelah lembaga yang dia dirikan tahun 2003 memberikan pelajaran baca tulis bagi Orang Rimba di Jambi dan sejumlah daerah lainnya.

Tepatnya di Kampung Mumugu Batas Batu, Asmat, dijadikan sebagai tempat program literasi SOKOLA.

“Kami punya 27 siswa SD dan 60 murid pra-sekolah. Tetapi semuanya mulai dari baca-tulis-hitung dasar,” katanya dalam acara peluncuran buku Sokola Rimba (edisi cover poster film) dan trailer filmnya yang dibesut oleh Riri Riza dan Mira Lesmana di Jakarta, Minggu (13/10).

“Mereka ada yang sudah bisa baca ba-bi-bu-be-bo, tapi ada juga yang pernah sekolah, tinggal kita refresh ingatannya tentang huruf-huruf,” kata perempuan yang pernah aktif di Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (PMPA) PALAWA Universitas Padjadjaran (Unpad) ini.

Butet, pemegang gelar Master bidang antropologi dari Australian National University, juga merumuskan metode baca-tulis berbasis silabel yang kemudian digunakan SOKOLA.

Atas dedikasinya, Butet mendapatkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, antara lain Man and Biosphere Award (Unicef, 2001), Time`s Asia Hero (2004), Ashoka Fellowship (2006), Young Global Leader (2009), serta E&Y Entrepreneurship of the Year (2012).

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2013

“Sokola Rimba” perkenalkan kehidupan masyarakat pedalaman

Minggu, 13 Oktober 2013 18:10 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Film “Sokola Rimba” diharapkan dapat membuka pemahaman masyarakat tentang kehidupan orang Rimba, seperti dikemukakan Butet Manurung penulis buku Sokola Rimba yang menjadi inspirasi film tersebut.

“Saya ingin orang-orang yang menonton film ini menjadi terbuka pikirannya sehingga tidak menganggap bahwa orang rimba adalah orang terbelakang,” ujarnya di Jakarta, Minggu.

Butet adalah seorang antropolog dan pecinta alam yang memperkenalkan baca tulis pada masyarakat pedalaman di Hutan Bukit Duabelas, Jambi.

Buku berjudul “Sokola Rimba” yang diangkat dari catatan hariannya menjadi guru dari suku nomaden di hutan wilayah Jambi itu diadaptasi menjadi film oleh Miles Films yang diproduseri Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza.

Butet menyambut baik keinginan mereka yang ingin mengadaptasi bukunya, meskipun sebelumnya dia sempat ragu.”Saya sempat khawatir, jadi saya harus memastikan film ini tidak jadi komersialisasi orang rimba,” tukasnya.

Namun, keraguannya sirna melihat karya-karya Mira dan Riri yang mengangkat tema anak dan pendidikan seperti film Laskar Pelangi dan Atambua 39 C.

Apalagi, dia terlibat sejak awal proses pembuatan film, “Dari awal saya terlibat, bahkan sejak bikin naskah.” Film yang dibintangi Prisia Nasution itu akan mulai tayang pada 21 November 2013.

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2013