1 ) Kasus Dr (HC) Bos Maspion, MA: Gelar Doktor Kehormatan Tak Bisa Digugat!

Kamis, 27/02/2014 10:59 WIB
Jakarta – Berbagai perguruan tinggi belakangan sering memberikan gelar doktor kehormatan atau doctor honoris causa ke orang yang dinilai layak. Tetapi jika Anda tidak setuju dengan penyematan doktor tersebut, maka perguruan tinggi terkait tidak bisa digugat. Kasus itu bermula saat Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memberikan gelar doctor honoris causa kepada bos Maspion, Alim Markus. Penganugerahaan ini diputuskan lewat SK Rektor Untag No 067/SK/R/III/2011 tertanggal 10 Maret 2011. Atas pemberian doktor kehormatan itu, Rektor Untag lalu mendapat kecaman dan berakhir gugatan ke pengadilan. Dua alumni Untag, Agus Pramudjiono dan Darmadji, melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya karena menilai SK rektor tersebut bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Gugatan ini dikabulkan oleh PTUN Surabaya pada 17 November 2011. Majelis hakim membatalkan Sk tersebut dan mencabut gelar doktor kehormatan yang diberikan rektor kepada Alim Markus. Putusan ini dikuatkan Pengadilan Tinggi TUN Surabaya pada 6 Maret 2012. Atas vonis ini, Rektor Untag tidak terima dan kasasi. Ternyata MA mengabulkan permohonan kasasi Rektor dan menolak gugatan alumni tersebut. Atas hal itu, alumnus pun giliran melayangkan gugatan lewat peninjauan kembali (PK). Tapi permohonan PK tersebut ditolak.

…dst

2 ) Mendikbud: Pemberian Gelar Guru Besar Ada Aturannya

Kamis, 27/02/2014 – 15:39
Jakarta, Kemdikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, menegaskan, untuk memberikan gelar guru besar kepada seseorang ada aturan yang harus dipenuhi. Sebelum dinobatkan sebagai guru besar, seseorang harus terlebih dahulu bergelar doktor (S3). “Guru besar atau profesor di Indonesia itu sangat jelas aturan mainnya. Harus Doktor,” demikian ditegaskan Mendikbud usai silaturahim Presiden dengan mahasiswa Bidikmisi di Jakarta, Kamis (27/02/2014). Mendikbud mengatakan, institusi pemberi gelar tersebut harus memiliki status akademik yang jelas. Sang calon guru besar, kata dia, sebelum ditetapkan harus menyampaikan hasil karya berupa penelitian atau karya lainnya. “Nanti dinilai oleh Kemdikbud kelayakan-kelayakan hasil karya tulis tersebut. Baru bisa ditetapkan apakah dia layak atau tidak menyandang gelar guru besar,” terangnya. Lazimnya, seorang guru besar merupakan dosen yang mengajar di perguruan tinggi tertentu. Bisa dipastikan, guru besar yang dicetak di Indonesia memiliki riset dan karya tulis. Bagi guru besar yang ditetapkan di luar negeri, kata Mendikbud, agar bisa dipakai di Indonesia harus disetarakan terlebih dahulu. “Sama halnya seperti sarjana atau insinyur dari luar negeri, guru besar juga harus melewati yang namanya penyetaraan,” katanya.

…dst

3 ) Gunakan Gelar Profesor, Rhoma Irama Bisa Dipidana

Kamis, 27 Februari 2014
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan, gelar profesor yang disematkan ke pedangdut Rhoma Irama seharusnya diuji penyetaraan terlebih dulu di dalam negeri. Jika ternyata gelar Rhoma tidak terbukti valid, menurut Nuh, bisa saja Rhoma dipidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Jadi itu sama saja kalau dia itu lulus sarjana di luar negeri, tidak serta-merta kita akui. Harus ada namanya penyetaraan. Kita lihat institusinya apakah itu sudah terakreditasi, lalu kurikulumnya, baru kalau sudah memenuhi syarat, kita tetapkan itu setara,” ujar Nuh saat dijumpai di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (27/2/2014). Nuh mengaku tidak tahu-menahu tentang gelar profesor yang didapat Rhoma. Dia pun mempertanyakan gelar itu lantaran lazimnya, seorang profesor masih aktif mengajar dan memiliki karya penelitian yang diakui.

