Songsong MEA dengan Peningkatan Kompetensi Pebisnis Pemula

Songsong MEA dengan Peningkatan Kompetensi Pebisnis Pemula

Highlight

Songsong MEA dengan Peningkatan Kompetensi Pebisnis Pemula

24 Jul 2016

Serpong – Sukses itu diawali dari yang kecil menjadi yang besar, itulah kiranya pepatah yang biasa digunakan dalam berbisnis.

Dalam rangka mencetak dan menumbuhkan kembangkan perusahaan-perusahaan pemula berbasis teknologi dan menghadapi Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengeluarkan instrumen kebijakan berupa Program Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT), yang telah berjalan sejak tahun 2013. Program IBT Tahun 2016 merupakan program pada Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi (Ditjen PI) melalui Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT).

Menristekdikti Mohamad Nasir yang didampingi oleh Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe membuka pelatihan program insentif Inkubasi Bisnis Teknologi tahun 2016, minggu (24/7). Dalam pembukaan IBT turut juga hadir  Dirjen Belmawa Intan Ahmad, Kepala LPNK, dan para juri program insentif IBT.

Dalam sambutannya, Nasir menyampaikan bahwa Indonesia harus memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan melakukan revolusi mental untuk mendorong semangat berkompetisi agar mampu bertahan ditengah era perdagangan bebas. “Indonesia mau tidak mau harus berusaha memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Selain dengan landasan ini, harus juga melakukan revolusi mental untuk mendorong semangat berkompotesi agar mampu bertahan ditengah era perdagangan bebas saat ini,” ujarnya.

Nasir menambahkan kualitas SDM dan inovasi merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.

“Pendidikan dan pelatihan harus bisa diakses oleh warga negara Indonesia, selain itu pendidikan dan pelatihan dituntut untuk mampu menghasilkan SDM yang berdaya saing dan handal sehingga mampu berkontribusi dalam agenda pembangunan nasional,” ucapnya.

Nasir berharap adanya pembekalan pelatihan bagi para inkubator dan tenant ini dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan bagi semua peserta khususnya kepada para tenant yang diharapkan dapat menjadi wirausahawan yang mandiri dan dapat berkontribusi bagi negara.

Program ini adalah skema pendanaan untuk Lembaga Inkubator dan perusahaan pemula berbasis teknologi sebagai tenant dalam melakukan proses inkubasi guna meningkatkan daya saing perusahaan pemula tersebut, sehingga mampu bertahan dan berkembang di pasar domestik ataupun global. Inkubasi bisnis merupakan suatu proses pembinaan, pendamping, dan pengembangan yang dilakukan oleh Inkubator kepada tenantnya.

Pada tahun 2016, terdapat 237 proposal yang mengikuti program IBT 2016. Dari 237 proposal tersebut dilakukan seleksi administratif dan dilanjutkan dengan tahapan presentasi inkubator, dan tenant yang lulus administrasi sebanyak 89 produk/tenant. Hasil akhir dari seleksi presentasi ini didapat 50 produk/tenant untuk diinkubasi.

Pelaksanaan program IBT tahun 2016, Kemenristekdikti bekerjasama dengan Smart Plus Accelerator dan Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI)untuk menyelenggarakan program “Pelatihan Inkubator Bisnis Teknologi” dalam rangka mendukung pelaksaan program IBT tahun 2016. Pelatihan ini dilaksanakan selama seminggu pada tanggal 22-27 juli 2016 digedung Techology Business Incubator Center (TBIC), Puspitek Serpong yang diikuti peserta berjumlah 87 orang.

Selama pelatihan, peserta akan memperoleh materi yang mencakup motivasi berwirausaha, konsep dan praktek inkubator bisnis teknologi, pembuatan SOP inkubator bisnis teknologi, pembuatan business plan, strategy pitching, pemasaran, pengelolaan keuangan, dan kemampuan teknis lainnya untuk menunjang pengembangan bisnis. Sehingga, diharapkan kemampuan teknis dan keterampilan para peserta dapat ditingkatkan dan kemudian dapat mencetak wirausaha berbasis teknologi yang mandiri dan berdaya saing. (ans/mji/dzi/wbs)

Baca juga :

Kemristekdikti beri Rp300 juta untuk startup teknologi

Minggu, 24 Juli 2016 17:04 WIB
Pewarta: Virna P Setyorini

Kemristekdikti beri Rp300 juta untuk startup teknologi
Menristekdikti, Mohamad Nasir (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Serpong, Tangerang Selatan (ANTARA News) – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) memberikan dana hingga Rp300 juta bagi perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi yang mengikuti Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) 2016 untuk penguatan daya saing usaha.

