Adakan Ospek Menyimpang, Rektor akan Kena Sanksi

Minggu, 26 Juli 2015 | 14:02

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir (Antara/Sigid Kurniawan)

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengatakan, Univeritas tidak boleh melakukan Orientasi pengenalan kampus (Ospek|) yang mengarah pada perpeloncoan. Ospek harus sesuai dengan pedoman Kemristekdikti yang menekankan pada kegiatan pengenalan kampus.

Ia menegaskan, apabila ada univeritas atau perguruan tinggi yang masih ketahuan menerapkan ospek yang menyisipkan kekerasan dan perpeloncoan, pihaknya akan memberi sanksi baik pada senior maupun pihak rektor.

“Jika senior yang melakukan, kita akan kenakan sanksi akademik, dan rektor akan dipanggil karena dianggap telah melakukan pelanggaran institusi,” kata Nasir, saat melakukan Inspeksi mendadak ujian masuk Jalur Mandiri Undip di SMKN 29 Jakarta, Minggu,(26/7)

Dia menambahkan, untuk peringatan dan larangan perpeloncoan pihaknya telah melakukan koordinasi bersama para rektor. Nasir kembali menekankan tujuan ospek bukan sebagai ajang balas dendam senior, tetapi pengenalan lingkungan dan kegiatan kampus kepada mahasiswa baru (Maba).

Maria Fatima Bona/MUT

Inilah Aturan Baru Ospek dari Menristekdikti

Ilustrasi Ospek

Kamis, 30 Juli 2015 | 21:44

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menrisetdikti), Muhammad Nasir, memberi konfirmasi adanya kebijakan baru dalam pelaksanaan kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) bagi mahasiswa baru pada tahun ajaran 2015/2016. Yakni, ketua panitia ospek yang biasanya mahasiswa, kini diganti dan langsung dikoordinasi oleh dosen.

“Berbeda dengan sebelumnya, nantinya, ketua panitia ospek langsung dari dosen,” ujar Nasir seusai melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Komisi Pemiliham Umum (KPU), di gedung KPU, Jalan Iman Bonjol, Jakarta, (30/7).

Nasir menambahkan, tujuannya diberlakukannya aturan baru tersebut dimaksudkan untuk menghindari adanya kecenderungan panitia dalam melakukan misi balas dendam kepada mahasiswa baru.

Untuk menyosialisasikan kegiatan ospek, Nasir mengatakan, pihaknya akan melakukan pembahasan bersama dengan Pembantu Rektor (Purek) II dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia pada Minggu (2/8). Tujuannya, membahas persiapan dan memberi pencerahan agar pada pelaksanaan ospek tidak terjadi tindak perpeloncoan.

Menurut Nasir, pertemuan tersebut akan dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. “Kami telah mengundang seluruh Purek II untuk membahas ospek pada 2 Agustus,” ujarnya.

Nasir menegaskan akan mengenakan sanksi akademik dan instansi bagi perguruan tinggi yang kedapatan melakukan tindak perpeloncoan. Sanksi akdemik ditujukan untuk mahasiwa yang melakukan perpeloncoan, sedangkan sanksi instansi untuk Rektor dan perguruan tinggi.

Maria Fatima Bona/ED