‘Musibah’ SMAN 3 Semarang Terkait SNMPTN

Dibentuk, Tim untuk Temui Menristek dan Dikti

13 Mei 2016
SEMARANG, KOMPAS — Musyawarah orangtua siswa dengan pengelola SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/5), menghasilkan kesepakatan untuk membentuk tim yang bertugas berkomunikasi dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dengan adanya kesepakatan ini, orangtua bersedia menunda pengajuan somasi ke pihak sekolah.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang mengikuti pertemuan tersebut mengatakan, Menristek dan Dikti akan diminta untuk memprioritaskan siswa SMAN 3 Semarang supaya bisa lolos pada seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN).

Pertemuan itu merupakan upaya menyelesaikan masalah kegagalan 380 siswa IPA SMAN 3 Semarang untuk lolos dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Pertemuan tertutup itu juga dihadiri Kepala SMAN 3 Bambang Nianto Mulyo dan anggota Komisi X DPR, Noor Achmad.

Setengah jam sebelum pertemuan selesai, puluhan siswa berunjuk rasa. Mereka membawa poster-poster, antara lain berbunyi, “3 Tahun Kami Mengejar Nilai Sia Sia Karena Bapak”.

Hevearita menjelaskan, dari hasil pembahasan, terlihat tidak hanya sistem teknologi informasi sekolah yang lemah. Sistem TI Panitia SNMPTN juga dinilai memiliki kelemahan. “Tim juga akan mempertemukan pengelola TI SMA dengan tim TI panitia supaya jelas letak permasalahnya,” ucapnya.

Sejumlah siswa menuturkan, mereka menghimpun data, lalu memasukkan nilai sesuai petunjuk tim TI sekolah. Mereka mendapati ada kolom nilai yang kosong, baik di menu 1 maupun menu 2. Ketika mendapati hal tersebut, beberapa siswa mengaku berkonsultasi kepada guru dan pimpinan sekolah. Diperoleh jawaban bahwa kolom kosong untuk mata pelajaran tertentu boleh tidak diisi nilai.

“Sebelum masalah ini ramai, kami pernah menanyakannya ke kepala sekolah. Namun, pihak sekolah malah menyalahkan siswa. Banyak siswa yang tersakiti,” kata seorang siswa, Bagas Rizki.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristek dan Dikti Intan Ahmad menyatakan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada siswa yang tidak lolos SNMPTN akibat kesalahan sistem di sekolah. “Mereka harus bersaing dalam SBMPTN,” ujarnya.

Ketua Panitia SNMPTN Rochmat Wahab menyatakan, insiden itu diakibatkan kesalahan teknis yang dilakukan sekolah di dalam mengisi formulir pendaftaran SNMPTN yang dilakukan lewat situs resmi. “Ada nilai mata pelajaran yang tidak dimasukkan,” ucapnya. (DNE/WHO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Dibentuk, Tim untuk Temui Menristek dan Dikti”.

Baca juga :

Penjelasan Disdik Jateng soal SKS dan ‘Musibah’ SMAN 3 Semarang Terkait SNMPTN

Rabu 11 May 2016, 18:59 WIB  – detikNews
Semarang – Setidaknya ada 9 sekolahan di Jawa Tengah yang menggunakan sistem kredit semester (SKS), meski demikian tidak ada yang sampai mengalami “musibah” ratusan murid tidak lolos SNMPTN seperti yang dialami SMAN 3 Semarang.

Kasi Kurikulum Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Bambang Supriono mengatakan SKS sudah diterapkan di sejumlah sekolah sejak tahun 2011 dan hingga saat ini sudah ada 9 sekolahan yang memakainya yaitu SMAN 1 Kudus, SMAN 3 Semarang, SMAN 1 Pati, SMAN 1 Salatiga, SMAN 1 Kebumen, SMAN 1 Wonosobo, SMA Karangturi Semarang, SMAN Takasus Wonosobo, dan SMAN 3 Purwokerto.

“Sudah sejak tahun ajaran 2011. Masih tahap rintisan. Yang mengalami seperti itu hanya SMAN 3 Semarang,” kata

Tahun-tahun sebelumnya, input Pangkalan Data Sekolah & Siswa (PDSS) online menggunakan sistem reguler. Namun tahun ini, lanjut Bambang, diberikan dua opsi kepada sekolahan, akan menggunakan sistem reguler atau sistem baru.

“Sistem baru, jadi misalkan ada kelas A sampai F, kemudian kelas A, B, C, dan D ada pelajaran Kimia semester ini, kemudian kelas E dan F tidak ada, kemungkinan semester berikutnya kelas E dan F yang ada Kimia. Nah, yang jadi masalah kalau pembagiannya (reguler dan baru) sama,” terang Bambang.

Sistem baru itu digunakan oleh SMAN 3 Semarang yang merasa sudah siap, sedangkan sekolah lainnya yang menerapkan SKS masih masukkan data dengan sistem lama.

“Yang lain-lain misalnya di Wonosobo kami cek masih menggunakan sistem lama karena merasa belum siap dengan yang baru. Sepertinya yang menggunakan sistem baru hanya SMAN 3 Semarang,” ujarnya.

Menurut Bambang, sebenarnya sistem SKS yang diterapkan tidak ada masalah. Jika kesalahan ada pada personal sekolahnya, lanjut Bambang, buktinya siswa IPS di SMAN 3 Semarang bisa lolos SNMPTN. Jika yang salah sistemnya, ternyata sekolah lain tidak ada masalah.

“Saya juga bingung, kalau sistemnya ternyata di sekoah lain tidak ada masalah, kalau personal, ternyata yang IPS masuk (SNMPTN),” tandasnya.

Oleh sebab itu memang perlu dicari secara seksama apa penyebabnya hingga 380 siswa IPA reguler SMAN 3 Semarang tidak lolos SNMPTN. Bambang menambahkan pihaknya juga turut mencari informasi membantu pihak seolah yang saat ini berusaha menemui ketua Panitia SNMPTN.

“Kita hati-hati cari informasi termasuk kronologi sejelasnya agar informasi ini sama,” kata Bambang.

Sementara itu menurut panitia SNMPTN, ada nilai yang tak terisi dalam database online sekolah favorit yang menerapkan sistem SKS itu. (alg/try)

Baca juga:

Menristek Dikti Bicara Sistem Validasi Database Sekolah di SNMPTN 2016

Jawaban SMAN 3 Semarang soal Kenapa IPA Reguler Bermasalah dan yang Lain Tidak

Kesedihan Siswa SMA 3 Semarang Pencipta Rompi Antipeluru yang tak Lolos SNMPTN