…dst

4 ) Raih Gelar Profesor itu Sulit

Rabu, 26 February 2014 | 23:29 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Memahami satu ilmu pengetahuan tentunya tidak mudah. Namun, itulah yang seseorang harus ketahui untuk dapat meraih gelar profesor. Selain itu, mereka juga dituntut membuat penelitian untuk membuktikan pengetahuan. Hal ini diungkapkan Profesor Dr Ir Soleh Solahuddin ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (26/2). “Untuk mendapatkan gelar profesor itu tidak mudah, sangat berat. Kita harus benar-benar paham dunia pengetahuan, harus melakukan berbagai penelitian dan harus membuat karya ilmiah, kita juga harus melakukan pengabdian kepada masyarakat,” ucap mantan Menteri Pertanian pada Kabinet Reformasi Pembangunan periode 1998-1999 itu. Mantan Rektor Institut Pertanian Bogor itu menceritakan, salah satu syarat menjadi profesor adalah membuat karya tulis ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi. “Dan, yang paling penting lagi syarat utama menjadi profesor itu harus memiliki gelar doktor dulu. Jadi tidak bisa tiba-tiba orang langsung menjadi profesor,” tukas caleg DPR RI Partai NasDem dari Dapil Jawa Barat V itu.

…dst

5 ) Kemendikbud hentikan dana abadi pendidikan

Kamis,  27 Februari 2014  ?  19:26 WIB
Sindonews.com – Pemerintah tahun ini menghentikan kucuran Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), untuk dana abadi pendidikan. Padahal dana tersebut digunakan untuk beasiswa, penelitian dan dana pendidikan di daerah bencana. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengakui, tahun ini tidak ada dana APBN yang disisihkan untuk dana abadi pendidikan. Dia tidak menjelaskan apakah tahun depan dana abadi pendidikan akan ditambah. Namun saat ini pemerintah menghentikan dengan pertimbangan karena dana abadi pendidikan yang ada saat ini yang mencapai Rp16 triliun masih mencukupi. “Tahun ini tidak ada dana APBN yang disisihkan. Pertimbangannya sementara cukuplah,” kata Nuh usai Silaturahim Nasional Bidik Misi 2014, di Bidakara, Jakarta, Kamis (27/2/2014). Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) ini menyatakan, meski dana beasiswa yang dibiayai dari dana abadi pendidikan dihentikan. Namun mahasiswa Bidik Misi tidak perlu khawatir, karena pemerintah masih mengalokasikannya dari daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) Kemendikbud.

…dst

6 ) Mantan Rektor Unsyiah Divonis 2 Tahun Penjara Karena Kasus Korupsi

Kamis, 27/02/2014 18:31 WIB
Banda Aceh- Mantan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darni M Daud divonis dua tahun penjara karena terlibat dalam kasus korupsi beasiswa Unsyiah. Dalam kasus tersebut, Darni terbukti menerima dana Management Fee dari bantuan hibah Guru Terpencil (Gurdacil) tahun anggaran 2009-2010. Dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, majelis Hakim yang diketuai Samsul Kamar dan hakim anggota masing-masing Saiful As’ari dan Ainul Mardhiah mengungkapkan, bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama delapan tahun tidak terbukti. Dalam sidang itu, hakim juga menolak semua tuntutan JPU termasuk uang ganti rugi sebesar Rp 1,7 miliar yang dituntut kepada Darni. “Dari hasil kajian majelis hakim, JPU tidak cukup bukti melakukan pemeriksaan. jadi tuntutan JPU itu ditolak dan tidak terbukti,” kata ketua Majelis Hakim Samsul Kamar, Kamis (27/2/2014).

