Cole (2015) yang menulis buku “Storytelling with Data : a Data Visualization Guide for Business Professionals” menyampaikan bahwa grafik yang jelek bertebaran dimana-mana.

Salah satu contohnya yang dapat Anda lihat pada slide di bawah ini.

Jika Anda melihat grafik di atas, maka Anda akan sulit untuk memahami apa makna grafik di atas. Grafik tersebut hanya sekedar menampilkan data. Tidak memberikan sebuah informasi yang diharapkan mampu untuk menggerakkan seseorang, utamanya pengambil keputusan.

Slide di atas yang disajikan kepada audiens tidak mampu menjadi “sesuatu yang dicari” dan menguatkan pesan yang ingin disampaikan.

Anda mungkin banyak menemukan slide seperti di atas dalam aktivitas yang Anda jalankan sehari-hari. Apakah Anda sebagai dosen, mahasiswa, analis, pegawai pemerintah atau swasta.

Anda tentu tidak ingin menyajikan grafik yang buruk seperti itu. Tetapi, hal itu sering terjadi. Lagi dan lagi di setiap kantor, perguruan tinggi, perusahaan, industri dan oleh semua jenis orang. Hal itu juga terjadi di media. Tambahan pula, hal itu terjadi di tempat dimana Anda mengharapkan orang tahu lebih baik untuk menyajikan data menjadi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan.

Pertanyaannya adalah kenapa hal itu bisa terjadi ?

Cole (2015) menyebutkan bahwa hal itu terjadi, karena kita secara alami tidak pandai dalam bercerita dengan data.

Di sekolah, kita belajar banyak tentang bahasa dan matematika. Pada sisi bahasa, kita belajar bagaimana merangkai kata menjadi kalimat dan cerita. Sedangkan, dengan matematika, kita belajar memahami angka.

Tapi, jarang sekali aspek bahasa dan matematika secara bersama-sama kita kuasai. Tidak ada orang yang mengajari kita cara bercerita dengan angka. Semakin menambah tantangan yang kita hadapi adalah sangat sedikit orang yang mahir secara alami pada aspek bahasa dan matematika secara bersamaan.

Kurangnya ketrampilan ini membuat kita kurang siap untuk mengerjakan tugas penting dalam menyajikan data secara efektif. Teknologi yang kita miliki telah memungkinkan kita untuk mengumpulkan data dalam jumlah yang lebih besar dan banyak.

Keinginan yang berkembang untuk memahami semua data ini, sehingga kemampuan memvisualisasikan data dan menceritakan kisahnya adalah kunci untuk mengubahnya menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendorong pengambilan keputusan yang lebih baik.

Dengan tidak adanya keterampilan atau pelatihan dalam bidang ini, maka kita sering kali akhirnya mengandalkan alat yang kita gunakan seperti Excel untuk memahami praktik terbaik. Kemajuan teknologi, selain meningkatkan jumlah dan akses ke data, juga membuat alat bekerja dengan data.

Hampir semua orang dapat memasukkan beberapa data ke dalam aplikasi grafik, misalnya Excel dan membuat grafik.

Dan yang menakutkan, karena tanpa arah yang jelas untuk diikuti, maka niat dan upaya terbaik kita dapat membawa kita ke beberapa arah yang sangat buruk seperti : warna tampilan data yang tidak memiliki makna.

Sementara teknologi telah meningkatkan akses dan kemahiran agar alat yang kita gunakan dapat bekerja dengan data, namun masih ada kesenjangan dalam hal kemampuan. Anda dapat memasukkan beberapa data ke dalam Excel dan membuat grafik. Namun, bagi banyak orang, proses visualisasi data berakhir disana.

Hal ini dapat membuat cerita yang paling menarik benar-benar mengecewakan atau lebih buruk lagi sulit atau tidak mungkin untuk dipahami. Alat yang kita gunakan untuk mengolah data  tidak mampu menceritakan data tersebut.

