RISET DAN PENGEMBANGAN

Inovasi Mendorong Daya Saing

8 Agustus 2016

KOMPAS — Inovasi jadi kunci utama membangun daya saing bangsa dan memperkuat perekonomian nasional. Untuk itu, sejumlah produk dari hasil inovasi siap diproduksi secara massal dalam waktu dekat.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (6/8), mengatakan, Kementerian Ristek dan Dikti mendorong lahirnya inovasi baru bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Nasir mengatakan, sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Tiongkok, mampu mencapai kemajuan ekonomi karena melaksanakan berbagai inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, riset didorong, antara lain, bidang pertanian, otomotif, kedirgantaraan, dan kesehatan. Itu dilakukan perguruan tinggi, lembaga riset, dan melibatkan perusahaan swasta.

“Korea Selatan merdeka selisih dua hari dengan Indonesia. Inovasi mereka luar biasa sehingga mendongkrak ekonominya jadi macan asia, sekarang pesaingnya Jepang,” ujarnya.

Saat ini, sejumlah produk dari hasil inovasi siap diproduksi secara massal dalam waktu dekat. Misalnya, kerja sama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan PT Garansindo Inter Global melahirkan sepeda motor listrik GESIT singkatan dari Garansindo Electric Scooter ITS. “Universitas Sebelas Maret, Solo, mengembangkan sepeda listrik,” ujarnya.

Produksi sepeda motor listrik ataupun sepeda listrik dinilai tepat. Sebab, kendaraan listrik ialah alat transportasi masa depan lantaran tak menghasilkan polusi udara dan menekan konsumsi bahan bakar minyak.

Kedirgantaraan

Di bidang kedirgantaraan, telah dilahirkan pesawat N219 yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Kini, pesawat N219 dalam tahap uji sertifikasi sayap dan roda pendaratan. “Harapan saya, uji coba terbang dilakukan Desember sampai Januari, Februari, Maret 2017,” katanya.

Nasir memaparkan, pesawat N219 amat cocok untuk kondisi geografis Indonesia sehingga dapat menjadi penghubung daerah-daerah di berbagai pelosok Nusantara. Pesawat itu hanya membutuhkan landasan pacu sepanjang 550 meter.

Direncanakan, N219 dijual seharga 5,8 juta dollar AS per unit. Itu berarti, harga pesawat buatan dalam negeri itu lebih murah daripada pesawat sekelasnya buatan Tiongkok, Brasil, ataupun Kanada yang harganya berkisar 7 juta dollar AS.

Berbagai inovasi hasil riset akan dipamerkan pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-21, 10 Agustus, di Solo. Pihaknya berharap berbagai inovasi dapat dilahirkan dari daerah-daerah di Indonesia.

Menurut Direktur Sistem Inovasi Kemristek dan Dikti Ophir Sumule, peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-21 diselenggarakan dalam rangka menunjukkan keberhasilan dan prestasi hasil inovasi bidang iptek. Hal itu sekaligus untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi hasil-hasil inovasi bidang iptek. (RWN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Agustus 2016, di halaman 13 dengan judul “Inovasi Mendorong Daya Saing”.