…dst

7 ) Rektor Universitas Leiden Serahkan Diploma HB IX di Keraton Yogyakarta

Kamis, 27/02/2014 18:02 WIB
Yogyakarta – Universitas Leiden asal Belanda menyerahkan penghargaan diploma Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada penerusnya. Penghargaan itu diterima langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta. Rektor Universitas Leiden, Prof Carel Stolker menyerahkan langsung penghargaan ini. Menurutnya, Sultan HB IX menempuh kuliah di fakultas hukum. Namun karena situasi perang dunia II, pendidikan di Leiden tidak sampai selesai. “Hampir selesai dan hanya tinggal skripsi. Tapi beliau sudah tercatat sebagai alumni Universitas Leiden,” kata Prof Carel di Gedong Jene, Keraton Yogyakarta, Kamis(27/2/2014). Sultan HB IX menjalani kuliah di Leiden hampir selama 4 tahun. Akan tetapi, Sri Sultan HB VIII memanggilnya pulang ke Indonesia saat Sultan HB IX akan mengerjakan skripsi. Pemanggilan ini terkait situasi Indonesia saat itu. Saat menjadi mahasiswa di negeri kincir angin itu, Sultan HB IX aktif dalam beragam kegiatan mahasiswa. Ia bahkan bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Leiden dan menjabat sebagai menteri komunitas mahasiswa tersebut. Ijazah yang diserahkan merupakan ijazah khusus. Oleh Sultan HB X, ijazah itu akan melengkapi koleksi museum Keraton Yogyakarta, sehingga masyarakat dapat melihatnya.

…dst

8 )  Presiden Instruksikan Perluas Jangkauan Bidikmisi

Kamis, 27/02/2014 – 14:53
Jakarta, Kemdikbud — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri Silaturahim Nasional Bidikmisi yang dihadiri sekitar 1.000 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Dalam sambutannya, Presiden SBY memberikan instruksi untuk terus meningkatkan dan memperluas jangkauan Bidikmisi. “Saya instruksikan, sejalan dengan peningkatan anggaran pendidikan, tolong jangkauannya diperluas untuk program Bidikmisi ini,” ujar presiden di hadapan Mendikbud Mohammad Nuh dan para mahasiswa Bidikmisi di Jakarta, (27/2/2014). Ia mengatakan, anak bangsa dari golongan ekonomi tidak mampu juga memiliki hak dan peluang yang sama untuk memiliki mimpi-mimpi yang indah untuk menjadi apa dan siapa di negeri ini. Karena itu, telah menjadi kewajiban moral negara untuk mendukung upaya-upaya dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran melalui pendidikan. Presiden SBY juga berharap para mahasiswa Bidikmisi bisa menjadi putra-putri terbaik calon pemimpin bangsa di masa depan. “Negara menunggu kepemimpinan kalian untuk membawa Indonesia ke era keemasan dan kejayaan,” katanya.

…dst

9 ) Di Depan Peserta Beasiswa Keluarga Miskin, SBY Cerita Masa Kecilnya di Pacitan

Kamis, 27/02/2014 12:16 WIB
Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) siang ini berkesempatan bertemu dengan mahasiswa peserta bantuan pendidikan keluarga miskin (bidikmisi). Presiden dalam pertemuan itu sempat mengisahkan masa-masa kecilnya di dunia pendidikan. SBY mengisahkan selama masa kecilnya dia hidup dari keluarga pas-pasan yang hidup di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Bagi warga Pacitan, dapat berkuliah di perguruan tinggi merupakan hal yang membanggakan. “Yang ingin saya ceritakan adalah sama dengan anak-anak sekalian. Ketika sudah melewati SD, SMP, SMA kami punya cita-cita untuk meneruskan ke PT. Bagi kami yang ada di Pacitan alangkah bangganya kuliah di Brawijaya, Airlangga atau ITS atau sejumlah PT lain,” ujar SBY dalam pertemuan tersebut, di Gedung Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/2/2014). SBY bercerita, namun karena pada saat itu Pacitan sebagai kota yang masih kecil, maka banyak teman-temannya yang mengurungkan niat berkuliah. Bukan karena tidak cerdas, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga.”Kenyataannya teman-teman saya tak semua bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Mereka banyak yang pandai cerdas, tapi harus kandas. Karena waktu itu negara kita belum kuat betul ekonominya sehinga tak selalu bisa menetapkan kebijakan dan program seperti bidikmisi sekarang ini,” ujarnya.

…dst

10 ) Dengar Cerita Pilu Mahasiswa Kedokteran UGM, SBY Teteskan Air Mata

Kamis, 27/02/2014 15:39 WIB
Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terharu mendengar kisah perjuangan Birul Qodriah, mahasiswa kedokteran UGM Yogyakarta. Birul merupakan mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin dan akhirnya kini menjadi calon dokter. “Orang tua saya cuma dapat Rp 5.000 setiap kali bertanam. Dia buruh tani,” ujar Birul di acara penerima beasiswa Bidikmisi, di Gedung Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/2/2014). Mendengar penjelasan itu, Presiden SBY yang duduk di depan Birul terlihat haru. Beberapa kali SBY mengusap matanya mendengar keterangan dari mahasiswa yang berprestasi di tingkat nasional tersebut dan duta keperawatan. Dalam kisahnya, Birul pernah meminta ke orangtuanya supaya bisa melanjutkan kuliah. Tetapi karena kondisi ekonomi yang sulit, orang tua Birul tidak bisa mengamininya. “Saya bilang saya mau melanjutkan kuliah, tidak ada jawaban apa pun dari bapak dan ibu,” ucapnya. Orangtua Birul pun mencari cara supaya anaknya bisa kuliah. Alhasil, orangtua Birul menemukan program beasiswa pemerintah yaitu program bantuan pendidikan keluarga miskin atau Bidikmisi.