Sesungguhnya, ada cerita di dalam data yang Anda miliki. Akan tetapi, alat pengolah data yang Anda gunakan tidak tahu apa cerita itu. Di situlah Anda sebagai analis atau komunikator informasi harus berupaya untuk menghidupkan cerita itu secara visual dan kontekstual.

Proses menghidupkan cerita secara visual dan kontekstual itulah yang menjadi fokus untuk Anda kuasai keahliannya.

Berikut ini adalah contoh slide (sebelum) dan (sesudah) yang dapat memberikan gambaran kepada Anda apa yang perlu Anda pelajari.

Slide (sebelum) di bawah ini hanya menunjukan data.

Sementara itu, slide (sesudah) di bawah ini bercerita dengan data.

Jika Anda perhatikan slide (sesudah) di atas, maka ada insight yang disajikan, yaitu “ada 2 karyawan yang berhenti pada bulan Mei. Kita hanya dapat menyelesaikan jumlah tiket yang masuk dalam dua bulan berikutnya, tetapi tidak mampu menyelesaikannya dengan peningkatan di bulan Agustus dan tidak dapat mengatasinya sejak saat itu”. Disamping itu, judul slide nya pun lebih menggerakan audiens untuk bertindak yang didukung oleh data yang disajikan dan insight yang dipaparkan.

Pelajaran yang Anda dapat Anda petik dari dua slide di atas—slide (sebelum) dan slide (sesudah) adalah Anda dapat merubah dari hanya menunjukan data menjadi bercerita dengan data.

Cole (2015) menjelaskan bahwa ada enam pelajaran yang perlu Anda perhatikan untuk bercerita dengan data.

Pelajaran # 1 : Memahami Konteks

Sebelum Anda memulai visualisasi, ada 3 pertanyaan yang mesti Anda jawab. Pertama, kepada siapa Anda ingin mengkomunikasikan data Anda. Kedua, bagaimana Anda mengkomunikasikannya. Ketiga, apa yang audiens Anda perlu ketahui dan lakukan. Selain itu, menerapkan konsep seperti : tiga menit cerita, ide besar (big idea), dan storyboarding juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan untuk mengartikulasikan cerita Anda dan merencanakan pesan dan alur yang diinginkan.

Pelajaran # 2 : Memilih Tampilan Visual Yang Tepat

Apa cara terbaik untuk menunjukkan data yang Anda ingin komunikasikan ? Cole (2015) memperkenalkan tipe visual yang paling banyak digunakan untuk mengkomunikasikan data dalam tataran bisnis. Jenis visual spesifik yang diperkenalkan mencakup : teks yang sederhana, tabel, heatmap, grafik garis, slopegraph, diagram batang vertikal, diagram batang bertumpuk vertikal, waterfall chart, diagram batang horisonal, diagram batang bertumpuk horisontal dan square area graph. Disamping itu, Cole (2015) juga menjelaskan tampilan visual yang perlu dihindari seperti diagram lingkaran, diagram donat dan tiga dimensi.

Pelajaran # 3 : Menghilangkan Tampilan Yang Mengacaukan

Setiap elemen yang Anda tambahkan ke dalam slide akan mengambil beban kognitif (usaha mental yang harus dilakukan dalam memori Anda untuk memproses informasi yang diterima pada selang waktu tertentu) bagi audiens Anda. Itu berarti Anda harus memperhatikan dengan cermat elemen-elemen yang Anda perlu masukan ke dalam slide Anda. Anda perlu mengidentifikasi hal-hal yang dapat membebani otak audiens Anda untuk hal-hal yang mereka tidak perlu untuk memprosesnya.

Oleh karena itu, identifikasi dan hilangkan tampilan yang mengacaukan. Untuk itu, Anda perlu mengetahui Prinsip Gestalt dari Persepsi Visual dan bagaimana Anda dapat menerapkannya kepada tampilan visual seperti tabel dan grafik. Anda juga perlu mengetahui perataan (alignment), penggunaan white space, dan kontras sebagai komponen penting dari desain.

