Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti

28 October 2016 oleh Sucipto Hadi Purnomo

Saat konferensi pers soal pemilihan rektor, Rabu 26 Oktober 2016 di Gedung BPPT II Jakarta, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir mendapatkan pertanyaan dari sejumlah awak media. Berikut kutipannya.

Sekarang penanganan dugaan pelanggaran pemilihan rektor seperti apa?Apakah sudah ada keputusan atau masih bersama KPK masih menyelidiki pelanggarannya apa saja?

Sampai sekarang saya belum ketemu KPK(Ketua KPK Agus Raharjo –Red). Telepon maupun SMS belum dijawab. Saya ingin ini betul-betul berjalan dengan baik. Saya tidak mau Kemenristekdikti dalam pemilihan ini ada masalah. Selalu saya sampaikan, harus clear, jangan sampai ada dusta diantara kita.

Soal tim sukses dalam pemilihan rektor, yang dimaksud siapa?

Timsuksesnya, saya sendiri tidak tahu. Namun pengalaman sebagai calon rektor di Undip sebelum menjadi menteri, saat pemilihan banyak yang menunjuk tim sukses, tetapi saya tidak. Saya hanya ingin menyampaikan visi misi sebagai calon rektor, dan dalam pemilihan mencapai 71% sudah termasuk suara menteri.

Apakah bisa pemilihan rektor digelar secara online?

Akan kami pikirkan mekanismenya, karena anggotanya tidak terlalu banyak.

Di Kementerian Agama, supaya tidak terjadi kubu-kubuan di kampus, mereka melakukan hanya sampai penyaringan, dan menteri mempunyai hak memilih 100%. Apakah Kemenristekdikti bisa menggunakan cara ini juga?

Dalam hal ini, saya ingin bicara dengan KSN, Kementerian Ristek Dikti, dan KPK. Saya ingin membicarakan, apakah kembali ke 100% pemilihan ke Kementerian atau 35% itu dikurangi. Terus terang, dalam hal ini saya mencari bentuk yang lebih baik,

Saya ingin dikawal supaya lebih baik. Jangan sampai ada dusta d iantara kita. Harus transparan betul. Tiga puluh lima persen di menteri itu dianggap terlalu kecil. Atau bagaimana, seperti di Kemenag itu 100 persen supaya di perguruan tinggi tak ada gaduh?

Selama 2015 hingga 2016, sudah berapa kali pemilihan rektor, yang bermasalah ada berapa?

Banyak, saya tidak hafal, mencapai puluhan. Namun yang bermasalah Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Manado (Unima), Universitas Halu Oleo (UHO), dan menyusul nanti Musamus.

Saya ingin diperguruan tinggi itu tidak elektif tetapi selektif.

Keberadaan timsukses sebetulnya hanya dugaan Kemenristekdikti atau sudah ada temuan? Bagaimana pula solusi Kemenristekdikti? Apakah tim ini menentukan mekanisme pemilihan?

Soal timses, ada laporan yang kami terima. Saya sendiri tidak tahu. Pengalaman saya nyalon rektor, saya lakukan sendiri.Timses tidak pernah muncul dilapangan.

Ada kabar KPK sudah masuk dalam aspek pidana. Tanggapan Anda?

Terus terang saya belum tahu, dan masalahnya juga belum tahu.