Jurnal Ilmiah Bisa Petakan PT

Screenshot_374
Kampus Terbaik versi Kemenristekdikti 2016

Sejumlah Parameter Riset Menjadi Acuan

11 Maret 2017

JAKARTA, KOMPAS — Pemetaan perguruan tinggi bisa dilakukan dengan melihat potensi yang sudah dimiliki tiap-tiap institusi. Perguruan tinggi yang memiliki banyak makalah ilmiah di jurnal internasional dan nasional terakreditasi dapat dikategorikan memiliki kekuatan dalam penelitian.

Hal itu dikemukakan pengamat pendidikan tinggi Djoko Santoso di Jakarta, Jumat (10/3). Djoko dimintai tanggapan terkait wacana perlunya pemetaan potensi perguruan tinggi (PT) berdasarkan keunggulan masing-masing.

Sebelumnya, mencuat wacana agar tidak semua perguruan tinggi harus diarahkan berbasis riset jika sumber dayanya memang tidak mendukung. Pemerintah didorong memetakan perguruan tinggi agar dapat terpilah dalam tiga kelompok, yakni pengajaran, riset, atau kewirausahaan (Kompas, 10/3).

Djoko menyebutkan, pemerintah dapat menempuh beberapa skema. Misalnya, jika mengacu pada data Kementerian Ketenagakerjaan, dan jumlah lulusan suatu perguruan tinggi cepat terserap di bursa ketenagakerjaan, itu tandanya perguruan tinggi tersebut unggul di vokasi. Lihat pula apabila perguruan tinggi produktif menghasilkan produk.

Skema lain, lanjut Djoko, ialah pemerintah menunjuk perguruan tinggi tertentu untuk mengampu satu bidang, misalnya Institut Teknologi Sepuluh Nopember sebagai salah satu poros pendidikan dan penelitian kelautan. “Pemerintah harus menyokong perguruan tinggi yang ditunjuk dengan sarana dan prasarana memadai,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ocky Karna Rajasa mengatakan, perguruan tinggi bisa membentuk konsorsium untuk melakukan penelitian. Hal ini memungkinkan para pengajar di perguruan tinggi untuk melakukan penelitian dan pengembangan meskipun sarana dan prasarana di lembaga tempat mereka mengajar belum sepenuhnya memadai.

Menurut dia, pendanaan riset bisa dilakukan melalui konsorsium, yaitu kerja sama antarperguruan tinggi untuk meneliti ataupun mengembangkan topik permasalahan tertentu.

“Sejak tahun 2016 sudah dilakukan pemetaan riset perguruan tinggi dengan menggunakan delapan parameter,” ujarnya.

Kelak akan tersaring sepuluh perguruan tinggi terbaik dalam tiap-tiap bidang prioritas. Bidang-bidang tersebut, antara lain, adalah sosio-humaniora, kelautan, pertanian dan ketahanan pangan, serta energi terbarukan.

Universitas baru

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengingatkan, perguruan tinggi yang baru terbentuk harus menaati semua peraturan yang berlaku. Jika ada perguruan tinggi yang melanggar aturan, pemerintah tak segan bertindak tegas. “Kalau ingin menjadi perguruan tinggi yang berkualitas, ya, jangan melanggar aturan yang berlaku,” kata Nasir saat berpidato dalam peresmian Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Jumat.

Menurut Nasir, tahun lalu, Kemristek dan Dikti melakukan pembinaan terhadap 243 perguruan tinggi yang bermasalah. Dari jumlah itu, 140 perguruan tinggi akhirnya ditutup karena tidak dapat dibenahi lagi, sementara untuk sisanya dilakukan pembinaan lebih lanjut. “Dari 243 (perguruan tinggi) yang kami bina, 140 perguruan tinggi sudah kami tutup, sementara yang 103 perguruan tinggi kami bina (lebih lanjut),” ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menyatakan, kehadiran UNU Yogyakarta diharapkan bisa ikut menyebarkan paham Islam yang moderat yang selama ini diusung NU.

Ketua Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta Nizar Ali mengatakan, saat ini UNU Yogyakarta memiliki lima fakultas, yakni Dirasah Islamiyah, Teknologi Informasi, Industri Halal, Ekonomi, dan Pendidikan. (DNE/ELN/HRS)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Maret 2017, di halaman 12 dengan judul “Jurnal Ilmiah Bisa Petakan PT”.

Baca juga :

Petakan Potensi Kampus: Tak Semua PT Harus Berbasis Riset