…dst

11 ) Dini Nurlelasari, Mahasiswa Bidikmisi yang Lulus Kuliah Kurang dari Tiga Tahun

Kamis, 27/02/2014 – 11:36
Jakarta, Kemdikbud — Setelah menempuh studi selama 2 tahun 11 bulan, Dini Nurlelasari akhirnya berhasil meraih gelar sarjana dan diwisuda pada Agustus 2013 lalu. Lulusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad ini merupakan penerima Bidikmisi pertama yang lulus dari Universitas Padjadjaran (Unpad). “Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan Bidikmisi. Namun tidak berhenti sampai di sini, tanggung jawab yang lebih besar ada di depan mata. Saya harus bisa bermanfaat untuk orang banyak,” tutur Dini saat ditemui di acara Silaturahim Nasional Bidikmisi, Jakarta, (26/2/2014). Sebagai penerima Bidikmisi, Dini menuturkan bahwa banyak manfaat yang ia dapatkan. Selain kuliah di perguruan tinggi negeri secara gratis, ia juga mendapatkan tunjangan setiap bulan dan uang buku setiap semester. Dengan demikian, Dini menjadi tidak membebani orang tuanya. “Saya bisa meringankan beban orang tua. Orang tua saya dagang seadanya,” ungkap gadis kelahiran Bandung, 19 Februari 1992 ini.Dengan dibebaskannya dari biaya kuliah, Dini mengaku memiliki beban moral tersendiri. Ia menjadi terpacu untuk berprestasi dan belajar lebih semangat lagi. Apa yang didapatnya, harus “dikembalikan” juga pada negara. Ia harus menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsa dan negara.

…dst

12 ) Jailani Mahasiswa Bidikmisi, Berjuang Demi Perubahan Keluarga

Kamis, 27/02/2014 – 15:24
Jakarta, Kemdikbud — Abdul Qadir Jailani, Mahasiswa Universitas Hasannudin, Sulawesi Selatan, kelahiran Serang, 17 Agustus 1991. Ia pada awalnya tidak mengetahui apa itu bidikmisi, dan mengetahui bidikmisi dari teman-teman sekolahnya yang banyak membicarakan beasiswa tersebut, bahwa bidikmisi diperuntukan bagi para siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan berprestasi. Mahasiswa yang dulunya ketika duduk dibangku SMA sangat aktif diberbagai organisasi sekolah, seperti OSIS, pramuka, klub bahasa inggris, pentas seni ini mengambil jurusan Sastra Inggris. Ia dulu pun juga selalu mendapatkan juara 2 dan 3 kelas, dan mendapatkan peringkat ke 4 nilai terbaik ujian nasional di Kabupaten Bulu Kumba, Sulawesi Selatan.”Saya ditawari untuk mengikuti beasiswa bidikmisi oleh sekolah karena prestasi yang saya miliki,” ungkap Jailani, saat ditemui dalam acara silaturahmi nasional bidikmisi, di hotel bidakara Jakarta, Kamis (27/02/2014). Jailani putra kedua dari empat bersaudara, mengatakan sudah ditinggal sang ayah sejak umur lima tahun, dan Ibunda berjuang bekerja menjadi tenaga kerja di Arab Saudi selama 7 tahun. Setiba ibunda dari Arab Saudi, katanya, diputuskan tinggal dirumah keluarga ayahanda. “Begitu berat rasanya ditinggal sang Ibu,” ujarnya

…dst

13 ) Demi Kuliah, Ayah Birrul Kayuh Sepeda dari Bantul-Klaten

Kamis, 27 Februari 2014 14:12 wib
JAKARTA – Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Segala upaya akan mereka lakukan demi masa depan yang lebih baik daripada zaman mereka dulu. Atas dasar itu, orangtua Birrul Qodriyah rela mencari bantuan dana lewat program beasiswa agar sang anak bisa meneruskan keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Perjuangan itu berbuah manis, pada 2010, Birrul terdaftar menjadi mahasiswa S-1 Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melalui program bidikmisi. “Orangtua tahu saya ingin kuliah. Tapi mereka bingung bagaimana membiayai saya sementara mereka hanya buruh tani. Beruntung saya selalu mendapat ranking sejak SD hingga SMA, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan beasiswa,” kata Birrul ketika berbincang dengan Okezone, di sela acara gladiresik Silahturahim Nasional Bidik Misi 2014, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (26/2/2014) malam.

