PROYEK BLOK MASELA
Perguruan Tinggi Diajak Bersinergi Siapkan SDM

6 April 2016
JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merespons instruksi Presiden Joko Widodo terkait pengembangan sumber daya manusia untuk mengembangkan proyek gas alam Masela di Maluku. Langkah awal yang ditempuh adalah mengajak sejumlah organisasi dan perguruan tinggi untuk bersinergi.

Hal itu dikemukakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti) Muhammad Nasir dalam konferensi pers di gedung Kemristek dan Dikti, Jakarta, Selasa (5/4). Hadir juga dalam kegiatan itu, antara lain, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Achmad Hermanto Dardak; Rektor Universitas Pattimura, Maluku, Marthinus Johannes Saptenno; dan Direktur Politeknik Ambon Miegsjeglorie Viansjemeanos Putuhena.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta Menristek dan Dikti untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di Politeknik Ambon dan Universitas Pattimura. Hal itu dilakukan Jokowi karena telah meminta proyek Masela dibangun di darat agar lebih menguntungkan daerah sekitar pekerjaan tersebut (Kompas, 5/4).

Menurut Nasir, tujuh program studi keteknikan dan kualifikasi pendidikan telah ditetapkan bersama untuk calon tenaga kerja yang segera dididik untuk proyek ini.

Ketujuh program studi keteknikan itu adalah bidang perminyakan, mesin, elektro, kimia, industri, fisika, dan sipil.

Adapun ketujuh kualifikasi pendidikan itu terbagi atas sarjana teknik dan magister teknik (universitas); diploma I, II, III, dan sarjana teknik terapan (politeknik); serta insinyur profesional (profesi).

Saptenno menjelaskan, kebutuhan program studi itu masih bisa terpenuhi oleh Universitas Pattimura saat ini kecuali perminyakan. Ia menambahkan, fasilitas laboratorium yang belum mumpuni, milik perguruan tinggi itu, jadi kendala.

Kekurangan yang sama dialami Politeknik Ambon. Putuhena menuturkan, saat ini lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu hanya mengasuh program studi bidang sipil, elektro, dan mesin. “Ke depan, kami akan menambah program studi. Selain itu, laboratorium kami juga tidak memadai,” katanya.

Melihat kendala universitas itu, pihak Kemristek dan Dikti mengadakan kerja sama dengan berbagai lembaga pelatihan untuk mendidik calon tenaga kerja setelah lulus pendidikan. Beberapa fasilitas yang akan digunakan yaitu akademi PT Badak NGL (Kalimantan Barat) serta Sekolah Tinggi Energi dan Mineral Akademi Migas Cepu (Jawa Tengah). “Kami juga akan mengajak dosen dari perguruan tinggi seperti ITS, ITB, UGM, dan UI untuk mengajar di kedua lembaga itu,” kata Nasir. (C02)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Perguruan Tinggi Diajak Bersinergi Siapkan SDM”.

Baca Juga :

Jokowi Minta SDM Blok Masela dari Maluku, Menristekdikti Langsung Bergerak

Kemristekdikti Bantu Siapkan SDM Dalam Pembangunan Blok Masela