Berbagai fakta menunjukkan bahwa menarik perhatian audiens ketika Anda melakukan presentasi bisa jadi merupakan hal yang tidak mudah untuk Anda lakukan.

Chelsi Nakano (2016) mengatakan ada suatu survei yang dilakukan oleh Prezi yang bekerja sama dengan Harris Poll, salah satu barometer opini publik yang berjalan paling lama dan paling terkemuka di Amerika Serikat, dan penulis terlaris dan pelatih eksekutif Carmine Gallo yang ditujukan untuk mempelajari tentang peran yang dimainkan oleh presentasi dalam kehidupan  profesional.

Survei tersebut dilakukan kepada lebih dari 2.000 orang di Amerika Serikat tentang bagaimana perasaan mereka mengenai presentasi di tempat kerja. Beberapa jawaban mereka sangat mengejutkan.

Hampir setengah dari responden mengaku melakukan sesuatu selain mendengarkan presentasi rekan kerja. Jawaban populer termasuk mengirim pesan teks (28 %), memeriksa email (27 %), menjelajahi internet (19 %) dan tertidur (17 %).

Matt Abrahams (2013), seorang Professor bidang komunikasi dari Stanford University,  dalam tulisannya yang berjudul From Monologue to Dialogue : Adding Interaction to Your Presentation mengatakan bahwa kurangnya interaksi dengan audiens selama presentasi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan presenter untuk secara efektif mengundang audiensnya untuk berpartisipasi. Bukan terletak pada sikap diamnya audiens.

Berita baiknya, Anda dapat menerapkan presentasi 2.0.

Presentasi 2.0 merupakan presentasi yang memberi audiens banyak peluang untuk interaksi yang terstruktur.

Dalam prakteknya, presentasi 2.0 adalah tentang menciptakan jeda yang memungkinkan interaksi yang terstruktur setelah setiap potongan konten (chunking) yang Anda sampaikan dan memungkinkan audiens Anda untuk memikirkan dan menanggapi apa yang Anda jelaskan tersebut.

Presentasi 2.0 dapat diterapkan baik untuk presentasi virtual maupun tatap muka.

Pertanyaannya bagaimana menerapkan presentasi 2.0 ?

Pendekatan ide pembelajaran aktif yang dibuat oleh Fink (2003) dapat digunakan untuk menerapkan presentasi 2.0. Fink (2003) dalam bukunya Creating Significant Learning Experiences: An Integrated Approach to Designing College Courses menyebutkan bahwa pembelajaran aktif melibatkan 3 komponen berikut, yaitu : informasi dan gagasan; pengalaman, dan refleksi.

Sejatinya, pembelajaran aktif tersebut intinya adalah meminta audiens (mahasiswa) anda untuk melakukan sesuatu dan meminta mereka berpikir apa yang Anda sampaikan dan mereka kerjakan.

Berdasarkan 3 komponen tersebut, ada 3 cara jitu melibatkan partisipasi audiens yang didasarkan pada tujuan presentasi yang ingin dicapai.

Mari kita jelajahi 3 cara jitu tersebut.

Cara Jitu # 1 : Meminta audiens menemukan informasi dan ide terkait dengan konten yang anda sampaikan.

Untuk meminta audiens Anda menemukan informasi dan ide terkait dengan konten yang Anda sampaikan, maka Anda dapat menyuguhkan video dalam presentasi Anda.

Anda tidak harus menjadi satu-satunya yang berbicara selama presentasi Anda. Sematkan video ke salah satu slide Anda untuk memberikan pendapat lain atau bahkan hanya untuk menambahkan jeda bagi audiens Anda selama presentasi yang Anda berikan. Memasukan video dalam presentasi Anda dapat memberikan cara lain yang berbeda bagi audiens Anda dalam mengkonsumsi konten Anda.

Cara Jitu # 2 : Melibatkan audiens terkait informasi dan ide yang disampaikan.

Anda dapat menyampaikan sebuah pertanyaan tertentu untuk didiskusikan. Anda dapat membagi audiens menjadi kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan solusi dari pertanyaan tersebut atau meminta mereka mendiskusikannya dengan tetangga mereka.

Anda dapat menggunakan strategi think-pair-share.