…dst

14 ) Kemendikbud: 15 Persen Soal UN Disumbang Perguruan Tinggi

Kamis, 20 Februari 2014, 19:23 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Komunikasi dan Media, Sukemi, mengatakan kalangan perguruan tinggi menyumbangkan materi soal Ujian Nasional (UN) 2014 sebesar 15 persen. “Kontribusi kalangan PT dalam penyusunan soal UN itu karena hasil UN bisa jadi tiket masuk PT,” katanya usai ‘Dialog Pendidikan Pimpinan Kemendikbud dengan Stakeholder Pendidikan Jateng’ di Semarang, Kamis. Menurut dia, kontribusi kalangan PT dalam penyusunan soal itu hanya untuk UN jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat karena peserta didik meneruskan ke jenjang pendidikan tinggi setelah lulus. Selain dari kalangan PT, kata dia, komposisi 15 persen soal UN itu juga diambilkan dari soal-soal yang diujikan di tingkat internasional, seperti PISA (Programme for International Student Assessment). “Jadi, dari PT dan soal-soal internasional 15 persen, selebihnya disusun dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Karena itu, tahun ini hasil UN bisa menjadi paspor atau tiket masuk ke PT,” katanya.

…dst

15 ) Tak Lolos Tes CPNS, Honorer K2 Tetap Dipekerjakan

Kamis, 27 Februari 2014 12:04 wib
jalur tenaga honorer kategori II (K2) membuat banyak orang resah. Pasalnya, dari 605.179 peserta tes, hanya 218 ribu yang lulus untuk memenuhi formasi CPNS tahun anggaran 2013. Sementara nasib sekira 400 ribu tenaga honorer K2 lainnya belum jelas. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Azwar Abubakar menyebutkan, mereka yang belum lulus tidak perlu gundah. Pasalnya, dia sudah mengimbau semua kepala daerah agar tetap memperkerjakan mereka, sesuai bidang yang sebelumnya dikuasai. Imbauan ini dijalankan sambil menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah turunan Undang-undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN). “Draf PP masih digodok oleh kementerian bersama akademisi. PP rencananya akan diterbitkan paling lama Agustus 2014,” kata Azwar, seperti dilansir laman Setkab, Kamis (27/2/2014). Ribuan tenaga honorer K2 yang tidak lulus seleksi CPNS 2013 mengadu ke Menteri PAN-RB Azwar Abubakar dan Sekretaris Negara (Seskab) Dipo Alam. Mereka memprotes hasil seleksi karena banyak peserta tes yang lulus masih berusia muda. Sementara tenaga honorer dengan masa tugas lebih lama banyak yang tidak lulus.

…dst

16 ) Tahun Ini Rekrut 100 Ribu Pegawai ASN, Pemerintah Alokasikan 20% untuk PPPK

Kamis, 27 Februari 2014 – 15:27 wib oleh Desk Informasi SETKAB
Pemerintah merencanakan akan merekrut 100.000 pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2014 ini. Dari jumlah itu, sebanyak 20% akan dialokasikan untuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Azwar Abubakar saat membuka Rapat Koordinasi Kebijakan Program SDM Aparatur di Jakarta, Kamis (27/2) mengemukakan, pemenuhan kebutuhan Pegawai ASN tahun ini dapat dipenuhi melalui pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan PPPK, serta penyelesaian tenaga honorer Kategori Dua (K2) yang telah dinyatakan lulus. “Khusus untuk pemenuhan pegawai ASN dari formasi PPPK dari kebutuhan pegawai ASN secara nasional dapat dialokasikan utuk jenis-jenis jabatan tertentu yang saat ini masih dirumuskan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sekitar 20% dari kuota formasi secara nasional,” kata Azwar Abubakar.

…dst