KOMODITAS MASA DEPAN

Screenshot_2016-05-25-09-06-50-1

Penguasaan oleh Asing Tinggal Tunggu Waktu

25 Mei 2016

JAKARTA, KOMPAS — Penguasaan riset dan bisnis sejumlah komoditas oleh perusahaan-perusahaan asing hanya tinggal menunggu waktu. Mereka telah melakukan riset lebih maju dan menyiapkan rencana bisnis komoditas itu ke depan. Di dalam negeri, komoditas ini masih sedikit mendapat perhatian.

Perusahaan-perusahaan asing menyiapkan komoditas yang sebagian besar rempah-rempah sebagai pangan masa depan karena ditemukan sejumlah fungsi medis komoditas itu. Dalam beberapa studi rempah-rempah diperkirakan segera masuk dalam piramida makanan dunia.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Aek Nauli Aswandi, di Simalungun, Sumatera Utara, Selasa (24/5), mengatakan beberapa kali didatangi pengusaha dari luar negeri untuk mengembangkan komoditas yang tengah diteliti.

Pengusaha dari Tiongkok mencari dirinya untuk mengetahui tanaman kapur (Dryobalanops aromatica). Di Tiongkok, minyak kapur diambil dari daunnya. Pengusaha itu mencari tanaman kapur di Sumatera karena kandungan zat-zat dalam tanaman Sumatera jauh lebih baik daripada tanaman kapur di negara itu. Minyak kamper akan dijual ke Perancis sebagai bahan parfum dan ke Amerika Serikat untuk bahan obat.

Selain itu, Aswandi juga dicari pemilik rumah sakit besar di Singapura untuk mengembangkan tanaman rotan jernang (Daemonorops sp). Ia ditawari untuk mengembangkan tanaman jernang seluas 100 hektar di Malaysia, khususnya jernang dragon’s blood (Daemonorops draco). Serbuk dalam buah rotan itu adalah obat pengencer darah. Harga serbuk itu mencapai Rp 5 juta per kilogram.

”Mereka datang ke Pematang Siantar dan menawari gaji yang bagus untuk membawa tanaman jernang dikembangkan di sana, tetapi saya tolak,” ujar Aswandi.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Noemeto, Kecamatan Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Yusuf Faot (65) mengatakan, ia memiliki tiga pohon cendana dengan diameter 30-40 sentimeter. Satu pohon di antaranya tumbuh di dekat jalan Trans Timor, berdiameter 40 cm. Pohon itu sudah ditawar oleh seorang pengusaha dari luar dengan uang tunai Rp 500 juta atau uang tunai Rp 300 juta ditambah satu unit mobil Avansa. ”Namun, saya tak mau karena saya belum tahu harga cendana sebenarnya,” kata Faot. Fungsi kayu dan minyak cendana antara lain untuk bahan baku parfum, sabun, kosmetik, dan obat-obatan.

Executive Vice President Supply and Operation SOHO Global Health I Made Dharma Wijaya mengatakan, komoditas rempah sangat prospektif untuk industri obat, kosmetika, dan pangan. Sejumlah riset dilakukan oleh peneliti Indonesia yang bekerja di Jerman dan Korea Selatan, serta peneliti luar negeri.

Minat riset yang tinggi terhadap rempah Indonesia, menurut Made, sangat bisa dimengerti. Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, termasuk berbagai tanaman obat yang telah dikenal dapat menyembuhkan berbagai keluhan dan penyakit. Dari sekitar 40.000 spesies tanaman obat di dunia, 30.000 ada di Indonesia.

Direktur Utama PT Mustika Ratu Tbk Putri K Wardani mengatakan, para peneliti luar negeri saat ini banyak meneliti kandungan tanaman berkhasiat dari Indonesia. Peneliti Jepang, misalnya, telah meneliti khasiat temulawak untuk hepatitis dan kunyit putih untuk kanker.

Menjadi incaran

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Muhammad Syakir mengakui adanya upaya pihak asing untuk memanfaatkan kekayaan komoditas langka di Indonesia.

”Indonesia menjadi incaran negara lain dalam perburuan plasma nutfah karena nomor dua pemilik kekayaan plasma nutfah terbesar dunia setelah Brasil, kalau dengan biota lain nomor satu dunia,” katanya.

Meski demikian, riset-riset di dalam negeri sudah mulai dilakukan. Beberapa perusahaan swasta tengah melakukan penelitian sejumlah tanaman untuk bahan baku obat.

I Made Dharma Wijaya mengatakan, SOHO Global Health telah melakukan banyak penelitian baik yang dikerjakan oleh tim riset dan pengembangan sendiri maupun bekerja sama dengan peneliti dari berbagai lembaga penelitian dan universitas dalam dan luar negeri. Kendala utamanya adalah investasi biaya penelitian cukup besar dan memakan waktu yang sangat lama. Kendala lain adalah ketersediaan sumber daya dan fasilitas pendukung penelitian yang masih terbatas.

Kepala Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Joeni S Rahajoe Joeni juga menekankan, tantangannya adalah waktu riset yang panjang. Penelitian untuk menghasilkan obat bisa belasan hingga puluhan tahun karena harus melalui berbagai pengujian mengingat itu berhubungan dengan nyawa manusia.

Dengan segala keterbatasan itu, LIPI tidak akan mampu mempelajari potensi dari seluruh tumbuhan satu per satu, termasuk yang tergolong komoditas-komoditas perdagangan terlupakan.

Peneliti etnobotani LIPI, M Fathi Royyani, menuturkan, salah satu tanaman komoditas yang perdagangannya makin surut, gambir, memberi jalan bagi penemuan antibiotik asal Indonesia. Penemuan ini adalah hasil riset peneliti fitofarmaka LIPI yang masih berjalan. Namun, potensi manfaat bukan dari tumbuhannya, melainkan dari metabolit atau senyawa kimia pada jamur di tumbuhan gambir. (JOG/LAS/WSI/MAS/ CAS/KOR)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Mei 2016, di halaman 1 dengan judul “Penguasaan oleh Asing Tinggal Tunggu Waktu”.

Baca juga :

Riset Komoditas Tak Berjalan