40 Profesor Kelas Dunia Upgrade Dikti

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti–ANTARA/Widodo S. Jusuf/

Jum’at, 3 Juni 2016 09:22 WIB
KEMENTERIAN Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti) melalui skema Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) mendatangkan 40 profesor kelas dunia dari berbagai negara untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi Tanah Air. Para profesor terpilih itu akan diberikan tugas pokok membantu analisis data yang sudah ada pada mahasiswa S-3 atau oleh pusat-pusat penelitian di Indonesia.

“Kehadiran mereka selama setahun diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pendidikan tinggi kita, khususnya dosen,” ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti saat Sosiali­sasi Pelaksanaan BUDI Tahun 2016 di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, kemarin. Selain itu, mereka harus mampu membimbing cara mengajar dosen serta membantu menulis dan menyusun proyek penelitian. Bahkan mereka juga diharapkan bisa membantu mendatangkan sumber dana penelitian dari luar negeri.

“Mereka juga harus membantu meng-upgrade jurnal nasional menjadi jurnal internasional. Para profesor yang memiliki peer group untuk me-review jurnal tersebut diharapkan dapat menambah publikasi internasional di Tanah Air,” tutur dia.

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah menyiapkan anggaran Rp250 miliar. Menurut Ali, dana itu selain untuk mendatangkan profesor juga biaya beasiswa dosen di dalam dan luar negeri. “Kita juga sediakan beasiswa S-2 dan S-3 dengan kuota 2.000 untuk dalam negeri dan 300 di luar negeri. Animonya bagus, sampai sekarang sudah 5.696 orang,” tutur dia.

Lebih lanjut, beasiswa yang dikerjasamakan dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada dosen di Indonesia melanjutkan studi master dan doktor. Direktur LPDP Eko Prasetya memaparkan besaran dan komponen biaya yang ditanggung relatif sama dengan beasiswa LPDP. Untuk beasiswa luar negeri, misalnya, selain biaya kuliah juga ditanggung biaya tinggal selama pendidikan. Namun yang pasti, skema BUDI merupakan bukti kolaborasi yang baik antara Kemenristek dan Dikti dan LPDP untuk melahirkan dosen-dosen unggul untuk meningkatkan peran dosen sebagai penentu masa depan bangsa. (Mut/H-1)