Pelajaran # 4 : Memfokuskan Perhatian Kemana Arah Yang Anda Inginkan

Mengetahui bagaimana orang melihat dan bagaimana Anda memanfaatkan hal itu sangat berguna ketika Anda membuat visualisasi. Untuk itu, Anda perlu mengetahui pembahasan mengenai pandangan dan memori yang dapat berguna untuk membingkai pentingnya atribut yang dapat mencari perhatian (preattentive attribute) seperti ukuran, warna dan posisi.

Atribut yang dapat mencari perhatian bisa digunakan secara strategik untuk membantu mengarahkan perhatian audiens Anda kemana Anda ingin mereka untuk berfokus. Selain itu, atribut yang dapat mencari perhatian bisa menciptakan hirarki visual untuk membantu mengarahkan audiens Anda melalui informasi yang Anda ingin komunikasikan dalam cara bagaimana Anda ingin mereka memprosesnya.

Pelajaran # 5 : Berpikir Seperti Seorang Designer

Bentuk mengikuti fungsi. Pepatah desain produk ini memiliki aplikasi yang jelas untuk komunikasi dengan data. Ketika masuk ke dalam bentuk dan fungsi untuk visualisasi data, maka pertama-tama kita perlu memikirkan apa yang kita ingin audiens kita dapat lakukan dengan data (fungsi) dan membuat visualisasi (bentuk) yang memungkinkan untuk melakukannya dengan mudah.

Terapkan keterjangkauan visual audiens Anda sebagai petunjuk untuk cara berinteraksi dengan komunikasi visual Anda seperti : soroti hal-hal yang penting, hilangkan gangguan, dan buat hierarki informasi visual. Jadikan desain Anda dapat dipahami dengan mudah dan manfaatkan teks untuk memberi label dan penjelasan. Tingkatkan toleransi audiens Anda terhadap masalah desain dengan membuat visual Anda menyenangkan secara estetika (keindahan). Bekerjalah untuk mendapatkan penerimaan audiens untuk desain visual Anda.

Pelajaran # 6 : Menjelaskan Sebuah Cerita

Konsep bercerita dapat Anda gunakan untuk mengkomunikasikan data. Buat cerita mulai dari awal (plot), tengah (twist), dan akhir yang jelas (ajakan untuk bertindak). Kerangka ini dapat Anda gunakan ketika Anda membangun presentasi bisnis. Manfaatkan konflik dan ketegangan untuk menarik dan mempertahankan perhatian audiens Anda. Pertimbangkan urutan dan cara menyampaikan narasi Anda.

Manfaatkan kekuatan pengulangan untuk membantu cerita Anda tetap diingat. Gunakan taktik seperti logika vertikal dan horisontal, storyboarding yang terbalik, dan cari perspektif baru untuk memastikan bahwa cerita Anda muncul dengan jelas dalam komunikasi Anda.

Demikianlah, 6 pelajaran bercerita dengan data yang dapat digunakan sebagai panduan bagi dosen, mahasiswa, analis dan pegawai pemerintah dan swasta untuk mengkomunikasikan data secara efektif.

Gunakanlah pelajaran tersebut untuk membuat cerita Anda jelas bagi audiens Anda. Bantu audiens Anda untuk menghasilkan pembuatan keputusan yang tepat dan motivasi audiens Anda untuk bertindak.

Anda jangan pernah lagi hanya menunjukan data. Akan tetapi, Anda harus menyajikan visualisasi data yang menghasilkan informasi yang mendorong audiens Anda untuk bertindak.

 

Sumber: https://erry-ricardo.com/2021/07/26/6-pelajaran-visualisasi-data-panduan-untuk-dosen-mahasiswa-analis-pegawai-pemerintah-dan-swasta-untuk-mengkomunikasikan-data-secara-efektif/#.YP-EZ44zaMp