Pemerintah Naikkan Anggaran Inovasi Tahun 2017
Komersialisasi Hasil Riset Masih Tidak Mudah

Menristekdikti Muhammad Nasir

24 Januari 2017

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menaikkan alokasi anggaran untuk memfasilitasi inovasi agar hasil riset digunakan dunia usaha. Fasilitasi dibutuhkan karena masih ada jurang antara peneliti di lembaga riset dan perguruan tinggi dengan industri.

“Jika tak ada proses lebih lanjut, apalagi anggaran, biasanya hasil riset tidak sampai industri,” kata Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristek dan Dikti Jumain Appe di Jakarta, Senin (23/1). Menjembatani kelemahan dari sisi pelaku riset dan pengusaha, dibutuhkan intermediasi serta dukungan kebijakan, bisnis, pengelolaan hak kekayaan intelektual, dan pendanaan.

Dari dunia riset, kelemahannya ialah masih rendahnya jumlah pelaku riset (1.071 orang per sejuta penduduk), produktivitas (dua jurnal per 100 peneliti), dan pengetahuan peneliti tentang kebutuhan industri. Kelemahan dunia usaha ialah industri kurang tahu hasil riset lembaga penelitian dan universitas, kurangnya minat industri pada riset dan pengembangan, serta rendahnya kualifikasi tenaga kerja (58,5 persen tamatan SD-SMP).

Kepala Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nurul Taufiqu Rochman menambahkan, proses bakal lebih panjang jika menargetkan ada pasar bagi produk berbasis teknologi hasil riset. “Kami harus membuat contoh produk, uji coba, hingga menyesuaikan permintaan industri,” ujarnya.

Untuk itu, Kemristek dan Dikti menyiapkan anggaran agar hasil riset memberi nilai tambah produk industri. Tahun 2017, Kemristek dan Dikti menyediakan Rp 180 miliar untuk inovasi 100 produk oleh usaha rintisan berbasis teknologi, Rp 40 miliar untuk penguatan inovasi industri melalui hilirisasi 40 hasil riset lembaga riset pemerintah, dan Rp 110 miliar untuk hilirisasi 20 hasil riset perguruan tinggi (PT).

Dana itu lebih tinggi dari alokasi tahun lalu, yaitu Rp 75 miliar untuk inovasi sekitar 150 produk oleh usaha rintisan, Rp 32 miliar untuk penguatan inovasi industri lewat hilirisasi 35 hasil riset lembaga riset, dan Rp 65 miliar untuk hilirisasi tujuh produk PT.

Produk yang setidaknya sudah sampai tahap uji coba produksi oleh industri adalah sekitar 40 produk dari usaha rintisan dan 15 produk lembaga riset. Proses inovasi produk riset dari lima perguruan tinggi terus berlanjut bersama perusahaan mitra masing-masing. Selain itu, terdapat program inovasi dari tahun 2016 yang kembali didanai pada 2017.

Jumain mencontohkan, Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengalihteknologikan implan tulang dari baja tahan karat bersama PT Zenith Almart.

Sementara itu, Kemristek dan Dikti tahun ini tidak mendanai lagi inovasi padi IPB 3S oleh Institut Pertanian Bogor karena sudah mandiri dengan usaha rintisan yang didirikan.

Kesiapan komersialisasi

Nurul menuturkan, untuk komersialisasi hasil riset, lembaganya mendapat anggaran dari alokasi program kawasan sains dan teknologi (STP) sejak 2015. Anggaran komersialisasi riset 2015 mencapai Rp 9 miliar, tahun 2016 senilai Rp 2,5 miliar, dan tahun ini diperkirakan Rp 2 miliar.

Dari sekitar 500 paten peneliti LIPI, Pusat Inovasi memilih 20 paten paling potensial ditawarkan ke industri. “Kami targetkan tahun ini ada lisensi 15-16 paten atau mendekati 80 persen dari 20 paket teknologi,” katanya.

Sulitnya komersialisasi riset mendorong mahasiswa Program Doktor Jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Nur Abdillah Siddiq, bersama rekan mendirikan usaha rintisan: Risetkita.id. Perusahaan menyediakan wadah bagi peneliti untuk mengajukan proposal riset agar mendapat dana serta bagi industri untuk mengadakan sayembara guna mencari proposal riset yang bisa menjawab permasalahan tertentu. (JOG)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Pemerintah Naikkan Anggaran Inovasi”.