Ratusan Dosen Berjuang Mendapat NIDK

Jum’at, 15 Juli 2016 – 11:11 wib

JAKARTA – Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan kurangnya rasio dosen pada sebuah perguruan tinggi. Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti menyebut, sudah ada sekira 700 orang dari berbagai latar belakang dan keahlian mendaftar NIDK.

“Yang sudah memperoleh NIDK saat ini 567 dosen. Sisanya sekira 133 orang masih diproses dan ada yang dikembalikan,” tuturnya kepada wartawan di Gedung D Kemristekdikti, belum lama ini.

Ghufron menjelaskan, beberapa masalah yang membuat seseorang tidak berhasil mendapat NIDK lantaran ada beberapa dokumen yang belum lengkap, seperti surat keterangan bebas narkoba atau tes kesehatan.

“Mereka harus menyertakan tes bebas narkoba tapi ada yang belum. Beberapa mengeluhkan untuk apa tes tersebut, dianggap tidak dipercaya. Tetapi ini sebagai bentuk antisipasi mengingat dosen merupakan contoh bagi mahasiswanya,” paparnya.

Sedangkan untuk tes kesehatan, tambah dia, diperlukan sebab ada beberapa pendaftar yang sudah pensiun dan faktor lainnya. Menurut Ghufron, dosen yang berstatus NIDK juga wajib dijamin kesehatan dan kondisi tubuhnya.

“Kontrak NIDK yang hanya satu tahun juga nantinya akan diproses menjadi dua tahun,” ujarnya.

Mengenai keefektifan NIDK untuk memenuhi kekurangan dosen di perguruan tinggi, Ghufron menambahkan hal tersebut sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi masing-masing. Sebagaimana diketahui, rasio dosen bidang eksakta adalah 1:30 sedangkan untuk sosial 1:40.

Program NIDK ini memungkinkan para pensiunan dan profesional dari berbagai latar belakang untuk menjadi dosen dan memenuhi kebutuhan tenaga pengajar di kampus negeri maupun swasta. Jika memenuhi syarat, mereka pun akan diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan kontrak dan perjanjian kerja khusus. (ira) (rfa)