Ingin Menjadi Dokter Spesialis

DR SAMSURIDJAL DJAUZI

2 Juli 2016

PERTANYAAN

Anak perempuan saya lulus menjadi dokter dua tahun lalu. Dia sudah menjalani internship di Kalimantan. Sekembali dari Kalimantan, dia bekerja di sebuah rumah sakit dan berdasarkan pengalaman setahun bekerja di rumah sakit, dia tertarik menjadi dokter spesialis saraf. Sebagai orangtua, saya tentu mendukung keinginan anak saya. Namun, latar bòelakang saya adalah bidang hukum sehingga saya kurang memahami apakah spesialisasi saraf cocok untuk anak saya.

Dulu, saya mengira spesialis saraf mengobati orang yang mengalami gangguan jiwa, ternyata salah. Spesialis yang mendampingi penyakit kejiwaan ternyata spesialis jiwa, sedangkan spesialis saraf setahu saya mengobati stroke.

Anak saya belum menikah dan rencana akan menikah tahun depan dengan teman kuliahnya yang juga seorang dokter. Saya pensiunan pegawai negeri sehingga saya tidak punya dana banyak untuk mendukung pendidikan spesialisasi anak saya.

Saya ingin mendapat informasi apakah biaya pendidikan spesialisasi itu mahal. Saya beruntung anak saya dulu kuliah di fakultas kedokteran negeri sehingga biaya sekolahnya tidak terlalu mahal. Apakah pendidikan spesialisasi kedokteran juga dapat dijalankan di fakultas kedokteran swasta? Apakah seleksi masuk untuk pendidikan spesialis kedokteran sama ketatnya dengan seleksi masuk fakultas kedokteran?

Kami punya rumah di Jakarta sehingga akan lebih mudah bagi anak saya untuk mengikuti pendidikan di Jakarta. Anak saya lulus dari fakultas kedokteran di Jawa Tengah. Apakah akan menjadi hambatan jika dia melamar mengikuti pendidikan di Jakarta? Saya juga ingin mengetahui lama pendidikan dokter spesialis, apakah benar sampai lima tahun? Mengapa pendidikan spesialis di Indonesia begitu lama? Menurut teman saya di luar negeri, pendidikan spesialis hanya dua tahun, paling lama tiga tahun.

Saya juga mendengar bahwa selama pendidikan peserta tidak boleh hamil. Benarkah demikian? Apa alasan peserta tidak boleh hamil? Bagi saya yang tak mempunyai latar belakang medis, kehamilan merupakan karunia Tuhan yang sulit dipastikan. Anak perempuan saya yang pertama tiga tahun menikah baru hamil. Berapa jam seminggu lama pendidikan dokter spesialis? Apakah jika mereka jaga malam, esoknya mendapat libur?

Setelah selesai pendidikan, anak saya ingin bekerja di rumah sakit swasta dengan status bukan pegawai negeri. Calon suaminya ingin menjadi dokter bedah dan juga punya minat mengajar. Jadi, mereka merencanakan harus ada yang mengalah tidak menjadi pegawai negeri dan dapat mencurahkan waktu lebih banyak untuk keluarga. Saya mohon maaf banyak bertanya kepada Dokter. Sebenarnya anak saya sudah cukup banyak menjelaskan, namun ada hal-hal yang saya ragukan.

Pendidikan spesialis diperlakukan hampir sama dengan pendidikan dokter, padahal menurut saya itu adalah pendidikan keprofesian. Setahu saya pendidikan profesi mengutamakan keterampilan dan sudah dapat bekerja dengan bimbingan seniornya. Peserta tak perlu membayar biaya pendidikan profesi, bahkan mendapat penghasilan dari pekerjaannya sebagai dokter yang bekerja, meski penghasilannya tak sebesar spesialis. Benarkan setelah tamat jadi dokter spesialis masih diwajibkan lagi bertugas di daerah? Berapa lama mereka harus bertugas di daerah? Terima kasih atas penjelasan Dokter.

