PENGHARGAAN
Ajip Rosidi Kembalikan Habibie Award

27 Mei 2016
JAKARTA, KOMPAS — Sastrawan Ajip Rosidi mengembalikan Habibie Award bidang ilmu budaya yang diterimanya pada 2009 ke Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kamis (26/5), di Jakarta. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk protes Ajip terhadap pemberian Habibie Award bidang ilmu sosial kepada Nina Herlina Lubis, tahun lalu.

Nina menerima penghargaan Habibie Award bersama Wisnu Jatmiko dan Abdul Djalil Pirous pada 24 November 2015. Enam bulan setelah penyerahan penghargaan itu, Ajip menggugatnya dengan cara mengembalikan penghargaan yang telah ia terima.

Ajip juga berjanji akan mengembalikan hadiah uang 25.000 dollar AS (sekitar Rp 339 juta) yang diberikan saat penyerahan penghargaan. Namun, Ajip mengaku tidak mengembalikan seluruhnya pada waktu bersamaan.

Mengherankan

”Sangat mengherankan, bagaimana mungkin Sapardi Djoko Damono, penyair yang diakui di dalam dan luar negeri, dikalahkan oleh Nina Lubis,” ucap Ajip.

Menurut dia, Nina tidak pantas mendapat penghargaan karena melakukan plagiat dari skripsi Elly Maryam (2003) untuk menyusun buku Negarawan dari Desa Cinta: Biografi RH Moh Sanusi Hardjadinata dan mengambil bahan tentang KH Noer Alie dari penulis Ali Anwar. ”Ia juga menulis buku Sejarah Tatar Sunda dari bahan Ensiklopedi Sunda yang saya susun,” ucap Ajip.

Sejarawan Ali Anwar mengonfirmasi, dalam rangka pengajuan KH Noer Alie sebagai pahlawan nasional, pada 2006 Nina mengambil isi biografi KH Noer Alie yang ditulisnya hingga lebih dari 75 persen. ”Dia meringkas biografi tanpa seizin saya, lalu dijadikan buku,” katanya.

Yayasan menghargai

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Wardiman Djojonegoro menghargai keputusan Ajip untuk mengembalikan Habibie Award. ”Silakan saja. Itu adalah hak, pemikiran, dan perasaan beliau. Kami punya data serta pertimbangan, beliau juga punya. Ya, silakan saja berbeda,” katanya.

Nina yang dihubungi di Bandung, kemarin, tidak berkomentar banyak mengenai pemberian Habibie Award kepadanya dan sikap Ajip mengembalikan penghargaan tersebut. Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran itu memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Pengurus Yayasan SDM Iptek mengenai penjelasan alasan pemberian Habibie Award 2015.

(ABK/C11/CHE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Ajip Rosidi Kembalikan Habibie Award”.

Siapa Ajip Rosidi

Ajip Rosidi adalah sastrawan, budayawan, dosen, sertapendiri dan Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.Ia dilahirkan pada31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Ketika usia Ajip Rosidi dua tahun, orangtuanya berpisah sehingga ia diasuh neneknya (dari pihak ibu), kemudian oleh pamannya (dari pihak ayah) yang bermukim di Jakarta.

Pada saat itu kehidupannya sangat sederhana, bahkan boleh dibilang kurang. Namun, hal itu merupakan cambuk bagi dirinya untuk memperbaiki kehidupan.

Ia berhasil mengembangkan karier di bidang sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Sunda, di bidang penerbitan, dan di bidang pengetahuan bahasa Indonesia.Ketika berusia 17 tahun, ia menikah dengan Patimah. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai enam anak.

Taman Siswa

Ajip Rosidi mengawali pendidikan dasar di Jatiwangi, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP di Majalengka, Bandung, dan Jakarta. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan SMA di Jakarta yang berpindah-pindah dari SMA Jalan Batu bagian B (waktu belajarnya pagi hari) ke SMA Budi Utomo (waktu belajarnya sore hari), kemudian pindah ke Taman Siswa.

Namun, ia tidak mengikuti ujian akhir SMA. Hal itu sengaja dilakukan karena ia ingin membuktikan bahwa tanpa ijazah,orang dapat hidup.

Kariernya di bidang sastra dimulai sejak ia bersekolah di sekolah dasar. Saat kelas VI SD, dia sudah menulis dan tulisannya dimuat di surat kabar Indonesia Raya. Ketika ia berusia 14 tahun, karyanya dimuat di majalah Mimbar Indonesia, Siasat, Gelanggang, dan Keboedajaan Indonesia.

Ajip Rosidi menulis puisi, cerita pendek, novel, drama, terjemahan, saduran, kritik, esai, dan buku yang erat kaitannya dengan bidang ilmu yang dikuasainya, baik dalam bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Karya kreatifnya ditulis terutama pada periode 1953-1960. HB Jassin menggolongkannya ke dalam kelompok Angkatan 66.

Pada usia15 tahun (SMP) Ajip Rosidi menjadi pengasuh majalah Soeloleh Peladja,kemudianusia 17 tahunmenjadi redaktur majalah Prosa. Tahun 1964-1970 dia menjadiredaktur penerbit Tjupumanik. Tahun 1968-1979 ia menjadi redaktur Budaya Jawadan tahun1966-1975 menjabat Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Sunda serta memimpin penelitian pantun dan folklor Sunda.

Dosen Universitas Padjadjaran

Tahun 1967 ia menjadi dosen di Universitas Padjadjaran dan tahun1965-1968 menjabat direktur penerbit Duta Rakyat. Tahun 1971-1981 ia memimpin penerbit Dunia Pustaka Jaya. Selain itu, tahun 1973-1979 iajuga memimpin Ikatan Penerbit Indonesia. Tahun 1973-1981 iaterpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta danmendapat kesempatan sebagai anggota staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978-1980.

Setelah berkecimpung dalam dunia seni dan penerbitan di Indonesia,ia mengembangkanilmu pengetahuannya di Jepang (1980). Di Jepang ia diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa-bahasa Asing Osaka), guru besar luar biasa di Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), di Tenri Daigaku (Universitas Tenri), dan di Osaka Gaidai (Osaka University of Foreign Studies).

Sejak tahun 1989, Ajip memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan atau budayawan daerah yang berjasa dalam bidang sastra dan budaya daerah, khususnya Sunda dan Jawa.Bersama beberapa sastrawan dan budayawan Sunda, Ajip berhasil menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda yang diterbitkan 2001.

(Sumber http://badanbahasa.kemdikbud.go.id)

Siapa Nina Herlina Lubis

Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., “Dari Mahasiswa Putus Asa Hingga Doktor Sejarah Perempuan Pertama di Jabar”
http://news.unpad.ac.id/?p=37252