Gratis Biaya Paten, Dapat Royalti 40 Persen

images

Jumat, 29 Juli 2016 – 16:20
INDOPOS.CO.ID– Dunia riset tanah air kembali mendapatkan kabar positif. Setelah penyederhanaan skema penyaluran dan laporan dana riset, kini giliran urusan paten atau hak cipta. Inventor yang mendaftarkan patennya akan digratiskan biaya ’’perawatan paten’’ tahunan untuk lima tahun pertama. Inventor juga mendapatkan hak royalti sebesar 40 persen.

Kebijakan baru urusan paten itu teruang dalam Undang-Undang Paten yang kemarin disahkan di parlemen. Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly mengatakan di dalam regulasi anyar ini, banyak aturan-aturan perlindungan hukum. ’’Arah perlindungan hukumnya adalah, kita ingin memacu semangat inventor berkarya,’’ jelasnya.

Di antaranya adalah Kementerian Hukum dan HAM akan menggratiskan biaya perawatan paten tahunan. Durasi pembebasan biaya tahunan itu berdurasi lima tahun. Dengan syarat dan ketentuan yang akan ditetapkan di dalam peraturan pemerintah turunan UU Paten itu.

Menurut Yasonna Indonesia harus meniru negara-negara maju. Yakni upaya negara maju yang menjadikan paten sebagai aset untuk pemasukan negara. di negara-negara Eropa, royalti paten merupakan sumber keuangan negara ketiga setelah pajak dan pariwisata. Sementara di Amerika Serikat royalti paten menjadi sumber pendapatan pertama.

Dia menjelaskan pemasukan dari paten ini bisa menjadi solusi ketika Indonesia sangat bergantung pada sumber daya alam. Apalagi saat ini harga minyak dunia dan batu bara mengalami penurunan. Jika potensi keuangan dari paten bisa dimaksimalkan, Indonesia tidak akan terpengaruh fluktuasi nilai-nilai sumber daya alam.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Muhammad Nasir menjelaskan potensi paten yang paling tinggi adalah dari kalangan PNS di kampus. Sebab dana riset yang dikucurkan melalui dana bantuan operasional cukup besar. Untuk meningkatkan gairah membuat paten, Nasir mengatakan inventornya akan mendapatkan royalty sebesar 40 persen. Sisanya sebanyak 60 persen masuk ke institusi atau negara sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). ’’Selama ini masuk ke kas negara semua. Brain-nya inventor tidak dihargai,’’ jelas Nasir.

Dia mendapatkan informasi ada paten yang bernilai royalti Rp 1,5 miliar per tahun. Jika skema royalti untuk inventor sebesar 40 persen itu sudah berjalan, maka inventornya akan mendapatkan sekitar 600 juta per tahun. Penghasilan itu jauh dibandingkan dengan gaji PNS yang dikumpulkan selama setahun.
Sumber :Indopos, Jumat, 29 Juli 2016, Hal 2