PPG Jadi Saringan Calon Guru

LPTK Penyelenggara Dipersyaratkan Akreditasi A, Tersedia Asrama, dan Laboratorium

24 November 2016

JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan Profesi Guru menjadi benteng terakhir untuk menyaring calon guru berkualitas. Karena itu, lembaga pendidik tenaga kependidikan yang ditetapkan sebagai penyelenggara pendidikan profesi pun mempertaruhkan mutu disertai sejumlah syarat.

Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun dengan pola berasrama diikuti sarjana kependidikan dan nonkependidikan. Sampai tahun ini, peserta PPG di lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) yang ditetapkan pemerintah merupakan alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T).

Wakil Ketua Asosiasi LPTK Swasta Indonesia Suyatno, Rabu (23/11), di Jakarta, mengatakan, penyelenggara LPTK negeri dan swasta digandeng dalam konsorsium pendidikan guru untuk menyusun standar PPG. “Penyusunannya harus sangat berhati-hati. Sebab, PPG ini saringan terakhir untuk menghasilkan guru yang berkualitas,” kata Suyatno yang juga Rektor Universitas Prof Dr Hamka, Jakarta.

Menurut Suyatno, tidak sampai 50 persen dari 380 LPTK swasta yang berkualitas baik. Namun, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tetap memberikan kesempatan kepada LPTK swasta yang mampu memenuhi syarat untuk menjadi penyelenggara PPG. Saat ini, ada hibah untuk penguatan LPTK negeri dan swasta.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Joko Nurkamto mengatakan, penyelenggara PPG harus dibatasi untuk menjamin kualitas. “Kami sudah menginjak tahun ke-4 ditunjuk melaksanakan PPG untuk alumni SM3T dan PPG Terintegrasi,” ujar Joko.

Menurut Joko, UNS memiliki asrama. Namun, untuk PPG berasrama yang lebih sesuai tujuan mencetak guru profesional berkarakter, butuh dukungan untuk merevitalisasi asrama di kampus yang lebih memadai.

Harus cermat

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab mengatakan, pemerintah pusat harus menghitung betul kebutuhan guru. Pemenuhan guru bersertifikat profesional jangan hanya fokus untuk daerah 3T, tetapi juga kebutuhan di perkotaan yang menghadapi masalah guru-guru pensiun.

Sementara itu, terkait penyiapan guru Agama Islam, Amsal Bachtiar, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama mengatakan, hanya ada tiga universitas Islam negeri (UIN) yang layak sebagai penyelenggara PPG. Ketiga UIN itu adalah UIN Yogyakarta, UIN Malang, dan UIN Jakarta. Ketiganya memiliki asrama dan berakreditasi A.

Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Ristek dan Dikti, mengatakan, calon guru disiapkan sesuai kuota. Setelah PPG, peserta menjalani magang satu tahun, lalu ikut ujian tulis nasional secara online. Mereka yang lulus akan masuk dalam bank calon guru Kemdikbud.

Sejumlah syarat

Menurut Paristiyanti, pihaknya mendukung penguatan 70 LPTK negeri/swasta, termasuk 12 eks IKIP negeri. Nanti akan ada seleksi lagi untuk menyaring LPTK yang akan ditetapkan sebagai penyelenggara PPG.

Syarat untuk ditetapkan sebagai PPG, antara lain, institusinya berakreditasi A dan 50 persen program studi berakreditasi A, memiliki asrama, serta sekolah laboratorium atau sekolah mitra. Saat ini, dari 12 LPTK eks IKIP negeri, baru dua yang akreditasi institusinya A, yakni Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Negeri Malang.

Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Negeri Jakarta mengatakan bahwa tidak boleh ada dikotomi antara LPTK negeri dan swasta. Sebab, setiap LPTK mengacu pada standar nasional.

“Saat ini, Standar Pendidikan Nasional Guru masih dalam tahap penyelesaian,” katanya. Kelak, standar tersebut mencakup kriteria kompetensi guru untuk setiap bidang dan jenjang.

Totok mengatakan, standar yang diberlakukan kepada LPTK adalah pada level guru pemula. Pasalnya, para calon guru setelah menempuh program SM3T harus melanjutkan pendidikan melalui PPG.

Adapun calon guru yang baru lulus dari LPTK hanya bisa mengikuti PPG apabila mereka lolos seleksi. “Jadi, orang-orang yang lolos PPG harus dipastikan siap lahir-batin untuk mendidik siswa di sekolah,” ujar Totok.

(ELN/DNE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 November 2016, di halaman 12 dengan judul “PPG Jadi Saringan Calon Guru”.

Baca juga :

15 Perguruan Tinggi Jadi Penyelenggara Program Sertifikasi Profesi Guru

Pendidikan Profesi Guru Diperketat

Kuota Calon Guru Ditetapkan