M di J

TANGGAPAN :

Tenaga dokter spesialis di negeri kita masih kurang. Di negeri kita ada sekitar 140.000 dokter, sekitar 70 persen merupakan dokter umum. Kita amat memerlukan dokter umum karena merekalah yang melaksanakan layanan primer. Merekalah yang mendidik masyarakat, melakukan upaya pencegahan, serta memberikan pengobatan penyakit-penyakit yang sering dijumpai. Karena dokter spesialis terbatas jumlahnya, banyak rumah sakit di Indonesia kekurangan tenaga dokter spesialis.

Pemerintah telah membuat rencana untuk meningkatkan jumlah dokter spesialis, di antaranya dengan memperbanyak jumlah tempat pendidikan. Sementara ini, pendidikan dokter spesialis masih dilaksanakan di fakultas kedokteran negeri. Jumlahnya bertambah. Untuk melaksanakan pendidikan spesialis bidang kedokteran tertentu diperlukan persyaratan yang ditentukan oleh kolegium yang bersangkutan. Jadi, persyaratan pendidikan spesialis saraf ditentukan oleh Kolegium Ilmu Penyakit Saraf sehingga mutu lulusan dapat dijaga. Niat anak Anda dan calon suaminya untuk menjadi spesialis perlu didukung.

Memang benar pendidikan profesi kedokteran, menurut Undang-Undang (UU) Pendidikan Kedokteran, berada di bawah kementerian pendidikan. Berarti sekarang berada di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Menurut UU itu, biaya pendidikan profesi, seperti juga pendidikan tinggi lain, dibebankan kepada pemerintah, universitas, serta peserta didik.

Jadi, peserta pendidikan spesialis kedokteran, sama dengan peserta pendidikan lain, harus membayar biaya pendidikan. Untuk masuk pendidikan spesialis kedokteran perlu mengikuti seleksi masuk. Proses pendidikan mengikuti kurikulum yang ditetapkan. Lulusan pendidikan mendapat ijazah dari universitas.

Saya lulus pendidikan spesialis penyakit dalam tahun 1976. Waktu itu surat tanda lulus dibuat oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia yang disahkan oleh Ikatan Dokter Indonesia, bukan oleh universitas. Sewaktu saya menjadi peserta pendidikan spesialis penyakit dalam, saya sudah diangkat menjadi pegawai negeri dan mendapat gaji. Saya juga tidak perlu membayar biaya pendidikan. Hanya, setelah selesai pendidikan, saya ditugaskan di Kalimantan selama tiga tahun. Saya merasakan nikmatnya bekerja di daerah sehingga baru setelah lima tahun saya kembali ke Jakarta.

Jadi, telah terjadi perubahan dan UU Pendidikan Kedokteran kita memang berbeda dengan negara lain. Itulah sebabnya, dewasa ini biaya pendidikan spesialis kedokteran lumayan mahal. Mereka juga kehabisan waktu dalam mengikuti pendidikan sehingga kesempatan memperoleh uang dari praktik pribadi terbatas. Jam belajar dokter yang mengikuti pendidikan spesialis memang panjang karena mereka membutuhkan pengalaman memadai dalam mengelola pasien.

Lama jam belajar ini tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara maju, seperti Amerika atau Eropa. Sekarang mulai timbul kesadaran untuk mengurangi jam belajar ini untuk keselamatan pasien. Dokter yang bekerja terlalu lama tentu lelah sehingga ada risiko melakukan kesalahan dalam bekerja. Masa pendidikan spesialis di Indonesia berkisar tiga sampai empat setengah tahun. Setiap pendidikan spesialis menetapkan lama pendidikan berdasarkan kemampuan yang ingin dicapai.

Tahun-tahun pertama pendidikan biasanya merupakan masa yang sulit. Ini merupakan masa penyesuaian diri dan masa yang penuh tekanan. Untuk itu, beberapa program studi mensyaratkan peserta pendidikan perempuan tidak hamil selama tahun pertama ini. Tujuannya tentu baik, agar pendidikannya lancar. Namun, kebijakan ini juga mendapat kritik dari teman-teman yang menghargai hak reproduksi perempuan.