“Ini sebenarnya upaya hilirisasi teknologi yang selama ini diupayakan pemerintah. Dana yang diberikan ini untuk inkubasi bisnis teknologi, bukan modal usaha sebenarnya, supaya pengusaha pemula berbasis teknologi yang menjadi startup ini bisa terus memproduksi mengembangkan teknologi menjadi inovasi,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir di Serpong, Tangerang Selatan, Minggu.

Dalam 10 tahun ke depan, ia berharap pengusaha-pengusaha baru berbasis teknologi yang diberi pelatihan dan bimbingan dari Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti ini bisa menjadi pengusaha besar.

“Presiden sangat mendukung pengembangan inovasi yang hasilnya bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Pengembangan industri berbasis teknologi diharapkan mampu memberi nilai tambah, maka mulai sekarang semua yang dikembangkan tidak boleh berhenti hanya di riset saja harus sampai usaha,” ujar dia.

Contoh usaha berbasis teknologi yang diberikan dukungan seperti, pengembangan lampu murah yang bisa digunakan khusus oleh nelayan menangkap ikan. Dan juga teknologi “penyortiran” ikan yang ditujukan untuk nelayan kecil, katanya.

“Ke depan, teknologi-teknologi ini akan kami bawa ke Papua untuk bisa digunakan nelayan kecil di sana, harapannya ini bisa meningkatkan hasil tangkapan,” ujar dia.

Ia membenarkan bahwa proses untuk sebuah usaha baru bertahan dan menjadi kuat butuh waktu, karena itu pembinaan Kemristekdikti tidak hanya berhenti pada pelatihan selama lima hari dan bimbingan selama enam bulan saja, tapi akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Dirjen Penguatan Inovasi Kemristekdikti Jumain Appe mengatakan dana yang diberikan untuk 48 pengusaha baru berbasis teknologi ini berkisar antara Rp200 juta hingga Rp300 juta per usaha. Dana ini sepenuhnya untuk menjalankan inkubasi, termasuk juga di dalamnya untuk kegiatan promosi serta bantuan untuk memproses legalitas usaha.

“Kami akan bantu mereka selama tiga tahun. Tiga tahun cukup lah, diharapkan mereka benar-benar bisa mandiri. Kalau sampai lima tahun nanti mereka tidak mandiri, kita juga harus membantu tenant lain lagi,” ujar dia.

Sementara itu, pemilik ivenmu.id yang merupakan perusahaan baru peserta IBT 2016 Yonisman mengatakan program pemerintah yang bertujuan membantu usaha-usaha baru untuk berdiri dan berkembang menjadi usaha yang kuat seperti ini sangat dibutuhkan.

Sering kali, menurut dia, usaha baru atau yang sekarang dikenal dengan sebutan “startup” ini bukan saja sekadar membutuhkan dukungan modal, tetapi juga semangat untuk bisa membulatkan tekad menjalankan usaha baru. Selain itu juga akses pasar dan platform usaha dengan inovasi yang bagus yang memperhitungkan kebutuhan masa depan di masyarakat.

Yonisman mengatakan telah mengajukan proposal untuk membuat usaha baru berbasis teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) penjualan tiket acara musik, pendidikan, hingga teknologi dan inovasi secara daring.

Dalam proposal dirinya mengajukan dana Rp315 juta namun yang disetujui Rp251 juta yang akan digunakan untuk kebutuhan pengembangan sistem, pemasaran, legalitas usaha, operasional proses inkubator.

Kemristekdikti menjalankan pelatihan Inkubator Bisnis Teknologi 2016 yang diikuti 48 peserta di Serpong, Tangerang Selatan, dari 22 hingga 27 Juli 2016.

Sebelumnya ada 237 proposal yang masuk untuk mengikuti program inkubasi ini, namun yang terseleksi hanya 48.

Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca juga :

Kemenristekdikti Cetak Pengusaha Berbasis Teknologi Lewat IBT

About The Author

Leave a reply