SHELL ECO MARATHON

UPI Juara Dunia Mobil Hemat Energi

5 Juli 2016

LONDON, KOMPAS — Tim Bumi Siliwangi dari Universitas Pendidikan Indonesia menjuarai lomba balap mobil hemat energi Shell Eco Marathon Drivers World Championship atau SEM DWC, di London, Inggris. Dalam balapan yang diadakan Minggu (3/7) sore waktu setempat, tim Indonesia mengungguli tim dari Perancis dan Amerika Serikat di lintasan Queen Elizabeth Olympic Park.

Kendaraan bertenaga listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, Minggu (3/7), di Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris, menjuarai ajang balap mobil hemat energi Shell Eco Marathon Drivers World Championship (SEM DWC). Para kru tampak bergembira setelah mobil mereka menorehkan sejarah, untuk pertama kali tim asal Indonesia menjuarai ajang tersebut.
KOMPAS – Kendaraan bertenaga listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, Minggu (3/7), di Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris, menjuarai ajang balap mobil hemat energi Shell Eco Marathon Drivers World Championship (SEM DWC). Para kru tampak bergembira setelah mobil mereka menorehkan sejarah, untuk pertama kali tim asal Indonesia menjuarai ajang tersebut.

Wartawan Kompas, Rini Kustiasih, dari London, melaporkan, tim Indonesia bersaing ketat dengan tim ISEN Toulon (Perancis) yang terus membayangi sejak lap kedua. Sebelumnya, tim Mater Dei Supermileage (AS) sempat memimpin pada separuh lap pertama. Namun, mobil tim Bumi Siliwangi yang start pada posisi kedua berhasil menyalipnya.

Tim Bumi Siliwangi dan dua tim dari negara lainnya bergantian memimpin pada paruh terakhir lap pertama. Namun, pada lap kedua, Bumi Siliwangi tak terkejar.

Ketersediaan bahan bakar mobil Bumi Siliwangi unggul dibandingkan dengan tim dari AS yang tersisa 50,1 persen. Daya listrik mobil Turangga Chetta EV3 karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tersisa 58,5 persen. Tim ISEN Toulon membayangi dengan sisa bahan bakar 62,9 persen.

Masa krusial

Mobil mahasiswa Indonesia memantapkan posisinya pada lap ketiga yang merupakan lap terakhir. Mobil bertenaga listrik itu melaju diikuti oleh ISEN Toulon yang menyodok di posisi kedua setelah Mater Dei Supermileage melambat karena keterbatasan bahan bakar.

Masa-masa krusial terjadi saat daya listrik mobil tim Bumi Siliwangi tinggal 0,18 persen pada 200 meter menjelang finis. Di belakangnya, ada tim ISEN Toulon yang membuntuti dengan sisa bahan bakar 0,5 persen. “Saya deg-degan karena baterai melemah. Cadangan listrik menipis dan di belakang ada mobil Perancis,” ucap Ramdani (22), pengemudi Turangga Chetta EV3.

Saat Turangga Chetta EV3 mencapai garis finis, hadirin yang duduk di tribun langsung bertepuk tangan. Daya baterai mobil itu saat melintasi garis finis persis mencapai angka 0,0 persen.

Baru kali ini tim Indonesia menjuarai SEM DWC. “Itu torehan sejarah yang tidak bisa diubah,” kata Danny Van Otterdyk, Ketua Penyelenggara SEM DWC.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juli 2016, di halaman 12 dengan judul “UPI Juara Dunia Mobil Hemat Energi”.