Setelah lulus pendidikan, lulusan dapat memilih untuk bekerja di rumah sakit pemerintah atau swasta, menjadi tenaga pengajar di fakultas, bahkan bisa menjadi tenaga peneliti. Pemerintah mendorong para dokter spesialis bersedia bertugas di daerah dengan memberikan berbagai insentif.

Dalam menyiapkan diri mengikuti pendidikan dokter spesialis ada beberapa hal yang harus dilakukan. Bahasa Inggris harus baik. Nilai indeks prestasi kumulatif sewaktu mahasiswa juga dipertimbangkan. Pernah bertugas di daerah terpencil oleh sebagian pusat pendidikan dipertimbangkan sebagai aktivitas yang mendukung.

Calon peserta dapat memilih satu atau lebih dari satu spesialisasi. Misalnya, selain spesialis penyakit saraf, dia juga memilih spesialis penyakit dalam. Umumnya calon peserta memilih spesialisasi sesuai dengan cita-cita dan keadaan nyata yang dia hadapi, termasuk pertimbangan dalam membesarkan anak. Kesibukan tiap spesialis tidak sama, baik dalam pendidikan maupun setelah lulus nanti. Saya berharap cita-cita anak Anda dan calonnya akan tercapai. Indonesia masih membutuhkan banyak dokter spesialis.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul “Ingin Menjadi Dokter Spesialis”.

Dokter Spesialis Kaya?

DR SAMSURIDJAL DJAUZI

15 Februari 2015

PERTANYAAN

Anak dan menantu saya keduanya dokter spesialis. Di Indonesia, pendidikan dokter spesialis harus membayar ditambah dengan biaya hidup sehari-hari pengeluaran mereka cukup besar. Pendidikan cukup berat sehingga mereka umumnya tak membuka praktik. Semasa bertugas di daerah uang tabungan mereka habis untuk biaya transportasi libur Lebaran sehingga memasuki pendidikan dokter spesialis masih memerlukan bantuan dana dari saya.

Selama tiga tahun ini mereka mulai mandiri, tetapi jauh dari hidup cukup. Mereka memang punya mobil, tetapi mobil yang dengan susah payah dicicil untuk lima tahun. Rumah masih mengontrak dan biaya rumah tangga mereka dengan seorang anak mencapai dua puluh juta rupiah sebulan.

Saya baru saja membaca pernyataan seorang penjabat yang menyatakan bahwa dokter spesialis itu kaya. Terus terang melihat kehidupan kedua dokter spesialis ini kehidupan mereka jauh dari kaya. Mereka memang mendapat penghasilan berdua sekitar empat puluh juta rupiah sebulan. Namun habis untuk kehidupan hari-hari dan membayar cicilan. Untuk menjaga profesionalisme, mereka harus mengikuti pelatihan secara berkala yang harus bayar sendiri. Saya khawatir jika dokter spesialis dianggap kaya, mereka akan dibebani pajak secara berlebihan.

Bagaimana sebenarnya penghidupan dokter di Indonesia. Apakah cuma anak dan menantu saya yang kurang beruntung. Benarkah dokter spesialis kaya sehingga patut dibebani pajak yang tinggi. Kenapa pendidikan dokter spesialis di Indonesia harus dipungut biaya, bukankah negeri kita membutuhkan banyak dokter spesialis? Terima kasih dokter.

J di P

JAWABAN: 

Saya pernah menjadi salah seorang pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kesan saya pendapatan dokter umum pada umumnya kurang memadai. Itulah barangkali yang menyebabkan sebagian besar dokter umum ingin menjadi dokter spesialis.

Apakah pendapatan dokter spesialis besar? Secara umum pendapatan dokter spesialis lebih besar daripada pendapatan dokter umum. Namun, dokter spesialis muda harus berjuang keras untuk mencukupi kehidupan keluarga mereka sehari-hari. Anda telah menggambarkan kehidupan pasangan dokter spesialis yang masih hidup secukupnya. Kehidupan dokter di negeri kita sekarang memang lebih berat. Tak jarang mereka meninggalkan rumah pukul enam pagi dan baru pulang pukul sepuluh malam. Mereka kurang beristirahat dan juga kurang waktu untuk keluarga.