Dalam menggunakan strategi ini, Anda dapat mengajukan masalah atau pertanyaan singkat kepada audiens Anda dan memberi mereka waktu dan kesempatan untuk melakukan langkah-langkah berikut :

  • Pikirkan masalah atau pertanyaan secara individual.
  • Pasangkan dengan peserta lainnya untuk berdiskusi.
  • Minta bagikan temuan atau takeaways mereka dengan anggota audiens lainnya.

Strategi ini tidak hanya memberi audiens Anda waktu untuk memproses dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri terlebih dahulu, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk berkonsultasi dan berkolaborasi dengan rekan kerja.

Jika Anda melakukan presentasi virtual, maka Anda dapat menggunakan fitur yang ada di aplikasi video konferensi. Dalam aplikasi Zoom, misalnya, Anda dapat menggunakan fitur breakout room.

Breakout Room berfungsi dengan baik untuk berkolaborasi dan mendiskusikan topik tertentu dari presentasi yang Anda sampaikan. Setelah berdiskusi di Breakout Room, misalnya, satu anggota grup dapat membagikan temuan atau ide grupnya kepada peserta lainnya.

Selain itu, untuk melibatkan audiens terkait dengan informasi dan ide yang Anda sampaikan, maka Anda dapat meminta audiens untuk melakukan sesuatu. Baiknya, Anda memberikan semacam penjelasan langkah demi langkah bagaimana melakukan hal tersebut. Hal ini tentu akan membuat audiens Anda terlibat dengan presentasi yang Anda sampaikan.

Cara Jitu # 3 : Merefleksikan informasi dan ide yang disampaikan.

Untuk merefleksikan informasi dan ide yang Anda sampaikan, maka Anda dapat melakukan jajak pendapat (polls) yang relevan dengan konten presentasi Anda.

Beri audiens Anda beberapa pilihan jawaban dari suatu pertanyaan terkait dengan konten yang Anda sampaikan. Minta mereka untuk mengangkat tangan untuk menyampaikan jawaban mereka.

Jika Anda melakukan presentasi virtual, maka Anda dapat menggunakan, misalnya, fitur polls yang ada di aplikasi Zoom. Anda dapat meminta audiens Anda untuk memasukkan jawaban mereka melalui aplikasi tersebut dan menyaksikan hasilnya langsung di layar mereka masing-masing.

Jeda kecil ini dapat membuat konten presentasi Anda tetap dinamis sambil memberi semua orang kesempatan untuk berpartisipasi dan fokus kembali.

Demikianlah, 3 cara jitu menerapkan presentasi 2.0 yang dapat membuat audiens Anda makin senang dengan Anda. Pertama, meminta audiens menemukan informasi dan ide terkait dengan konten yang anda sampaikan. Kedua, melibatkan audiens terkait informasi dan ide yang disampaikan. Ketiga, merefleksikan informasi dan ide yang disampaikan.

Jelas, presentasi itu penting baik bagi Anda sebagai pemimpin bisnis & pemerintahan, dosen, mahasiswa, trainer maupun presenter dalam menjalankan aktivitasnya. Seperti dikatakan Carmine Gallo (2015) dalam tulisannya yang berjudul Why Your Next Presentation Will be Compared to a TED Talk menjelaskan bahwa “di era informasi, ekonomi pengetahuan, Anda sama berharganya dengan gagasan yang harus Anda bagikan.”

Gaya pasif penyampaian informasi satu arah yang sudah berusia seabad mesti ditinggalkan. Gunakan gaya presentasi 2.0 yang memberikan penekanan pada interaksi dengan audiens Anda, sehingga memberikan dampak yang mengesankan bagi mereka.

Apabila Anda menilai tulisan ini bermanfaat dan Anda ingin mendapatkan tulisan atau konten lainnya tentang presentasi/komunikasi secara rutin, maka Anda dapat mengirimkan nama Anda dan pesan “ingin mendapatkan konten presentasi/komunikasi secara rutin” ke Erry Ricardo Nurzal dengan no WA : 0813-1836-1753 dan simpan no WA saya di HP Anda.

Selain itu, mohon kiranya tulisan ini dapat disebarkan ke kontak WhatsApp (WA) Anda atau Grup WA yang Anda ikuti, agar semakin banyak orang yang mendapatkan manfaatnya.

Sharing knowledge for a better presentation/communication.

Sumber :

https://erry-ricardo.com/2020/08/03/3-cara-jitu-menerapkan-presentasi-2-0-yang-membuat-audiens-makin-menyenangi-anda/#.Xy