Dalam era asuransi nasional, baik dokter umum maupun dokter spesialis kebanjiran pasien. Beban kerja mereka meningkat secara nyata. Pasien sudah antre sejak pukul lima pagi sehingga meski kelelahan mereka harus melayani pasien yang memerlukan pertolongan. Peningkatan jumlah pasien seharusnya meningkatkan pendapatan dokter dan tenaga kesehatan lain, tetapi pengalaman setahun asuransi nasional kita pendapatan dokter belum meningkat secara nyata. Pembayaran balas jasa juga sering terlambat. Namun, saya menangkap semangat teman-teman dokter untuk menjaga agar asuransi kesehatan kita dapat dijaga kesinambungannya. Meski ada yang mengeluh, lebih banyak yang ikut merasa gembira karena masyarakat kita terbantu pembayaran pengobatannya.

Pendidikan dokter spesialis

Memang dasar pendidikan dokter spesialis di negeri kita berbeda dengan di luar negeri. Di luar negeri pendidikan spesialis merupakan pendidikan profesi, pemerintah hanya mengakui saja. Di negeri kita, pendidikan dokter spesialis merupakan pendidikan formal terstruktur seperti pendidikan akademis. Sesuai dengan undang-undang pendidikan, maka biaya pendidikan (termasuk pendidikan dokter spesialis) ditanggung oleh pemerintah, peserta didik, dan universitas. Karena itulah, seperti pendidikan akademis, dokter spesialis juga harus membayar biaya pendidikan. Meski bertugas melayani pasien di rumah sakit, mereka tak mendapat honorarium karena tugas tersebut dianggap dalam rangka pendidikan mereka.

Jadi, Anda benar mereka yang menjalani pendidikan dokter spesialis di negeri kita harus membiayai kehidupan sehari-hari dan juga membayar biaya pendidikan. Padahal, pendidikan dokter spesialis waktunya cukup lama, antara tiga sampai lima tahun.

Dokter, terutama dokter spesialis, oleh masyarakat sering dianggap kaya. Dokter spesialis selintas seperti hidup berkecukupan, padahal seperti pengalaman Anda cukup banyak dokter spesialis harus berutang untuk biaya hidup mereka. Sudah tentu ada dokter spesialis yang kaya tetapi kita tak dapat menyemaratakan bahwa dokter spesialis itu kaya. Data IDI menunjukkan bahwa dokter termasuk profesi yang rajin membayar pajak dan kontribusi para dokter dalam membayar pajak setahu saya paling besar dibandingkan dengan profesi lain.

Sebagai warga negara yang baik, dokter harus patuh membayar pajak sesuai dengan penghasilan mereka. Sebenarnya dokter mengeluarkan banyak biaya dari penghasilan mereka untuk membayar potongan administrasi rumah sakit, membantu petugas kesehatan lain yang membantu dokter, membayar berbagai iuran profesi, premi asuransi profesi, biaya pendidikan berkesinambungan yang harus dijalani untuk dapat memperpanjang izin praktik setiap lima tahun. Belum lagi dokter diharapkan punya kesalehan sosial membantu masyarakat yang kurang mampu.

Dalam percakapan antardokter senior sering terlontar nasib dokter yang menyedihkan ketika tak mampu lagi berpraktik. Seorang dokter yang punya penghasilan empat puluh juta rupiah sebulan jika sakit, terhentilah pendapatannnya. Jika tak punya tabungan, kehidupannya akan sulit. Ini banyak terjadi pada dokter yang sudah tua dan tak mampu lagi berpraktik. Beruntunglah mereka yang dapat dibantu anak mereka. Kehidupan dokter penuh risiko, termasuk risiko berhenti praktik.

Namun pada mahasiswa kedokteran, saya selalu memberi semangat. Menjadi dokter amatlah menyenangkan. Rasa bahagia datang ketika kita melihat pasien kita tersenyum, lepas dari penderitaan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2015, di halaman 11 dengan judul “Dokter Spesialis Kaya?”.